denny suryadharma
denny suryadharma

lahir di bandung, suka dengan dunia buku dan menulis lepas.

Selanjutnya

Tutup

Musik Pilihan

Seperti Cinta Margie pada Jazz

9 Oktober 2018   23:04 Diperbarui: 10 Oktober 2018   05:25 491 0 0
Seperti Cinta Margie pada Jazz
Dokpri

But sing the Song / Forgotten for so long / and let the music flow / like light into the rainbow ///

Lirik tembang Antonio's song yang dipopulerkan oleh Michael Frank itu dinyanyikan secara apik dan mewah oleh musisi jazz Indonesia Margie Segers. Lagu itu menemani makan malam kami yang sederhana dikawasan dago Bandung. Di bawah cahaya cempor cerita cinta itupun terus berlanjut hingga saat ini. (meski sekarang tempat kenangan sama si bubu sudah tidak ada berubah jadi hotel hehehe)

Sejak saat itu, meski hanya lewat lagu saya mengenal Margie Segers, seorang penyanyi Jazz Indonesia yang populer dengan tembang "semua bisa bilang" dan menggapai tangga keemasan di tahun 70 hingga 80 han itu. Tidak ada mimpi sedikitpun untuk bisa bertemu dengannya, namun harapan itu tetap ada dan akhirnya terwujud setelah 10 tahun kemudian.

Selepas magrib, sengaja bernostalgia pake motor bebek menuju hotel papandayan bandung. Atas jasa baik dari marcom the papandayan Hotel Bandung, Tyagita, aku mendapat kesempatan untuk bisa menyaksikan pagelaran TP Jazz Festifal 2018 dan menikmati permainan musisi papan atas tanah air tidak hanya satu hari tapi selama tiga hari berturut turut. (kalo rezeki emang ga kemana)

Bertemu Dengan Margie

kompasiana-margie-tp-jazz-2018-5bbcd0f36ddcae4dba37aef4.jpg
kompasiana-margie-tp-jazz-2018-5bbcd0f36ddcae4dba37aef4.jpg
Niat awal ingin bernostalgia, menikmati tembang elfas namun ternyata ada kejutan lain yang didapat. Tidak ada firasat apapun sebelumnya karena Margie tidak ada dalam daftar musisi pengisi TP Jazz Festifal 2018 ini. Namun di tengah pertunjungan elfas yang suara dan kekompakan di panggung masih harus diacungi jempol, salah seorang personelnya Lita Zein, menginformasikan kehadiran musisi jazz senior tanah air dan memberikan kesempatan untuk naik ke atas panggung.

Setelah berbasa basi sedikit, akhirnya sang musisi jazz senior ini bernyanyi dan walah suara ini, ya suaranya sangat aku kenal. Dan seperti gelombang lompatan lompatan memori segera memenuhi kepala, begitupun dengan lagu lagu yang sering aku putar hampir setiap hari. Tanpa sadar kaki ini melangkah untuk lebih mendekat dan ya, tubuh mungilnya, dan improvisasi dalam melantunkan music mampu memcairkan dan memberi warna tersendiri. Pengalaman puluhan tahun di dunia tarik suara mampu memukau penonton meski mungkin diantara mereka ada yang tidak tahu siapa sosok penyanyi kelahiran cimahi yang fasih berbahasa belanda ini.

Meski, penyanyi cantik raisa sudah naik panggung, namun dorongan sentimental ini memaksa untuk bisa berjabat tangan, berfoto bersama dan berbincang (meski hanya sejenak) dengan diva Jazz Indonesia ini. dengan ramah dan sesekali meluncur guyunan segar, Margie tidak canggung untuk bercerita akan harapannya kedepan tentang music jazz Indonesia.

Lahir dari Keluarga Penyanyi

Dari sejumlah informasi yang dihimpun, Margie memilih jalur music sebagai jalan hidupnya karena dia memang dilahirkan dari keluarga pemusik. Meski secara formal Margie tidak belajar musik, namun ia mengaku mendapatkannya dari lingkungan terdekat. Ibunya Maria Rina Pietersz seorang penyanyi Gospel. Sedangakan ayahnya Anton Segers (seorang tentara knil) juga adalah seorang penyanyi kroncong dan Hawaiian di Belanda dan dari merekalah darah seni itu mengalir.

Margie menjadi nama keberuntungannya

Saat pertama kali masuk dalam blantika music Indonesia, Margie menggunakan nama Meity, namun pertemuannya dengan Jack Lesmana dan Drs. Purnomo (mang udel) memberikan nama Margie sebagai nama panggungnya sebagai nama komersil. Dan setelah itu, Margie sedikit demi sedikit dengan nama Margie akhirnya mampu menggapai puncak keemasannya dan menjadi penyanyi papan atas wanita Indonesia.

Semangatnya tetap menyala, tidak terhalang oleh usia, Margie masih ingin terus berkarya dan berbuat banyak untuk Jazz yang dicintainya ini. sebelum menutup perbincangan dia menitipkan pesan untuk tetap menjaga cinta kasih, dan ciptakan damai di dunia (lewat lagu).

Dokpri
Dokpri
Malam semakin larut, dan perhelatan music jazz tahunan di kota Bandung itu pun berakhir. Namun kenangan dan semangat yang dititipkan sang diva akan tetap menyala. Seperti cinta kasih kami yang terus dijaga sebagai cahaya untuk menapaki lembar demi lembar kehidupan. Motor bebek tua inipun membelah dinginnya malam (dan sayapun masuk angin karenanya hehehe) mengantarkan kami kembali ke peraduan sambil ditemani suaranya yang masih terngiang merdu.

Seperti bait lagu Flay Me The Moon Frank Sinatra yang dinyanyikan oleh Margie dengan sentuhan Jazz, Fill my heart with song / and let me sing ever more / yaou are all I long for / aal I worship an adore // In other word / plase be true // in other word / I love you ///