Dian Nirmala
Dian Nirmala

Pemerhati kisah manusia dan menuangkannya dalam catatan.

Selanjutnya

Tutup

Edukasi Pilihan

Membangun Rasa Berharga

9 November 2018   11:52 Diperbarui: 9 November 2018   14:01 227 1 1

Pada akhir minggu lalu, saya pergi ke Pejaten Village dengan semangat dan bersukacita. Keponakan saya, yang berusia 3,5 tahun akan tampil di acara Kiddies Day Out, bersama teman-teman sekolahnya. 

Menjelang pukul 14, panggung sudah mulai siap, begitu juga dengan keramaian di sekitarnya. Siapa lagi, kalau bukan keluarga para bocah (pendukung setia, bukan?) dan juga ada pengunjung plaza yang tidak ada sangkut-paut hubungan darah atau kelekatan emosi dengan para bocah. Sementara di samping panggung, para bocah didampingi orang tua bersiap-siap dengan bengong yang khas anak-anak, dan para guru kerepotan berbahagia.

Menyaksikan anak-anak usia dini itu tampil di panggung adalah suatu hal yang membanggakan sekaligus mengharukan bagi saya. Bagaimana tidak? Mereka itu, berarti adalah anak-anak yang berani menampilkan diri di hadapan puluhan orang asing.  

Pertunjukan pertama ditampilkan oleh kelompok anak usia 4 dan 5 tahun, mempersembahkan marching band yang menggemaskan sekali. Dipimpin oleh ibu guru yang mengetukkan stik pada bellyra, alat inti yang menghasilkan melodi. Para anak yang lebih besar memegang alat musik lain, ada yang bertanggung jawab memukulkan snare drum, symbal, dan bass. Sementara anak yang lebih kecil memegang bendera dan memutar-mutarkan sesuai dengan contoh yang diberikan gurunya di hadapan mereka. Pertunjukan berjalan sangat lancar dan menghibur. Beberapa penonton mengarahkan kamera gawainya untuk mengabadikan pengalaman si anak atau untuk sekadar membagikan kegiatan harian si empunya gawai.  

Setelah tepukan riuh dan pembagian tas hadiah, para bocah meninggalkan panggung dengan tertib. Setelah panggung dikosongkan dari peralatan marching band, giliran kelompok usia  3 dan 4 tahun yang tampil. Saya bersiap, mencari posisi yang pas untuk mengambil gambar, memastikan kamera saya sudah dalam mode video, karena sebentar lagi keponakan saya akan tampil. Rupanya, pertunjukan oleh kelas kecil ini dibagi ke dalam dua penampilan, yang masing-masing grup terdiri dari 6-7 anak, dan keponakan saya tidak ada di grup pertama. Saya matikan kamera saya dan memilih untuk menonton saja.

Di atas panggung, seorang anak perempuan terus-menerus menangis sejak awal didampingi guru berdiri di atas panggung, kemudian ditinggalkan untuk berdiri bersama teman-teman grupnya, selama musik pengiring berlangsung, hingga selesai pertunjukan. Dia menangis tidak berhenti. Kalau kita memandang dari segi pelaksanaan acara secara profesional, pertunjukan yang ditampilkan oleh grup pertama itu tidaklah berjalan sebagaimana mestinya. Bagaimana tidak? Satu dari tujuh anak menangis terus, sementara enam lainnya bergeming tidak melakukan gerakan apapun selama musik berlangsung (mereka lebih nyaman bengong-bengong lucu, memandang kejauhan, melihat sekitar, atau memperhatikan gurunya yang sedang mati-matian membuat gerakan agar ditiru oleh mereka).

Tapi tentu tidaklah adil untuk kita memandang dari segi profesionalitas. Adanya panggung saat itu bukan untuk mengharuskan mereka tampil dengan sempurna. Urusan membawakan tarian dan gerakan sebagainya adalah pencapaian nomor sekian. Jauh sebelum mereka menjadi pribadi-pribadi profesional, mereka mesti berani berdiri di atas kaki sendiri. Maka pengalaman itulah yang coba diberikan oleh para guru dan orang tuanya. Bayangkan sebagai anak kecil, yang baru 3 tahun melihat dunia dengan samar, kemudian berdiri di atas panggung berhadapan dengan manusia-manusia besar. Tentu saja dengan mengacu pada usia anak yang masih dini, keragaman sifat anak, dan bagaimana anak dibesarkan, akan membuat dinamika pertunjukan yang berbeda-beda. Akan ada anak yang tenang karena terbiasa menjumpai orang di sekitar, ada anak yang mengantuk, ada anak yang takut, ada anak yang kebetulan suasana hatinya sedang buruk, dsb. Sementara orang tua dan guru saling membantu untuk membuatnya tenang, membujuknya untuk mengikuti gerakan, kemudian menggendong dan memeluk setelah pertunjukan usai.

Sambil menonton dan merekam, ada satu peristiwa yang mengusik hati saya. Penonton lain di sekitar saya. Beberapa dari mereka, yang saya lihat tiga orang, merekam penampilan sambil terus menertawakan si anak yang tangisnya semakin menjadi ketika pertunjukan sudah berjalan. Satu dari mereka melakukan zoom in pada layarnya, menyorot dengan jelas ekspresi wajahnya. Dia melakukan itu sambil menertawai dengan geli. Menertawai ya, bukan sekadar tertawa. "Gila, gila, gila, hahaa, kocak banget itu, nangis mulu! Mukanya kocak!" atau "Dih, ga berhenti-berhenti. Nangis doang mah ngapain di panggung. Hahahaha..." Saat itu saya merasa murka (berlebihan sih, jengkel, tepatnya).

Apakah itu sesuatu yang pantas dilakukan orang yang lebih dewasa? Tidakkah ada cara yang lebih patut mengomentari penampilan itu? Mungkin dengan diam dan berpikir?

Hai, orang asing. Menurut saya, itu bukan suatu hal yang lucu dan patut ditertawakan sambil mencemooh. Apa sih yang Anda dapatkan dari memperjelas tampilannya di layar gawai dan menertawainya? Kepuasan? Kalau Anda menjadi anak itu, akankah Anda tampil lebih baik? Saya kok malah tidak yakin ya. Bisa-bisa Anda adalah tipikal orang yang memilih untuk tidak ada di atas panggung daripada mendapat perlakukan dipermalukan gara-gara penampilan diri yang kurang baik.

Satu hal yang masih samar kemudian terlintas dalam benak saya, "jangan-jangan kita memang terlalu terbiasa untuk memaklumi tanpa membiasakan untuk menghargai."

Kita bisa memaklumi anak menangis karena mungkin masih kecil, masih takut, masih cemas, masih bingung apa yang harus dilakukan di hadapan orang banyak. Lalu kita merasa berhak untuk merasa lucu atas penampilan itu, boleh merasa senang di atas penderitaannya, dan boleh menjadikannya objek untuk merasa diri lebih baik. Tapi rasanya, mungkin, masih sulit buat kita menghargai anak menangis, menghargai keberanian untuk berdiri di atas dengan kaku dan bergetar, menghargai penolakan dan keengganannya untuk harus tampil saat itu. Apalagi jika posisi kita adalah sebagai orang asing.

Masih sulit buat kita menempatkan diri di atas kaki orang lain. Suatu keberuntungan bukan, anak yang menangis itu bukanlah anggota keluarga kita, sehingga dia memang layak ditertawakan. Bagaimana ketika anak yang menangis adalah anggota keluarga kita? Apakah kita melakukan hal yang sama, atau sebaliknya, ikut merasakan kepanikan, ada rasa malu juga karena diperhatikan publik, dan ada dorongan untuk menenangkannya?

Yaelah, Mba, serius banget! Gimanapun anak kan perlu merasakan kerasnya hidup. Apalagi kerasnya netijen. Justru nanti dia bakal jadi anak yang lemah, kalau baru diceng-cengin itu doang udah nangis. Lagian kita ngelakuin karena for fun aja kok. Mbanya aja kali sensi, ga bisa masuk sama joke macem gitu.

Dua poin: "ga bisa merasakan kelucuan yang sama" dan "tentang kerasnya hidup".
Pertama, saya memang ga menangkap ada hal lucu yang berlebihan dari situ, sehingga perlu mengeksploitasi anak untuk jadi bahan tertawaan. Boleh tertawa, saya juga senyum dan ketawa kok pada awalnya, tapi kemudian berhenti setelah menurut saya anak ini sudah terlalu lama menangis jeri. Boleh tertawa, tapi bukan menertawakan. Pahamilah konteksnya, mereka ada di situ bukan untuk menampilkan lawakan, tapi untuk belajar. Kedua, merasakan kerasnya hidup itu proses kita sepanjang hidup, sih. Yuk, mari bantu anak-anak kita tumbuh jadi generasi yang tahan banting, jadi anak yang resilien. Dasarnya adalah respek.

Kita gak wajib untuk bisa memahami kondisi seseorang secara psikologis, kalau bisa paham, syukur. Memang membutuhkan banyak pengetahuan (prior knowledge), banyak teori, banyak dinasihati, untuk bisa memaklumi. Tapi untuk bisa menghargai, kita butuh pengalaman dihargai. Bentuknya beragam sekali, seperti: bisa mendapatkan kesempatan untuk berekspresi, didengarkan saat menuangkan perasaan, ditanggapi pendapatnya, diladeni argumentasinya, diberikan ciuman, pelukan, atau elusan kepala, diterima rasa malunya, ditenangkan rasa panik dan takutnya, dan diajak tertawa bersama. Semakin banyak pengalaman dihargai, akan tumbuh skema dalam diri tentang rasa berharga, yang kemudian menjadi jangkar untuk menghargai orang lain.

Ini adalah tugas dalam bermasyarakat, yang artinya bukan hanya diserahkan pada orang tua atau guru, tapi juga masyarakat luas. Mudah-mudahan ke depan, kita dan generasi selanjutnya bisa menjadi orang-orang yang penuh dengan rasa berharga.