Mohon tunggu...
Oedin Only
Oedin Only Mohon Tunggu... Pemberdaya dan Petani

Berkeseharian dengan Desa dan Petani | Berutinitas dalam Pemberdayaan Penyuluh, Pelaku Utama dan Pelaku Usaha | Menyenangi Opini, Analisis dan Literasi | Ingin Berfocus Sebagai Penggiat Analisis Politik Ekonomi dan Kebijakan Pertanian Berkelas Global | Juara I Lomba Blog KPK 2012

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Penyuluh, Pertumbuhan dan Urgensi Pemakmur Bumi

25 Juli 2020   07:51 Diperbarui: 25 Juli 2020   07:47 41 5 1 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Penyuluh, Pertumbuhan dan Urgensi Pemakmur Bumi
Dok. pribadi

Istilah pertumbuhan menarik diperbincangkan.  Petani mengharapkan tanamannya tumbuh dengan baik dan sehat.  Peternak menghendaki peliharaannya tumbuh sesuai fase dan terpenuhi keperluannya untuk itu.  Pekebun mengingini tanaman yang dirawatnya tumbuh sampai batas yang menguntungkan dan diinginkan. Penyuluh diminta dan dikehendaki melalui upaya penyuluhannya dapat menumbuhkan kelembagaan petani.  Orang tua menghendaki putra putrinya tumbuh baik dan sehat.  Pengusaha menghendaki profit bisnis maupun omzetnya tumbuh dan berkembang.

Tokoh, organisatoris, politisi, ulama, bahkan pelaku kemaksiatan juga menghendaki tumbuh orang-orang yang mengikuti jejak mereka melalui proses rekrutmen dan kaderisasi.  Negara-negara berlomba mengupayakan dan mendandani opini agar ekonomi mereka tumbuh dalam batas yang menguntungkan.  Aktivis dan pejuang ide berusaha agar idenya tumbuh dan menjadi opini umum, menghendaki agar ide itu diadopsi, diamalkan dan diperjuangkan oleh mereka yang secara suka rela dengan kesadarannya menerima.

Banyak hal dan kondisi yang bisa dipadankan dengan kata tumbuh.  Konon tumbuh itu bisa dimaknai menghasilkan sesuatu yang baru, atau mencapai suatu kondisi yang disepakati.  Dalam konteks budidaya tumbuh ini berhubungan dengan hal yang dikehendaki dan tidak dikehendaki.  Petani menghendaki pertumbuhan tanamannya normal dan lancar, sedangkan dia tidak menghendaki pertumbuhan gulma yang punya peran sebagai pengambil unsur hara tanah, penghambat pertumbuhan tanaman budidaya, dan sebagai inang hama dan penyakit.

Mempredeksi pertumbuhan konon adalah keterampilan yang harus dimiliki oleh petani dan penyuluh, tentu prediksi ini harus memiliki basis pondasi berupa data, dan mendapatkan data perlu pengamatan, evaluasi dan analisa.  Konon banyak ekonomi negara di dunia morat marit selama pandemi covid, mereka berusaha mewujudkan target pertumbuhan ekonomi realistis.

Beberapa lembaga memprediksi pertumbuhan negeri kita 0 persen bahkan minus, kalimat ini terkesan biasa dan wajar angka nol dan minus tetap terlihat gagah karena di awali dengan kata pertumbuhan, padahal makna di balik kalimat itu begitu menakutkan dan mengancam.  Pertumbuhan nol itu artinya stagnan, pertumbuhan minus artinya mundur.

Pertumbuhan demikian tentu sangat merugikan bagi investor yang ingin investasi, bisa juga menguntungkan apabila investor dalam klausul investasinya mensyaratkan deal-deal yang emberi keuntungan bagi dirinya dalam bentuk selain bunga pinjaman tentunya.  Dalam pertumbuhan demikian juga negara berusaha menjamin agar ekonomi tetap berjalan normal, tapi disisi lain daya beli yang rendah, gulung tikar dan phk karyawan, pengangguran, dan belanja tidak produktif yang bongsor, belum lagi pembiayaan yang tak tepat sasaran membuat keuangan negara kelimpungan. 

Di tengah kondisi itu pengurangan subsidi dilakukan, pencetakan surat berharga untuk melego asset dijadikan opsi, investor dirayu-daru supaya mau datang dan tanam uang, bahkan pekerja asing diprioritaskan, padahal pribumi terus merintih akibat phk dan pengangguran. Seorang tokoh berujar bila di Quartal 3 maksudnya 4 bulan terakhir di tahun ini ekonomi gak naik-naik, beliau pesimis gak bisa lakukan apa-apa lagi.  Sedih ya ? Tapi diam bukan pilihan bijak ! Apalagi masa bodoh dengan keadaan!

Anda harus bertumbuh, anda harus kreatif, anda harus inovatif, kalau anda segini-gini saja anda akan kalah dan tertinggal.  Jangan salahkan bila yang menang dan terpilih adalah orang-orang yang bertalenta dan mampu beradaptasi dengan tuntutan kekinian.

Kalimat-kalimat ini seolah indah dan berpihak.  Padahal problemnya bukan disitu, problemnya adalah panggung pertarungan yang adil dan fear tak disediakan, kesempatan bertanding tak diberikan dengan alasan globalisasi pribumi dibiarkan babak belur sendiri, dan keadaan itu diperparah dengan hardikan, salah sendiri tak siap berkompetisi.  Pertanyaannya dimana proteksi pada kesempatan bertanding yang tidak ada dan arena pertandingan yang tidak adil ?

Setidaknya harus terus ditumbuhkan kesadaran, bahwa problem ini tak akan pernah usai, bila yang difocuskan hanya problem-problem cabang dan kulit saja. Bukan tak penting menyelesaikannya.  Tapi problem cabang dan kulit akan berulang dn bermutasi karena problem utamanya ada di akar.

Selama  pengaturan urusan dipercayahakan pada fashluddin 'anil hayah (pemisahan agama dari kehidupan/sekularisme) maka problem dimensional di segala lini akan terus diproduksi dan didaur ulang.  Disinilah urgensi Islam menggantikan dan memerankan akar yang kokoh, kuat dan sehat menggantikan dominasi sekularisme yang menjalar dan menyengsarakan umat manusia.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x