Mohon tunggu...
Dhanang DhaVe
Dhanang DhaVe Mohon Tunggu... www.dhave.id

Biologi yang menyita banyak waktu dan menikmati saat terjebak dalam dunia jurnalisme dan fotografi saat bercengkrama dengan alam bebas www.dhave.net

Selanjutnya

Tutup

Lingkungan Artikel Utama

Cemara Udang, Benteng Laut dari Abrasi dan Tsunami

10 September 2019   14:56 Diperbarui: 10 September 2019   18:54 0 6 3 Mohon Tunggu...
Cemara Udang, Benteng Laut dari Abrasi dan Tsunami
Pantai Bopong Kab. Kebumen | dokpri

Indonesia ditakdirkan menjadi pinggiran benua yang setiap saat bisa bergeser. Akibat geseran itu akan menimbulkan goncangan yang hebat. Jika di darat akan ada gempa, jika di laut akan ditambah menjadi tsunami. Pulau Jawa sisi selatan menjadi salah satu potensi gempa dan tsunami, dan sore ini saya melihat bagaimana masyarakat dan alam ini menyiapkan jika tepi benua tersebut bergeser.

Matahari di ufuk barat mulai memudarkan sinarnya saat pelan-pelan turun di belakang bukit-bukit gamping karang bolong. Langit temaran berwarna merah muda kombinasi biru laut. Saya beruntung sore ini sendirian menikmati senja di Pantai Bopong Kabupaten Kebumen-Jawa Tengah.

Pantai Bopong salah satu dari sekian banyak tempat menarik di selatan Kebumen, mungkin kalah pamor dengan Karang Bolong. Saya berjalan menyusuri pantai sembari melihat deburan ombak di atas pasir hitam yang merumbai-rumbai laksana tirai samudra.

Saya terpesona dengan salah satu usaha pemerintah dan masyarakat bagaimana bersikap arif kepada alam. Pelajaran dari masa lalu tentang kebencanaan khususnya gempa dan tsunami diterapkan saat ini. Masyarakat paham tentang risiko sapuan ombak akibat tsunami yang menerjang tanpa memilih siapa yang akan ditelan mentah-mentah.

Cemara udang | agefotostock.com
Cemara udang | agefotostock.com
Sepanjang pantai sudah ditanami cemara udang (Casuarina equisetifolia). Menjadi pertanyaan mengapa cemara udang, bukan tumbuhan yang lain. Ada alasan ilmiah mengapa spesies itu dipilih untuk ditanam di tepi pantai dan bukan asal menanam. Cemara udan sebenarnya bukan satu-satunya, namun ada beberapa tumbuhan ikutan yang bisa mendampingi cemara udang agar menjadi ekosistem yang baik, anyara lain: pandan laut (Pandanus sp), kaki kambing/katang-katang (Ipomoesa pes caprae), waru laut (Thespesia populnea), ketapang (Terminaloa catapa) dan lain sebagainya.

Cemara udang di mana nama tersebut mirip dengan bentuk tajuknya yang melengkung mirip punggung udang, sangat cocok ditanam di pantai. Tumbuhan ini mudah beradaptasi dengan salinitas yakni air yang mengandung garam. Tumbuhan ini memiliki perakaran yang kuat sehingga mampu mencengkeram tanah, batuan, dan pasir sehingga kokoh berdiri.

Kayu cemara udang sangat liat dan tidak mudah patah sehingga dia tahan terhadap benturan atau hantaman. Daunnya yang lebat bisa meredam angin dan jika ombak besar bisa menjadi penghalang awal. Dan yang terakhir adalah pertumbuhannya yang cepat. Inilah alasan mengapa cemara udang ditanam, meskipun secara ekonomi tidak banyak menguntung, namun secara ekologi sangat menguntungan.

Sepanjang Pantai Bopong sudah penuh dengan cemara udang, dan akan terus berlanjut sepanjang sisi selatan Pulau Jawa. Dan sore itu saya menikmati rimbunnya kanopi cemara udang yang melambai-lambai terkena angin laut.

Saya melangkahkan kaki dan bertemu dengan nelayan yang sedang menebar jaring di sepanjang pantai. Saya lupa namanya, namun saya ingat persis apa yang kami bincangkan sore itu. Dia bercerita jika pekerjaannya adalah berjudi dengan nasib, seperti ombak yang datang dan pergi seiring itulah dia berkisah bagaimana jaringnya sepanjang hampir 50 meter menghidupi keluarganya-penuh perjudian.

Nelayan pantai Bopong | dokpri
Nelayan pantai Bopong | dokpri
Sore itu dia menebar jaringnya hampir 75 meter dengan tali yang diikat di tubuhnya. Saat ombak datang dia melempar pelampung agar dibawa ke tengah laut saat ombak pergi sembari mengulur tali. Saat ombak datang dia merapikan dan begitu sampai jalan membentang rapi di lautan lalu menunggu ikan sial yang akan menjadi peruntungannya.

Langit barat semakin temaram saat petang pun tiba. Nelayan mulai menyalakan senter kepala dan saya masih mencoba bertahan menikmati angin selatan. Berharap bisa melihat ikan-ikan sial dan raut wajah girang nelayan "Ah sial, saya haru kembali di camp 3 Km di sana..."