Deri Prabudianto
Deri Prabudianto Penulis fiksi

Hanya orang biasa

Selanjutnya

Tutup

Novel

Namaku Awai 277-278

9 Agustus 2018   05:47 Diperbarui: 9 Agustus 2018   07:21 400 0 0
Namaku Awai 277-278
dok.pribadi

"Berapa harga sepotong es balok paling kecil ?" Ting Ling memajukan wajahnya hingga berjarak 10 cm dari wajah Tiong It.

"Dua puluh lima rupiah, " jawab Tiong It lesu, memundurkan wajahnya 20 cm.

Ting Ling mengeluarkan 25 rupiah, meletakkan di atas meja. Tiong It menyimpan uang itu ke laci, berteriak menyuruh Otan memotong setengah batang es balok.

"Aku sudah membeli, kenapa tak disilahkan duduk ?" tanya Ting Ling tanpa rasa segan.

"Es balok akan mencair kalau kamu duduk setengah jam disini. Sebaiknya kamu bawa pulang terlebih dahulu." Nasehat Tiong It.

"Biarkan saja cair. Aku ingin ngobrol denganmu." So Ting Ling duduk tanpa disilahkan.

"Katanya mau kursus kecantikan ke Medan. Kapan berangkat ?" Tiong It ogah meladeni Ting Ling. Ia ingin Ting Ling cepat berambus dari hadapannya.

"Ajak aku nonton malam ini, aku pasti berangkat " Ting Ling tersenyum memperlihatkan giginya.

" Tidak ada film yang bagus. " jawab Tiong It ogah-ogahan.

"Kalau begitu, temani aku ke Penginapan Megaria satu kali. Aku ingin bertemu seseorang, setelah itu aku pasti berangkat."

"Kenapa harus ditemani? Bukankah kamu bisa pergi sendiri?" skak Tiong It.

"Ada temanku yang sakit di kamar 11. Kita menjenguknya. Aku janji, setelah itu aku akan berangkat ke Medan, tidak mengganggumu lagi."

Tiong It tanpa berpikir langsung mengiyakan. Ia ingin bebas dari gangguan Ting Ling. Apa salahnya menemani Ting Ling ke penginapan satu kali, toch hanya menjenguk orang sakit. Tapi ia mengajukan syarat. "Aku naik sepeda kesana, kamu naik beca,"

"Oke. Kita sepakat. Kutunggu di Megaria jam 6 sore nanti, besok kamu boleh mengantarku menaiki kapal." Ting Ling menyunggingkan senyum penuh kemenangan. Ia yakin kali ini Tiong It masuk perangkapnya.

Megaria terdiri dari empat puluh kamar. Setiap hari ada yang keluar dan ada yang cek in. Setiap sore Awai mencopot sprei kotor untuk ditukar dengan sprei baru. Tamu biasanya cek insaat kapal mendarat. Setiap hari ada sekitar 10 kamar yang harus dirapikannya. Cukup melelahkan, tapi demi 40 ribu ia rela bercapek-capekan.

Sore ini jam 5.30 Awai selesai menukar sprei, tinggal membuang sampah. Tong Sampah terletak di pinggir jalan. Saat ia menuang sampah, sebuah beca berhenti tak jauh darinya. Seorang gadis turun dan tersenyum padanya.