Media Artikel Utama

Tentang Gambaran Jurnalisme di Masa Depan

12 Februari 2018   08:19 Diperbarui: 12 Februari 2018   19:00 1245 12 5
Tentang Gambaran Jurnalisme di Masa Depan
Ilustrasi. Macleay Newsroom.

Sebagai pembuka, alangkah lebih baik jika pembaca sekalian mendengarkan podcast, supaya ada sedikit gambaran tentang apa yang hendak saya sampaikan.

Beberapa waktu yang lalu, ketika kami sedang dalam proses belajar mengajar, seorang teman bertanya pada dosen yang kebetulan mengampu mata kuliah multimedia. Pertanyaanya seputar masa depan, lumayan berat karena ini menyangkut ladang pekerjaan kami. Dia bertanya seputar masa depan profesi jurnalis di masa depan. Kurang lebih tentang kompetensi dan nasib jurnalis di masa depan.

Sebagai dosen yang telah lama lalu lalang di dunia perjurnalisan, dengan antusias dosen tersebut menjawab. Ada banyak jawaban. Satu di antaranya dikatakan bahwa di masa depan, jurnalis bisa jadi bukan lagi sebuah profesi. Lalu terkait kemampuan, tidak usah menunggu masa depan, di masa yang sekarang ini seorang jurnalis harus multitasking.

Jurnalis sekarang dan nanti, tidak lagi mereka yang cakap menulis. Tapi mereka yang cakap dalam beberapa bidang multimedia akan lebih dipertimbangkan. Sebab, paket informasi sekarang dan di masa depan, tidak lagi melulu butuh tulisan. Akan lebih banyak tampilan visual dan elemen multimedia lain di dalamnya.

Kemarin, Sekarang dan Nanti

Waktu berubah, kebiasaan berubah, begitu juga manusia. Semua berubah sesuai masanya. Jika dulu waktu subuh masih sering ada loper koran, saat ini sudah jarang, bahkan mungkin tidak ada. Dulu rutinitas setiap pagi adalah membaca koran dan sarapan, kini bergeser menjadi memegang gawai dan sarapan.

Dulu, saat menjelang sore, satu keluarga duduk di ruang keluarga untuk bersama-sama menyaksikan informasi dan berita sore, tapi sekarang hal tersebut juga sudah bergeser. Sekarang, satu keluarga memang masih duduk bersama di ruang keluarga, tapi bukan berita di televisi yang dilihat, melainkan di gawai masing-masing.

Dulu, ketika sekolah usai di hari sabtu, para remaja biasanya selalu datang ke toko buku untuk berburu majalah remaja. Mereka berlomba-lomba mencari poster dari idola yang menjadi bonus di dalamnya. Tapi sekarang dan mungkin juga nanti, tidak ada lagi remaja yang akan mendapatkan poster idola mereka dalam majalah. Jangankan poster, majalahnya saja mereka tidak akan mendapatkannya, karena sudah gulung tikar.

Pergeseran tersebut tidak cukup sampai di situ. Perubahan yang ada tidak hanya dirasakan oleh pengamat atau konsumen, melainkan jurnalisnya juga. Ladang pekerjaan, tempat liputan, dan aktivitas mereka pun mengalami pergeseran.

Dulu, menjadi jurnalis adalah sebuah kebanggaan sekaligus kehormatan. Live report, investigasi, liputan mendalam, adalah hal yang biasa dilakukan oleh jurnalis. Berkat hal tersebut, jurnalis sangat disegani oleh pemerintahan. Mereka adalah watchdog.

Sekarang, kebanggan dan kehormatan tersebut agaknya sedikit berkurang. Kemampuan investigasi sedikit-sedikit agak melemah. Bahkan, watchdog zaman now sudah sedikit berubah, bukan jurnalis, melainkan audience. Mereka adalah komentator yang perlahan berubah menjadi watchdog, bahkan pencari informasi.

Lalu, di masa depan, bisa jadi bahkan tidak ada lagi yang namanya investigasi, yang ada mungkin hanya pengamat komentar dan komunitas. Karena jurnalisme di masa depan akan lebih menekankan pembangunan komunitas. Mereka hanya akan duduk di depan layar monitor sembari melakukan monitoring online website. It's happen because news gather by collect some interest in online website.

Pergeseran ini tentu bukan hal yang mengejutkan. Ini adalah konsekuensi yang harus diterima karena perubahan teknologi yang ada. Internet adalah sumber pergeseran, kemudian didukung oleh digitalisasi yang membawa banyak sekali kemudahan dan kesedihan. Internet tentu menjadi hal yang paling penting sekarang.

Zoe Smith, seorang jurnalis senior asal Inggris, dalam tulisannya, mengutip bahwa 74 persen Net Generation antara umur 11 dan 30 di Inggris, lebih memilih hidup tanpa tv dari pada hidup tanpa internet. Ini tentu sesuatu yang mengejutkan, berapa internet telah menjadi candu bagi generasi muda.

Maka, tidak heran jika dalam hal akses informasi pun mereka lebih kerap menggunakan gawai dari pada tradisional informasi seperti surat kabar atau majalah. Padahal, Charles Bobrinskoy, Vice Chairman dan Arial Capitam Menegement mengatakan bahwa masih tidak ada sumber terbaik untuk berita daripada surat kabar.

Jurnalisme Kuratif

Sekarang dan masa depan mulai akan ditinggalkan. Sekarang jurnalis adalah penulis dan pembuat konten. Mereka tidak lagi turun ke lapangan untuk mencari berita. Mereka hanya tinggal duduk dan mengamati apa yang sedang menarik dilakukan masyarakat. Mereka mengumpulkan pecahan informasi kepada satu titik, mereka membiarkan orang lain mendapatkan informasi yang lebih spesifik, mereka adalah biasanya disebut jurnalisme kuratif atau koresponden.

Setiap organisasi berita memiliki kurator sebagai core competency dari organisasi tersebut. Jurnalisme kuratif ini adalah penyebab utama jurnalis tumbuh subur dan menjamur. Hal ini karena dia menyusutkan ruang kerja dan mempekerjakan banyak sekali reporter.

Hal ini cukup menarik, ini tentang bagaimana cara mendorong media sosial dan kemajuan teknologi komunikasi. Kurator memberikan peluang untuk bisa menjadi jurnalis. Mereka memang bukan garda depan industri media, tapi para kurator ini merespon apa yang pembaca inginkan.

Mereka ada di antara jurnalis sebagai mengumpulkan informasi dan pembaca sebagai pencari informasi. Para kurator ini mengumpulan satu informasi yang diinginkan pembaca dari berbagai sumber, seperti blog, media sosial, dan media pada umumnya hingga menjadi satu konten berita yang diingnkan. Oleh karena itu editor bagi konten ini sangat harus terpercaya dan jeli. Seorang kurator bahkan biasanya lebih tahu mana berita yang bernilai.

Semangat Berbisnis

Selain melahirkan banyak kurator yang nantinya akan melahirkan bibit-bibit jurnalis. Kemunculan internet bagi jurnalisme masa depan juga melahirkan semangat berbisnis (An Entrepreneurial Spirit). Sudah menjadi rahasia umum bahwa bisnis media adalah salah satu bisnis yang menjanjikan dengan pundi-pundi rupiah yang terus mengalir.

Dulu, tidak banyak orang yang mampu membangun industri media, karena industri media tradisional memerlukan modal yang cukup besar. Namun, industri bisnis media sekarang dan masa depan ini berbeda. Mereka terkesan lebih mudah dan tidak membutuhkan modal yang banyak. Hal ini terbukti dengan sudah mulai menjamurnya platform media.

Memang tidak bisa dipungkiri bahwa kemajuan teknoogi komunikasi memberikan manfaat bagi sebagai orang. Karena internet, digitalisasi, keajaiban koding, platform media online mulai bermunculan. Mereka berjibaku berdagang informasi dan berita.

Perusahaan media pun dengan mudah dibangun. Untuk membangun perusahaan era ini tidak perlu harus besar dan bertingkat. Banyak perusahaan media yang hanya berupa rumah kecil dengan nama platform medianya di depan rumah seperti Brilio.net Jogjakata. Bahkan ada yang perusahaannya ada di satu petak kamar kecil di rumah.

Membangun kerajaan bisnis media di masa depan sangatlah mudah. Internet sudah menyediakan segala fasilitasnya. Konten aggregator juga sudah sangat mudah dioperasikan dengan segudang rumus yang ada. Kemungkinan besar industri media adalah ladang bisnis yang sangat subur dan menjanjikan.

Di masa sekarang dan masa depan rasanya perubahan yang signifikan tidak terlalu akan terjadi. Karena masa depan sudah diangsur dari masa sekarang.

Jurnalisme di masa depan adalah cermin dari masa sekarang. Nanti, tidak aka nada lagi jurnalis yang turun ke lapangan. Ke depan, jurnalis hanya akan berdasarkan data. Seorang coder yang fasih akan logaritama adalah kunci utma kesuksesan dari indutri media. Mereka tidak lagi hanya seorang web developer, tapi mereka juga akan mengoperasikan SEO (Search Engine Optimization).

Kemudian, teruntuk jurnalisnya. Di masa sekarang dan nanti, tidak lagi dibutuhkan jurnalis yang hanya bisa menulis. Jurnalis masa depan harus multitasking, serba bisa. Tidak hanya kemampuan tulis menulis, mereka juga harus bisa editor video, audio, meracik konten, paham marketing, mengerti SEO dan bahkan kalau bisa juga mengerti tentang pengkodingan.

Menjadi jurnalis di masa depan bukan lagi perkara mudah. Di masa depan yang dilakukan akan kepada berdagang informasi. Kantor medianya pun bisa jadi invisible atau bahkan tidak ada. Yang berjaya adalah mereka para freelancerdan koresponden.

Namun, tetap, media tradisonal akan masih ada di masa depan. Hanya saja popularitasnya akan menurun. Tidak seperti media online, yang akan semakin ketat persaingannya di masa depan.