Mohon tunggu...
Nahariyha Dewiwiddie
Nahariyha Dewiwiddie Mohon Tunggu... Penulis dan Pembelajar

🌺 See also: https://medium.com/@dewiwiddie. ✉ ➡ dewinaharia22@gmail.com 🌺

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Artikel Utama

Sebuah Renungan untuk Pembelajaran Bahasa Indonesia di Sekolah

25 Oktober 2016   06:13 Diperbarui: 25 Oktober 2016   14:20 359 9 4 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Sebuah Renungan untuk Pembelajaran Bahasa Indonesia di Sekolah
Ilustrasi/Kompasiana (Shutterstock)

Bulan Agustus lalu, saya "main" di situs Twitter, kemudian saya iseng mencari kata kunci tentang berita bulutangkis kontingen Malaysia. Nah, dari situlah saya baca beritanya, juga cuitan-cuitan yang diunggah oleh para "warga dunia maya". Walaupun saya bukan penggemar pebulutangkis Malaysia, ya sesekali saya baca berita bahasa Melayu, biar memperluas wawasanku... hehe :D

Tapi, saya kemudian merenung, di balik keisengan tadi, saya berpikir istilah padanan yang selalu digunakan pada berita dan kicauan para netizen, misalnya saja "separuh akhir" yang sama artinya dengan semifinal, "perlawanan akhir" yang bermakna serupa dengan babak final.

Begitupun dengan kalimat yang saya perhatikan, "sekadar raih perak", yang seringkali menjadi tema berita tatkala tiga wakil Malaysia yang maju ke pertandingan puncak, semuanya gagal merebut emas untuk pertama kalinya.

Nah disini saya tekankan kata "sekadar" itu. Masalahnya, kok banyak warga Indonesia, entah karena budaya lisan yang mendarah daging, ketika berubah wujud menjadi bahasa tulis, "diplesetkan" menjadi kata "sekedar", baik media cetak maupun elektronik? Kecuali untuk Kompas TV, dimana (kalau tidak salah) telinga saya peka mendengarkan kata "sekadar".

Ya, mengingat kata itu, jadi terbayang pada pengalaman saya ketika saya menulis judul di salah satu artikel tentang Harian Kompas, ketika Admin mengganti kata "sekedar" menjadi "sekadar". Padahal, sesuai dengan kata bahasa Melayu, "ibu kandung" dari bahasa Indonesia, kata "sekadar" -lah yang baku sesuai KBBI. Kalian paham 'kan maksud saya?

Dan, saya juga menyorot tentang penggunaan kata asing yang sebenarnya ada padanannya. Misalnya kata "gadget" yang merupakan kata dalam bahasa Inggris, serupa dengan kata "gawai" dalam bahasa Indonesia. Tetapi... kok tidak sedikit ya, rakyat negeri ini yang masih pakai kata "gadget"?

Nah, itulah permasalahannya, bahasa Indonesia yang seringkali menjadi bahasa persatuan dalam berkomunikasi antar suku bangsa, sedikit demi sedikit mulai kehilangan jati dirinya. Dan hal ini tidak terlepas dari sesuatu yang menjadi faktor vital dalam kehidupan: pendidikan. Dari edukasi tentang bahasa itulah, hasilnya akan mengalir ke segala bidang. 

Jika saya merenungkan tentang pembelajaran bahasa Indonesia di sekolah, jujur, terasa tidak begitu menyenangkan. Gaya pengajarannya terlalu formal, menjelaskan materinya kebanyakan dengan cara ceramah. Kalau tugas membaca dan menulis? Ya hanya saat ada materi tertentu saja, misalnya membaca novel dan menulis puisi. Pokoknya porsi praktik berbahasa masih sedikit sekali!

Apalagi kalau pembelajarannya dilakukan lewat ekstrakurikuler. Beruntung ya, sekolah kalian ada ekskul jurnalistik, KIR, maupun menulis puisi. Waktu SMP, karena waktu itu belum ada ekskul puisi, akhirnya saya sendiri yang asyik merangkai syair di buku tulis diluar jam pelajaran. Sedangkan untuk ekskul KIR, karena pembinanya guru kimia, jadinya saya merasa tidak mendapatkan pelajaran praktik menulis ilmiah yang baik, akibatnya saya terjebak dalam kelamnya copy paste! Waduh! Tapi, kemudian akhirnya saya tersadar akan kesalahanku setelah belajar menulis di Kompasiana ini.

Solusi Perbaikan untuk Pembelajaran Bahasa Indonesia di Sekolah

Ya, berkaca dari pengalaman itulah, saya akan memberi solusi untuk perbaikan sistem pembelajaran bahasa Indonesia di sekolah, antara lain:

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x