Dewi Puspasari
Dewi Puspasari Penulis dan Konsultan TI

Suka baca, dengar musik rock/klasik, & nonton film unik. Juga nulis di https://dewipuspasari.net dan www.pustakakulinerku.com

Selanjutnya

Tutup

Film Artikel Utama

"Modest Heroes of Our Times", Siapapun Bisa Jadi Pahlawan

16 Desember 2018   12:00 Diperbarui: 17 Desember 2018   11:21 665 3 0
"Modest Heroes of Our Times", Siapapun Bisa Jadi Pahlawan
Tiga film animasi pendek dari studio Ponoc yang diputar di Pekan Sinema Jepang (dok. WowJapan.asia)

Menjadi pahlawan tidak harus menyelamatkan banyak orang. Mereka yang melakukan kegiatan untuk menolong keluarga dan sekelilingnya juga bisa disebut pahlawan. Kisah-kisah pahlawan dalam keseharian menjadi tema kumpulan film animasi pendek bertajuk Modest Heroes of Our Times dari Studio Ponoc.

Ada tiga film dari kumpulan film animasi pendek volume pertama Studio Ponoc yang juga disutradarai tiga sutradara berbeda. Studio Ponoc merupakan studio produksi film animasi Jepang yang sukses menelurkan Mary and The Witch's Flower. 

Benang merah dari tiga animasi tersebut adalah pengorbanan dan keberanian. Tiga cerita tersebut Kanini & Kanino, Life Ain't Gonna Lose dan Invisible. Tiap kartun berdurasi sekitar belasan menit.

Kanini & Kanino menjadi cerita pembuka. Kanini dan Kanino merupakan kakak beradik kepiting mungil. Mereka sementara tinggal bersama ayahnya, sementara ibunya sedang mengandung dan hendak melahirkan calon adik-adik mereka.

Keluarga kepiting berjuang mempertahankan hidup (dok. Animationisfilm.com)
Keluarga kepiting berjuang mempertahankan hidup (dok. Animationisfilm.com)
Suatu ketika Kanino tak sengaja meninggalkan adiknya. Kanini hampir saja diterjang arus jika tak ditolong ayahnya. Namun usai Kanini selamat, ayahnya yang malah diterjang. Kanini dan Kanino menangis. Kini mereka hanya berdua menghadapi makhluk-makhluk air yang seperti raksasa bagi mereka. Mampukah Kanino melindungi adik tersayangnya dan menemukan ayahnya yang hanyut?

Kartun ini memiliki warna-warna yang indah dan detail. Ceritanya sederhana tentang kasih sayang di antara anggota keluarga dan juga pengorbanan. Film ini disutradarai oleh Hiromasa Yonebayashi yang juga menyutradarai Mary and The Witch's Flower. Tak heran jika coretan gambar tokohnya mirip dan khas.

Life Ain't Gonna Lose menjadi kisah animasi berikutnya. Film ini tentang para anak penderita alergi makanan. Di dalam sebuah ruangan terdapat anak-anak yang tidak bisa menyantap susu, kacang, telur, dan sebagainya. 

Hubungan ibu dan anak yang hangat (dok. Myanimelist.com)
Hubungan ibu dan anak yang hangat (dok. Myanimelist.com)
Shun, anak laki-laki  yang tidak bisa menyantap telur. Sejak kecil ia beberapa kali bermasalah dan hampir saja meninggal karena tak sengaja menyantap makanan yang berbahan telur. Ibunya menjadi protektif dan berhati-hati memilihkan makanan bagi putranya.

Meskipun alergi telur Shun tangkas berolah raga. Ia ingin tetap sehat seperti kawan-kawannya. Ia ingin suatu saat bisa sembuh dan mampu menyantap telur. Untuk itu ia berupaya selalu waspada untuk mengetahui bahan makanan sebelum menyantapnya. Tapi ibunya tak bisa selalu mendampingnya, bagaimana jika ia ceroboh?

Filmnya bikin terharu. Hubungan ibu dan anak begitu kuat. Kasih sayang ibu kepada putranya demikian besar. Ia selalu siap sedia dan bersedia mengorbankan banyak hal untuk putranya. Cerita alergi ini dibesut oleh Yoshiyuki Momose.

Invisible berunsur fantasi (dok. Thedailydot)
Invisible berunsur fantasi (dok. Thedailydot)
Cerita terakhir memiliki unsur  fantasi. Judulnya Invisible karya Akihiko Yamashita. Cerita bergulir ke seseorang tanpa wujud hanya tertutup pakaian dan kacamata. Ia membawa barang berat agar tubuhnya tak tertiup angin. Suatu ketika ia mendapat masalah dan tubuhnya tersapu angin kencang. Apa yang harus dilakukannya agar tubuhnya tak lenyap?

Yang terakhir ini memiliki gambar yang berbeda dengan dua animasi sebelumnya. Aku menyukai simbol-simbol dalam film kartun ini. Simbol ini bisa dilihat dari sosok tokoh utama dan warna-warni yang digunakan.

Cerita dari tiga animasi pendek ini ringan tapi kaya pesan. Aku menyukainya dan berharap bisa menyaksikan volume keduanya. Oh ya Ponoc Short Films Theatre Volume 1 ini diputar kemarin (Sabtu, 15/12) di Pekan Sinema Jepang 2018. Siapa tahu film ini juga diputar di Pekan Sinema Jepang di Bandung 21-23 Desember mendatang.

Kemarin  penonton film ini cukup ramai. Banyak yang membawa anak-anaknya karena film ini bisa disaksikan segala usia.