Mohon tunggu...
Dheyarani Nazra
Dheyarani Nazra Mohon Tunggu... Mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang

Halo!

Selanjutnya

Tutup

Ilmu Sosbud & Agama

Setelah Menghafal Al-Qur'an, Kenapa Cepat Lupa Ya?

14 Juni 2021   07:58 Diperbarui: 14 Juni 2021   08:50 192 2 0 Mohon Tunggu...

Oleh : Dheyarani Nazra – Mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang

Ada ngga sih dari kalian yang setelah menghafal Al-Qur’an terus cepat lupa? Kenapa ya? Mari kita bahas lebih lanjut.

Banyak dijumpai orang-orang yang menjadi penghafal Al Quran, atau dengan kata lain mereka bisa menghapalkan 6.666 ayat yang ada dalam Al Quran. Tidak hanya huruf, tanda bacaan, panjang pendek bacaannya, hukum bacaannya, bahkan artinya pun mereka hapal di luar kepala. Fenomena ini menunjukkan bukti kemampuan kognitif luar biasa yang berpusat di otak manusia.

Lalu, apa hubungannya dengan Memori? Memori sangat penting bagi kehidupan manusia. Memori merupakan hal yang sangat vital dalam kehidupan manusia. Mengingat identitas diri, masa lalu, interaksi sosial, bahkan kemampuan memori dibutuhkan untuk mengerjakan tugas-tugas yang kompleks. Menyadari fungsi memori yang vital, maka muncul banyak keinginan untuk meningkatkan kemampuan memori.

Terkait dengan rangkaian proses memori, Memori Sensori adalah proses awal sebelum proses short-term memory ataupun long-term memory. memori sensori atau sensory storage merekam informasi atau stimulus yang masuk dan ditangkap oleh panca indera seperti visualiasai melalui mata, auditori melalui telinga, rabaan melalui kulit, bau melalui hidung maupun rasa lewat lidah. Informasi yang masuk ini dapat dideteksi melalui salah satu panca indera atau bisa juga melalui kombinasi panca indera. Memori dibagi menjadi 2 yaitu :

  • Memori Jangka Pendek (Short-term Memory)

Memori jangka pendek memiliki kapasitas yang kecil sekali, namun sangat besar peranannya dalam proses memori, yang merupakan tempat dimana kita memproses stimulus yang berasal dari lingkungan kita. Kemampuan penyimpanan informasi yang kecil tersebut sesuai dengan kapasitas pemrosesan yang terbatas. Memori jangka pendek berfungsi sebagai penyimpanan transitori yang dapat menyimpan informasi yang sangat terbatas dan mentransformasikan serta menggunakan informasi tersebut dalam menghasilkan respon atas suatu stimulus.

  • Memori Jangka Panjang (Long-term Memory)

Memori jangka panjang merupakan ingatan yang disimpan di otak dan dapat diingat kembali di masa yang akan datang. Ingatan ini dibagi menjadi dua jenis yaitu ingatan sekunder dan ingatan tersier. Ingatan sekunder disimpan dalam jejak ingatan yang lemah sampai sedang sehingga mudah dilupakan dan kadang sulit untuk diingat kembali. Sedangkan ingatan tersier merupakan suatu ingatan yang sangat melekat di dalam pikiran sehingga dapat bertahan seumur hidup dan merupakan jenis ingatan yang memungkinkan informasi dapat tersedia dalam sekejap.

Bagaimana ya cara kerja Memori? Suatu informasi dapat menjadi bagian dari memori apabila terjadi perubahan fungsional dan struktural secara menetap pada otak. Perubahan itu dikenal dengan istilah plastisitas. Plastisitas didefinisikan sebagai perubahan pada jaras neuron yang terjadi berkaitan dengan pengalaman karena suatu kebiasaan yang didapat.

Setiap neuron akan terus meneruskan informasi-informasi yang masuk. Meskipun informasi-informasi itu berjumlah jutaan dan dalam waktu yang cepat, kesemuanya itu pada akhirnya akan bermuara pada otak dan diolah menjadi memori. Pada dasarnya memori disimpan dalam berbagai area di otak, setiap bagian otak memiliki peran tersendiri. Begitu juga dengan jenis memori, akan berbeda pula wilayah penyimpanannya, misalnya menurut Broca (dalam Garrett, 2003 dan Pinel, 2007), memori episodik dan memori eksplisit akan tersimpan dalam lobus temporal, amygdale (berhubungan dengan emosi), serebellum (berhubungan dengan keterampilan), dan hippocampus (tempat konsolidasi memori). Informasi yang ada dalam hippocampus akan melakukan konsolidasi sebelum dipindahkan ke cortex. Memori yang masih berada di hippocampus masih berupa memori jangka pendek. Namun ketika sudah di pindahkan ke Cortex menjadi memori jangka panjang. Sebagian dari informasi baru yang diperoleh akan dikode terlebih dahulu untuk kemudian disimpan sebagai memori jangka pendek . Memori jangka pendek harus mengalami konsolidasi sebelum dapat diperoleh kembali beberapa minggu atau beberapa tahun kemudian bahkan apabila akan diubah menjadi memori jangka panjang. Konsolidasi memori jangka pendek mengandung pengertian bahwa ada perubahan baik secara kimia, fisik, maupun anatomis yang terjadi pada sinaps-sinaps. Perubahan inilah yang kemudian akan merubah memori jangka pendek menjadi memori jangka panjang. Proses konsolidasi memori jangka pendek ini memerlukan paling cepart antara lima sampai sepuluh menit sedangkan paling lama memerlukan waktu satu jam atau lebih.

Ada beberapa faktor yang mempengaruhi short-term memory, hubungannya dengan Al Quran, yaitu :

  • Stress. Dampak dari stres terhadap memori adalah terpecahnya perhatian terhadap informasi yang baru. Stres juga dapat mempengaruhi kinerja memori. Hal ini dikarenakan karena produksi hormon kortisol dalam hippocampus menjadi lebih stabil. Fungsi hippocampus terganggu pada kondisi stres dimana terjadi peningkatan kadar kortisol yang berimbas pada reseptor glukokortikoid dengan konsentrasi tinggi. Gangguan pada hippocampus dapat menurunkan kemampuan memori (McEwen, 1998).
  • Perhatian (attention). Perhatian sangat berperan dalam proses memori. Hal ini karena dalam memahami masalah pikiran dapat saling berkompetisi dan menghasilkan perhatian yang terpecah(divided attention). Membaca Al Quran sendiri dapat mempengaruhi fokus perhatian. Seseorang yang membaca Al Quran memerlukan proses yang lebih kompleks bila dibandingkan dengan membaca buku bacaan biasa. Dalam membaca Al Quran, seseorang harus berkonsentrasi dan fokus pada apa yang dibaca. Mulai dari melihat huruf, tanda baca dan panjang pendeknya, harus diperhatikan dengan seksama. Hal ini dapat membuat seseorang bisa lebih fokus pada perhatian dan berkonsentrasi.
  • Emosi. Matlin dalam Hastjarjo (2008) menyatakan hal yang sama yakni ada dua macam pengaruh emosi terhadap memori yakni mood-congruent dan moodstate dependent. Mood-congruent mengandung artian jika informasi yang masuk dan suasana hati pada seseorang memiliki kesamaan, maka kinerja memori akan menjadi lebih baik. Mood-state dependent mengandung artian bahwa apabila saat penyimpanan (storage) informasi dan pengingatan kembali (recall) memiliki kesamaan suasana hati, maka kinerja memori akan lebih baik bila berbeda suasana hatinya. Awari (1997) menyebutkan bahwa ayat-ayat Al-Quran banyak yang mengandung tuntunan bagaimana manusia dalam kehidupan di dunia ini terbebas dari rasa cemas, tegang, dan depresi.

Kesimpulannya, ketika informasi itu terekam maka akan ada dua kemungkinan yang dipengaruhi oleh perhatian (attention). Apabila informasi itu tidak mendapatkan perhatian maka informasi itu akan rusak dan hilang (decay). Namun bila mendapatkan perhatian, maka informasi itu akan diproses lebih lanjut ke dalam short-term memory. Informasi yang ada di short-term memory tersebut apabila dilakukan pengulangan atau rehersal secara terus menerus maka akan disimpan ke dalam long-term memory. Di dalam long-term memory inilah informasi yang disimpan tadi akan dapat dipakai di lain waktu.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN