Deri Prabudianto
Deri Prabudianto Penulis fiksi

Wa/sms 0856 1273 502

Selanjutnya

Tutup

Novel

Namaku Awai 275-276

8 Agustus 2018   05:35 Diperbarui: 8 Agustus 2018   07:01 866 0 0
Namaku Awai 275-276
dok.pribadi

" Silahkan, tapi sewa buku dulu ya..." pemilik penyewaan buku itu nyengir.

" Sewanya berapa ?" tanya Awai.

" Sepuluh rupiah per buku, boleh dibaca sampai tamat disini, kalau dibawa pulang, sewanya 15 rupiah untuk 3 hari."

Awai memilih sebuah komik. Ia membayar 10 rupiah dan mengatakan akan membacanya nanti. Ia hanya ingin numpang ke kamar mandi. Pemilik toko itu mengizinkan.

Rumah panggung selalu sama. Bagian depan merupakan ruang tamu, ada yang menjadikannya tempat usaha. Di tengahnya kamar atau dapur, dan paling belakang kamar mandi.

Setibanya di kamar mandi, Awai melihat sebuah perahu besar tambat di jembatan di tengah celah antar 2 rumah. Yang mengherankan, perempuan yang dipanggil tadi memakai kedok dan sedang berbicara dengan 3 pemuda tegap. Awai terkesiap. Ia mengenali ketiga pemuda itu adalah orang orang yang sering makan lontong di Sudi Mampir. Apakah wanita berkedok itu yang dipanggil Akui oleh ketiga pemuda itu ? Awai terus mengamati.

Keempatnya berbicara dengan serius. Hari mulai gelap, Awai tak berani berteriak. Takut pemilik penyewean buku mengangapnya orang gila. Di tahannya perasaannya untuk menyapa wanita berkedok itu. Akhirnya gelap total. Keempat orang itu tak terlihat wajahnya. Awai segera berjalan ke depan, meletakkan buku di depan penjaganya.

" Satu minggu, boleh dibaca kapan saja. Lewat seminggu sewa berakhir." Kata pemilik penyewaan buku.

" Makasih, bang. Besok aku kemari lagi." Awai keluar dan pulang ke rumahnya.

Tiong It duduk membeku di kantor ayahnya. Matanya menatap langit-langit. Teringat pertemuan terakhir dengan Awai yang singkat, apakah itu pertemuan terakhir? Apakah selanjutnya mereka tak bertemu lagi? Awai ingin mempertahankan rumahnya, rela berpisah dengannya. Ia tak bisa berbuat apa-apa. Tak mungkin ia meminta ayahnya membeli sebuah rumah untuk tempat tinggal Awai dan keluarganya. Ayahnya takkan mengizinkan.

Ia tak bisa menyalahkan Awai berbuat demikian. Kalau ia berada di posisi Awai, ia juga akan berbuat demikian. Ia hanya menyalahkan nasibnya yang tidak beruntung.

" Hei, aku memanggilmu, kenapa diam saja ?"

Tiong It kaget dan menurunkan kepalanya. Ia menguap seakan baru bangun tidur.

" Ada apa kamu kemari ? Jangan bilang mau beli es balok lalu nanti tak jadi setelah esku mencair separo. " suara Tiong It menunjukkan perasaan tak suka.