Deny Oey
Deny Oey Creative Writer

just an ordinary man who love foods, writing and traveling. https://fromjourneytostory.wordpress.com

Selanjutnya

Tutup

Muda Pilihan

Belajar "Gambaru" dan Budaya Malu dari Orang Jepang

11 Desember 2017   22:40 Diperbarui: 2 Januari 2018   21:50 2029 4 3
Belajar "Gambaru" dan Budaya Malu dari Orang Jepang
Father of G-SHOCK (sumber: www.bisnis.com)

"Doko made mo nintai shite doryoku suru (bertahan sampai kemana pun juga dan berusaha habis-habisan)" - Filosofi Gambaru.

Melihat perawakannya, dengan tubuh kurus dan rambut beruban, saya menebak usianya sekitar 60-an, sama seperti ayah saya. Namun siapa sangka, dibalik sosok tersebut tersirat semangat juang dan pantang menyerah yang tinggi. Hasil dari perjuangannya adalah inovasi, suatu pengembangan yang meningkatkan kualitas hidup jutaan manusia.

Kikuo Ibe, atau akrab disapa Ibe-san. Melalui kerja keras dan tangan dinginnyalah tercipta sebuah produk jam tangan yang tahan banting, G-SHOCK. Awal mula ide menciptakan jam tangan kuat tersebut adalah pengalaman pribadinya yang sentimentil. Saat itu, Ibe-san tanpa sengaja menjatuhkan jam tangan pemberian ayahnya hingga rusak. Ia pun merasa bersalah dan sedih.

Bagi sebagian orang, bila jam tangan jatuh dan rusak mereka akan membetulkannya atau menggantinya dengan yang baru. Namun berbeda dengan Ibe-san, ia bertekad agar jangan sampai ada yang mengalami kejadian sepertinya. Karena itulah ia menciptakan G-SHOCK setelah melalui ratusan percobaan dan kegagalan.

Gambaru! (sumber: www.pemilik.web.id)
Gambaru! (sumber: www.pemilik.web.id)

Gambaru dalam kehidupan orang Jepang

Saya selalu tertarik dengan kehidupan dan etos kerja orang Jepang. Salah satunya filosofi "Gambaru", yakni semangat pantang menyerah dan usaha habis-habisan. Gambaru merupakan falsafah hidup yang diwariskan secara turun temurun. Bahkan, sejak usia 3 tahun, anak-anak Jepang sudah diajarkan filosofi Gambaru di sekolahnya. Misalnya, belajar memakai pakaian berbahan tipis di musim dingin, agar tidak manja terhadap cuaca dingin.

Filosofi Gambaru jugalah yang menjadi dasar bagi Ibe-san untuk menciptakan G-SHOCK. Meski tidak menjelaskan secara terbuka, filosofi itu terlihat jelas karena ia selalu mengatakan pada dirinya sendiri 'Never Never Never, Give Up!'

Apakah mudah? Tidak! Ibe-san membutuhkan waktu yang cukup lama dan berkali-kali gagal. Namun dia sudah bertekad bulat untuk terus mencoba.

"Tekad tersebut yang memicu saya bereksperimen selama dua tahun penuh, dengan 200 prototipe, dan akhirnya menghasilkan inovasi desain hollow case, berikut bantalan pengaman sebagai pelindung menyeluruh yang semuanya merupakan bagian penting dari ketangguhan G-SHOCK," ujarnya dalam acara Media & Blogger Gathering CASIO: G-SHOCK di Kuningan, Kamis (7/12/2017).

Ibe-san saat memberikan keterangan (sumber: www.kompas.com)
Ibe-san saat memberikan keterangan (sumber: www.kompas.com)

Dalam pengembangannya, Ibe-san menguji jam buatannya di tempat "rahasia", yaitu di toilet Divisi Research and Development tempatnya bekerja di Hamura, Jepang. Ia menjatuhkan jam tangan yang dibungkus karet dari lantai tiga dengan ketinggian 10 meter. Hasilnya, jam pun hancur berkeping-keping. Namun upaya trial and error serta perbaikan terus dilakukan.

"Ketika saya berhasil menguatkan mesin jam menjadi tahan banting pun, masalah masih muncul. Yang pecah justru layarnya, atau koilnya putus, atau part lain," terang Ibe.

Di tengah kebuntuannya, suatu hari ia duduk di taman untuk merenung dan memperhatikan seorang gadis kecil yang bermain bola.

"Bola itu dipantul-pantulkan, saya lalu berpikir bagaimana jika konsep yang sama dipakai untuk melindungi mesin pada jam?" cetusnya.

Dari situlah bagi Ibe-san segalanya menjadi jelas. Ia mendapat ide jam tangan mengapung dengan struktur lima tahapan untuk melindungi mesin jam dari getaran dan goncangan, yakni case keemasan, case logam, cincin karet pelindung, cincin logam pelindung dan karet pelindung serta struktur mesin mengapung dengan kontak titik.

G-SHOCK (sumber: Dokumentasi Pribadi)
G-SHOCK (sumber: Dokumentasi Pribadi)

Setelah perjalanan panjang, tahun 1983 Casio meluncurkan G-SHOCK DW5000C sebagai jam tangan terkuat, tangguh dan tahan banting. Nama G-SHOCK berasal dari kata 'Gravitation Shock' dimana jam tersebut memang dirancang kuat menghadapi segala jenis gravitasi. Dengan desain universal, G-SHOCK cocok untuk laki-laki maupun perempuan baik kaum muda maupun dewasa.

Pentingnya budaya malu

"Saya sampai berpikir untuk mengundurkan diri jika proyek ini gagal, saya nyaris menyerah," ujar Ibe-san.

Sama seperti manusia lainnya. Ketika mengalami banyak kegagalan, Ibe-san hampir saja menyerah. Namun ada suatu hal yang akhirnya membuat Ibe-san harus melanjutkan risetnya atau berhenti saat itu juga.

"Perusahaan memang tidak memberikan tekanan. Tetapi saya tetapkan dalam hati, kalau gagal lagi dua tahun, maka saya akan mengundurkan diri," tegasnya.

Terdengar ekstrim atau cukup keras. Tapi inilah suatu budaya yang dipegang teguh oleh bangsa Jepang, yaitu budaya malu. Beberapa tahun lalu saya pernah melihat berita dimana salah satu pejabat disana mengundurkan diri karena terbukti telah menerima suap 'sebesar' Rp 7 juta (jika dikurs menggunakan rupiah). Atau ketika pemimpin perusahaan lebih memilih mundur karena gagal mencapai target perusahaan.

Budaya malu inilah yang ditanamkan dalam setiap individu bangsa Jepang, sehingga mereka memiliki target pribadi atau goal dan akan sangat malu bila gagal mencapainya. Sama seperti filosofi Gambaru, meski hanya tersirat namun saya bisa melihat bagaimana budaya malu juga dijunjung tinggi oleh Ibe-san. Kegagalan adalah suatu noda, ia sudah bertekad dan harus berhasil. Bila gagal, ia harus angkat kaki dari perusahaannya meski tidak dipecat.

Produk G-SHOCK (sumber: Dokumentasi Pribadi)
Produk G-SHOCK (sumber: Dokumentasi Pribadi)

Atas inovasinya, Kikuo Ibe digelari sebagai "Father of G-Shock" atau Bapaknya G-SHOCK. Seandainya Ibe-san menyerah dan melupakan ambisinya membuat jam tangan yang tangguh dan tahan banting, mungkin dunia tak akan mengenalnya sebagai inovator ulung yang pantang menyerah dan mungkin kita juga tidak akan pernah melihat G-SHOCK.

Semangat berinovasi dan menularkan virus pantang menyerah.

Sebagai Advisory Engineer for Product Strategy Planning, Timepiece Product Division Casio Computer Co. Ltd. Jepang, Kikuo Ibe kini juga menjadi duta besar CASIO G-SHOCK dan menyebarkan virus G-SHOCK ke semua orang. Khususnya memotivasi anak-anak muda dan memacunya dalam berinovasi. Dalam acara tersebut, hadir tiga inovator muda yang memiliki dorongan semangat yang sama, yakni pantang menyerah. Mereka adalah Co-Founder Kata.ai Irzan Raditya, Founder Bahaso.com Tyovan Ari Widagdo, dan artis muda berbakat sekaligus Co-Founder #KejarMimpi Maudy Ayunda.

Kata.ai adalah platform chatbot pertama di Indonesia yang memanfaatkan teknologi Artificial Intelligence (AI). Teknologi ini dapat digunakan oleh korporat untuk berinteraksi online dengan pelanggan mereka. Dengan menanamkan inovasi fitur Natural Language Processing yang berfungsi menyelaraskan bahasa komputer dengan linguistik manusia, teknologi ini juga bisa memahami berbagai istilah yang biasa digunakan orang-orang Indonesia ketika berkomunikasi lewat pesan singkat online.

"Kami melihat bahwa ternyata orang Indonesia memiliki banyak sekali cara untuk merujuk pada satu hal. Mereka bahkan memiliki hampir 10 cara yang berbeda untuk mengganti kata 'saya'. Kata.ai berinovasi untuk mengatasi komplikasi semacam ini, dan kami menerima respon positif dari berbagai perusahaan klien kami untuk menciptakan interaksi online dengan pelanggan mereka," kata Irzan.

Kikuo Ibe dan para inovator muda (sumber: Dokumentasi Pribadi)
Kikuo Ibe dan para inovator muda (sumber: Dokumentasi Pribadi)

Sementara itu, Bahaso.com adalah platform online untuk belajar bahasa asing yang juga menawarkan kelas tatap muka dengan sertifikat resmi dari Universitas Indonesia.

"Awal saya menciptakan startup ini adalah karena di zaman sekarang kita harus menguasai, setidaknya, satu bahasa asing," ujar Tyovan yang mengaku wong asli Wonosobo.

Terakhir, Sebagai musisi muda berbakat dan aktris papan atas, Maudy Ayunda berbagi misi untuk membangun Indonesia yang lebih baik melalui kaum muda yang memiliki impian besar. #KejarMimpi adalah gerakan sosial yang diprakarsai oleh Maudy dan beberapa rekannya yang memotivasi generasi muda Indonesia untuk mencari mimpinya dan mewujudkannya.

"Aku ingin membantu anak-anak muda di seluruh Indonesia mewujudkan mimpinya. Aku keliling ke kampus dan sekolah, kita saling cerita dari hati ke hati, lebih tepatnya saling berbagi pengalaman," kata Maudy yang juga menciptakan lagu berjudul sama yang terinspirasi dari gerakan sosial tersebut.

"Kami telah mempertemukan mereka dengan para pemimpin inspiratif sebagai bagian dari inisiatif kampanye agar turut termotivasi, dan Kikuo Ibe adalah salah satu tokoh inovator terkemuka yang terus mengekspresikan semangat tidak pernah menyerah dan kita semua dapat belajar banyak darinya," tambahnya.

Sebagai penutup, Ibe-san juga menyemangati kaum muda untuk terus beinovasi dan berkarya. Untuk menjadi history maker, sama seperti dirinya yang tak kenal lelah membangun G-SHOCK selama 34 tahun!

"Satu hal yang ingin saya sampaikan kepada anak muda Indonesia, tantangan dan kesulitan akan selalu ada. Ketika terhalang sebuah 'tembok besar', lihatlah ke pergelangan tangan kalian. Saya harap G-Shock bisa mengingatkan dan memberi kalian semangat untuk mampu menghadapi tantangan, dan pantang menyerah menggapai mimpi."

Arigatou Ibe-san (sumber: Dokumentasi Pribadi)
Arigatou Ibe-san (sumber: Dokumentasi Pribadi)