Mohon tunggu...
Desy Pangapuli
Desy Pangapuli Mohon Tunggu... Be grateful and cheerful

Penulis lepas yang suka berpetualang

Selanjutnya

Tutup

Worklife Pilihan

Cuti Bersama, Hak Vs Tanggungjawab (Moral)

26 Februari 2021   02:11 Diperbarui: 26 Februari 2021   03:08 80 2 1 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Cuti Bersama, Hak Vs Tanggungjawab (Moral)
https://www.talenta.co/

Fix pemerintah memotong cuti bersama tahun 2021, dari semula 7 hari menjadi hanya 2 hari saja! Maka penontonpun ada yang kecewa dan teriak, "Penontonnn....kecewa....! Kita juga butuh liburan meski di rumah aja, tetapi khan libur!"

Tenang...tenang...harusnya penonton jangan begitu dong menyingkapinya. Iya, iya, paham siapa sih yang tidak senang dengan kata cuti dan libur. Tetapi, masalahnya, kedua kata tersebut kini horor!

Yup, cuti dan libur adalah dua kata horor yang saat ini identik dengan naiknya angka Covid! Begitulah yang terjadi selama ini, setiap kali libur panjang, maka angka-angka horor lonjakan Covid akan bermain kejar-kejaran.

Seandainya kita menyingkapinya dengan hati seluas samudra, inilah yang dikhawatirkan pemerintah. Bahkan harusnya inilah juga yang menjadi kekhawatiran kita semua! Singkat katanya, sia-sia usaha kita bersama selama ini menurunkan angka Covid, tetapi setiap kali bertemu libur ujungnya semua menjadi basi!

Mari kita pilah satu persatu mengenai cuti bersama dari kacamata hak dan tanggungjawab. Kenapa harus ada tanggungjawab disini, yah simple saja. Selagi kita manusia, dan apalagi sebagai warga negara maka selain aturan tertulis, kita juga kenal aturan tak tertulis bernama tanggungjawab moral.

Benar, cuti adalah hak setiap pekerja setelah yang bersangkutan menjalankan tanggungjawabnya sebagai pekerja. Bahkan mengenai ini termuat dalam UU Ketenagakerjaan pasal 79 ayat 2 huruf c yang menyatakan bahwa pekerja/buruh berhak atas cuti tahunan, sekurang-kurangnya 12 hari kerj setelah pekerja/buruh yang bersangkutan bekerja selama 12 bulan secara terus-menerus.

Tetapi, sekali lagi tolong dipahami saat ini kita di dalam situasi luarbiasa yang sulit dipahami. Kita tidak lagi bisa berhitung 1 +1 = 2, karena bisa jadi bukan! Kenapa begitu, lihat saja untuk semua yang telah pemerintah lakukan lewat edukasi mengenai covid dan protokol kesehatan, tetapi tetap angka-angka itu berat untuk turun. Justru yang terjadi makin hari, rakyat makin acuh terhadap pandemi ini.

Harusnya, ucapan Presiden Jokowi bahwa kita terkondisikan hidup berdampingan dengan Covid, bukan diartikan dengan sikap cuek, longgar dan pengabaian. Tetapi, hiduplah dengan budaya baru, dimana protokol kesehatan dan perbaikan kualitas diri hidup sehat menjadi bagian keseharian. Bukan sebaliknya, untuk mengenakan masker dan tidak berkerumun saja harus diawasi dan diingatkan seperti bocah? Mau sampai kapan manja, dan dewasa?

Sekarang bayangkan, jika pemerintah tidak melakukan pemotongan cuti, please...kekonyolan apa yang akan terjadi? Sedang dalam keseharian saja, angka lonjakan terus berkejaran!

Wokeh, mungkin ada pendapat, "Kita butuh libur! Libur atau cuti khan tidak harus berarti jalan, kita di rumah aja kok."

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x