Dewi Nurbaiti (DNU)
Dewi Nurbaiti (DNU) karyawan swasta

Dreamer to be a Bidadari Syurga - Ibu 2 anak - Karyawati Swasta - Mahasiswi Strata 2 - Professional Volunteerism for Marginal Children & Education - Author at www.tulisandnu.net - Owner Online Shop - Fun Runner - dengan kegemaran tak berkesudahan untuk menulis... Karena menulis lebih dari sekedar berbicara...

Selanjutnya

Tutup

Politik highlight headline

Stop Bullying Pasca Pilkada, Bikin Pusing!

19 April 2017   22:01 Diperbarui: 20 April 2017   11:02 426 5 5
Stop Bullying Pasca Pilkada, Bikin Pusing!
Sumber gambar: getty images

Sudahlah sikapi gentleĀ untuk hasil Pemilihan Kepala Daerah (PILKADA) DKI Jakarta putaran ke dua tahun 2017 ini, tidakkah kita lelah dengan perang dingin yang tak kunjung usai ini? Jelang PILKADA ribut, hingga PILKADA selesai terlaksana pun tetap saja ribut. Apakah sudah habis aktivitas lainnya di atas bumi ini selain begitu konsen dengan pertikaian jarak jauh antar sesama? Hujat sana hujat sini, nyinyir kepada pendukung pasangan calon (paslon) yang kalah, nyinyir kepada pendukung paslon yang menang, those are bullying guys!

Di mana jiwa-jiwa yang katanya ingin berbesar hati jika paslon yang didukungnya kalah? Di mana jiwa-jiwa yang katanya orang baik dan akan tetap elegan jika paslon yang didukungnya menang? Pendukung paslon yang menang tak usainya riang gembira dalam kata-kata sambil sesekali diselipkan hujatan-hujatan manis untuk paslon yang kumpulan suaranya secara quick count lebih sedikit. Begitu juga dengan pendukung paslon yang kalah, tak ada habisnya nyinyir terhadap paslon yang menang sambil sesekali mengungkapkan keraguan atas kinerja paslon tersebut.

Pemenang yang sesungguhnya, adalah seseorang yang tetap tenang saat berada dalam ayunan pucuk pohon yang paling tinggi, serta seseorang yang tetap tenang saat berada dalam putaran roda yang paling bawah. Adalah dua-duanya pemenang, baik paslon yang memiliki suara lebih banyak dan paslon yang memiliki suara lebih sedikit, jika pendukung keduanya mampu tetap tenang bagaimanapun keadaannya. Karena kualitas pemimpin dapat tercermin dari perilaku para pendukungnya.

Sorak-sorai atas sebuah kemenangan tentu saja diperbolehkan namun tetap ada batasannya, jangan takabur, karena Allah SWT pun tak menyukai sesuatu yang berlebihan. Bersedih atas kekalahan juga sah-sah saja, tetapi juga jangan berlebihan karena life must go on, dan tentu bukan urusan DKI Jakarta saja yang penting untuk dilakoni bukan? Pasti masih banyak perihal lainnya yang membutuhkan sentuhan tangan-tangan baik seperti mereka berdua.

Tidakkah kita lelah terus menerus perang dingin di dunia maya? Saling serang jarak jauh, saling hujat jarak jauh, hingga kita lupa perlunya berbenah diri untuk memberikan dukungan dalam menghadapi 5 tahun ke depan -dimana bukan masa yang sebentar-, dan memberikan dukungan dalam menghadapi penyelesaian masa jabatan akhir Oktober nanti.

Menurut saya, hanya ada dua hal yang pantas dilakukan saat ini bagi para pendukung paslon gubernur DKI Jakarta 2017-2022, yaitu bagi pendukung pemenang jangan overĀ bahagia karena bisa menyebabkan khilaf, lepas kendali lalu hilanglah predikat pemenang yang elegan. Sedangkan bagi pendukung paslon yang kalah secara quick count jangan bersedih sambil nyinyir dalam usaha membesarkan hati, karena kekalahan bisa tetap diiringi senyum yang lebar jika kita menyikapinya juga dengan hati yang besar.

Intinya, yang menang rendah hati, yang kalah berbesar hati.

(dnu, ditulis sambil minum teh manis hangat bikinan suami tercinta sealam semesta, 19 April 2017, 21.44 WIB)