Mohon tunggu...
Derby Asmaningrum
Derby Asmaningrum Mohon Tunggu... Buruh

Pernah bekerja di maskapai Singapore Airlines sebagai pramugari. Fanatik musik Rock Jadul. Kini bertahan hidup di negeri orang sembari mengagumi coklatnya dedaunan di musim gugur, eksotisme serpihan salju di musim dingin, mekar warna-warni bunga di musim semi dan ciuman terik mentari di musim panas. Merindukanmu, terutama.

Selanjutnya

Tutup

Gayahidup Artikel Utama

Melirik Wajah Sales Musim Dingin di Prancis

1 Februari 2019   00:25 Diperbarui: 1 Februari 2019   04:43 0 53 26 Mohon Tunggu...
Melirik Wajah Sales Musim Dingin di Prancis
Melongok etalase toko dengan iming-iming diskon raksasa sudah menjadi pemandangan yang lazim dalam periode sales (foto : latribune.fr/Vincent KESSLER)

Diskon oh diskon! Di mana-mana dalam dunia per-shopping-an, diskon adalah momen yang ditunggu-tunggu layaknya menanti kencan pertama. Diskon adalah saatnya belanja borongan tanpa menyayangkan berlembar-lembar uang yang akan melayang.

Diskon adalah penyembuh sementara patah hati (buat saya) karena minyak kayu putih hingga Betadine sudah tidak ampuh lagi ahahaha. Dan diskon adalah saatnya para kartu di dalam dompet berteriak untuk tidak digesek berlebihan hingga di bawah limit. Dan selanjutnya... terserah Anda.

Di Prancis, terdapat dua sales berskala nasional (les soldes nationaux) yang dirayakan secara besar-besaran yaitu sales musim panas (Les Soldes d'Été) dan sales musim dingin (Les Soldes d'Hiver) yang sekarang sedang enak-enaknya berlangsung.

Semua tata cara dan ketentuan penyelenggaraan sales ini sudah dirumuskan di dalam Code de Commerce (KUHD-nya Prancis). Masing-masing wilayah memiliki jadwal sales sendiri-sendiri yang sudah ditetapkan oleh pemerintah dengan limit waktu selama 6 minggu untuk tahun 2019.

Penampakan etalase salah satu toko pakaian remaja puteri (foto : Derby Asmaningrum)
Penampakan etalase salah satu toko pakaian remaja puteri (foto : Derby Asmaningrum)
Di Paris dan sekitarnya, sales musim dingin sudah dimulai sejak tanggal 9 Januari 2019 pada pukul 8 pagi teng secara serentak baik di toko-toko nyata maupun butik-butik di internet, mulai dari industri kecil atau sudah tersohor yang memperdagangkan entah itu elektronik, pakaian dewasa, baju anak-anak, sepatu, peralatan dapur, mainan hingga toko alat-alat pertukangan, furniture bahkan hypermarket sebangsa Carrefour (kecuali makanan dan minuman).

Singkatnya semua pedagang wajib berpartisipasi dalam acara ini dan jangan ada dusta di antara kita alias mencurangi konsumen karena kalau soal beginian, pemerintah di sini suka sekali bermain sidak-sidakan. Sales di kota mode ini akan berakhir tanggal 19 Februari 2019 mendatang pada pukul 12 malam untuk yang mau hambur-hamburin duit lewat internet sedangkan di pertokoan, yaa sampe tokonya tutup lah sekitar pukul setengah 9 malam. 

Seminggu sebelum periode sales mengambil alih, fase ventes privées (vente=penjualan, privée=pribadi) tancap gas terlebih dahulu. Les ventes privées ini berupa penawaran yang diberikan khusus untuk para pembeli langganan yang memegang kartu anggota. Potongan harga yang ditawarkan pun cukup menarik, bisa mencapai 40 persen untuk semua produk.

Penawaran khusus bagi pemilik member card di toko pakaian bayi dan anak-anak seminggu sebelum sales dimulai (foto : Derby Asmaningrum)
Penawaran khusus bagi pemilik member card di toko pakaian bayi dan anak-anak seminggu sebelum sales dimulai (foto : Derby Asmaningrum)
Ketika menjalankan amanah sales, terdapat beberapa peraturan yang harus ditaati oleh para pelaku industri perdagangan diantaranya, produk-produk yang didiskon harus merupakan produk yang sudah dijual ke publik minimun sebulan sebelum palu sales diketok.

Harga asli dan angka diskonnya harus terpampang jelas dan nyangkut di produk tersebut. Selain itu, produk-produk yang di-sale juga harus disusun di rak atau mempunyai area tersendiri di dalam toko untuk memudahkan mata konsumen yang mendelik mencari-cari.

Harga asli dan tag diskon yang diberikan harus terpasang di produk (foto : Derby Asmaningrum)
Harga asli dan tag diskon yang diberikan harus terpasang di produk (foto : Derby Asmaningrum)
Sales di Prancis dibagi dalam 4 tahapan penurunan harga, dimulai dari minggu pertama yang merupakan debut sales, biasanya toko-toko masih ogah-ogahan menurunkan harga dengan hanya memasang diskon 20 hingga 30 persen meski tak jarang ada beberapa toko yang langsung to the point menawarkan 50 persen, biasanya koleksi-koleksi lama yang hendak 'dibuang'.
Barisan para baju yang didiskon berhimpitan tengah menunggu pembeli (foto : Derby Asmaningrum)
Barisan para baju yang didiskon berhimpitan tengah menunggu pembeli (foto : Derby Asmaningrum)
Minggu kedua hingga ketiga, angka diskon diperbesar lagi hingga 70 persen. Biasanya mulai minggu ketiga ini histeria sales sudah menurun karena banyak produk-produk favorit yang sudah lenyap sejak minggu pertama sehingga yang tersisa hanyalah barang-barang yang dianggap 'nggak bagus' atau kurang diminati dari segi kegunaannya.

Minggu keempat hingga minggu keenam alias minggu terakhir disebut dengan dernière démarque (dernière=terakhir, démarque=perubahan harga) atau turun harga hingga titik darah penghabisan yang merupakan kesempatan terakhir bagi para konsumen untuk mengejar barang-barang diskon.

Di masa ini pegawai toko pun sudah meminggirkan produk-produk sales di pojok ruangan. Selebihnya, ruangan toko sudah benar-benar terisi dengan koleksi terbaru, yang tentu saja, no discount lah yaww.

Diskon di toko sepatu mix gender. Toko-toko sepatu di Prancis menganut sistem self-service di mana pembeli memilih dan menjajal sendiri sepatu-sepatu yang diinginkan. Jika akhirnya tidak jadi membeli, sepatu-sepatu tadi harus dikembalikan ke tempatnya semula (foto : Derby Asmaningrum)
Diskon di toko sepatu mix gender. Toko-toko sepatu di Prancis menganut sistem self-service di mana pembeli memilih dan menjajal sendiri sepatu-sepatu yang diinginkan. Jika akhirnya tidak jadi membeli, sepatu-sepatu tadi harus dikembalikan ke tempatnya semula (foto : Derby Asmaningrum)
Berjibaku di saat-saat sales, terlebih jika memburu pakaian khususnya bagi para wanita, fitting room pun menjadi penuh sesak apalagi di Jumat sore dan Sabtu karena di Prancis sebagian besar pusat perbelanjaan menutup diri pada hari minggu. Ngomong-ngomong tentang fitting room, ribet adalah kata yang saya gambarkan ketika akan menjajal pakaian di dalam ruangan kecil bersekat itu.

Pertama, harus melepas jaket lalu menanggalkan pullover, mencopot kaos, naah baru deh bisa mencoba baju yang lagi didiskon. Ribet yang kedua adalah harus memakai kembali segala yang kita lucuti dari badan tadi. Ngos-ngosan juga cuma mau jajal baju, belum tentu dibeli pula ditambah menunggu antrian yang panjang dan cukup lama karena tiap-tiap manusianya melakukan ritual keribetan yang sama di dalam kamar pas seperti saya tadi. 

Tidak hanya berburu di toko-toko konkret, dengan teknologi yang berkembang biak dalam satu kedipan mata, konsumen di Prancis juga tertarik menikmati sales lewat internet alias belanja online.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x