Erni Purwitosari
Erni Purwitosari Wiraswasta

Blogger, Penulis "Ketika Srikandi Bersepeda," Biker, Rider, Odoper, Penggiat Budaya dan Pencinta Sejarah.

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Kota Tangerang Bersiap untuk Menjadi "The Next Kota Batik"

12 April 2019   02:39 Diperbarui: 12 April 2019   07:17 62 3 1
Kota Tangerang Bersiap untuk Menjadi "The Next Kota Batik"
Dokpri

MEMBATIK.  Tradisi turun-temurun yang telah lama dilakukan oleh nenek moyang bangsa Indonesia. Terutama mereka yang tinggal di Pulau Jawa. Tradisi ini harus terus dilestarikan agar tidak punah. Karena sudah menjadi bagian dari budaya bangsa. 

Setelah batik diakui oleh dunia sebagai warisan tak benda asli Indonesia. Maka menjadi tugas dan tanggungjawab kita semua untuk menjaga, merawat dan melestarikannya. Bukan hanya tanggungjawab orang Jawa semata yang kental dengan tradisi membatiknya.

Salah satu caranya adalah dengan mempelajari tentang apa dan bagaimana membatik itu? Bagi pembatik awam atau yang baru belajar membatik. Perlu kiranya mengetahui bagaimana proses membatik sesungguhnya. 

Mulai dari proses menggambar pola, mencanting dan mencelupkan warna hingga pembuangan limbah. Upaya ini dilakukan dengan cara mengikuti pelatihan membatik dan melihat langsung proses membatik di daerah yang telah ditetapkan sebagai kampung batik.

Menyikapi hal tersebut pihak Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Tangerang telah melaksanakan kedua kegiatan tersebut. Hal ini sebagai upaya pemerintah Kota Tangerang dalam  turut serta melestarikan dan aktualisasiasi budaya daerah. Dalam hal  ini budaya dan tradisi membatik. 

Selama kurang lebih satu Minggu, Disbudpar Kota Tangerang yang dimotori oleh Jajat Jafar  S. sos beserta jajarannya menggelar pelatihan membatik bagi warga di Kecamatan Larangan Selatan. Dengan mengambil tenaga pengajar dari Mbatikyuk Workshop, Dr. Ir. Indra Tjahyani, para peserta pelatihan mendapat ilmu membatik secara teori dan juga praktek. 

Para peserta pelatihan membatik sedang mendapat kunjungan dari Kadisbudpar/Dokpri
Para peserta pelatihan membatik sedang mendapat kunjungan dari Kadisbudpar/Dokpri
Peserta pemula diajarkan cara membuat pola batik sampai cara mencampur warna. Sedangkan peserta yang sudah tingkat terampil dan mahir mendapat ilmu baru, yakni membatik dengan teknik canting dan celup. 

Peserta tingkat ini sebelumnya telah mendapatkan ilmu membatik teknik colet. Karena pelatihan membatik ini diadakan setahun sekali sebagai bagian dari agenda kegiatan Disbudpar Kota Tangerang.

Setelah mengikuti pelatihan membatik, para peserta diajak mengunjungi salah satu kampung  batik untuk  study  banding. Kelak, para  peserta yang mayoritas ibu-ibu rumah  tangga ini bisa menjadikan batik sebagai kegiatan dan usaha sampingannya. Yang nantinya bisa menguatkan dan mendukung ekonomi keluarga. 

Penyerahan kenang-kenangan kepada Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Tangerang Hj.Rina Hernaningsih  S.H.M.H/Dokpri
Penyerahan kenang-kenangan kepada Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Tangerang Hj.Rina Hernaningsih  S.H.M.H/Dokpri
Jika tahun lalu para peserta diajak mengunjungi Kampung Batik Trusmi. Untuk kali ini tujuan kunjungan adalah ke Kampung Batik Ciwaringin. Keduanya merupakan daerah yang menjadi pusat batik di Cirebon. Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Tangerang Hj. Raden Rina Hernaningsih S. H. M. H turun langsung memberikan pendampingan untuk kegiatan ini. Mulai dari mengunjungi tempat pelatihan sampai kunjungan ke kampung batik. Hal ini membuktikan keseriusan pemerintah Kota Tangerang dalam turut serta melestarikan batik. 

Pemilihan Kota Cirebon untuk study banding dikarenakan kota ini telah menjadi kota batik yang cukup terkenal. Di dalam dan luar negeri. Bahkan motif batik Megamendung telah menjadi icon kota ini. 

Hari itu Selasa, 9 April 2019 pukul 03.30 WIB para  peserta yang mayoritas ibu-ibu telah berkumpul di satu  titik dan siap untuk berangkat ke Cirebon.  Tujuan utamanya ke desa Ciwaringin. 

Salah satu kabupaten di wilayah Cirebon yang terkenal akan batik tulis dengan pewarna alaminya. Tentang bagaimana dan seperti apa penggunaan pewarna alami tersebut, menjadi pembelajaran penting bagi para peserta pelatihan. Kelak mereka bisa menentukan apakah akan menggunakan pewarna alami ataukah pewarna kimia untuk membuat batik khas Kota Tangerang. Tentu saja setelah menimbang baik buruknya penggunaan kedua pewarna tersebut.

/Dokpri
/Dokpri
Setelah melakukan perjalanan sekitar 8 jam akibat macet yang cukup parah. Akhirnya rombongan tiba juga di desa Ciwaringin. Kampung batik tulis khusus pewarna alami. Di sana rombongan disambut oleh ketua koperasi serba usaha "Anugerah Batik" Nur Salim dan rekan-rekan. 

Proses pewarnaan dengan menggunakan kulit mangga/Dokpri
Proses pewarnaan dengan menggunakan kulit mangga/Dokpri
Banyak ilmu yang didapat dari kunjungan ini. Terutama tentang penggunaan pewarna alami dalam membatik. Rombongan juga diajak melihat langsung kegiatan para warga yang sedang membatik di teras maupun di pekarangan rumah. Sekitar kurang lebih 150 warga di sini kegiatan sehari-harinya adalah membatik. 

Menurut Nur Salim tradisi membatik masyarakat di desa Ciwaringin ini telah ada sejak akhir abad ke-18. Tahun 2013 pembatik di desa ini ada yang sudah berusia 100 tahun. Dan ia sudah membatik sejak usia ABG. Bisa dibayangkan bagaimana batik sudah mendarah daging dalam tubuh masyarakat desa Ciwaringin. 

Para peserta menyaksikan langsung proses mencanting warga desa Ciwaringin/Dokpri
Para peserta menyaksikan langsung proses mencanting warga desa Ciwaringin/Dokpri
Dalam perjalanannya kenapa Batik Trusmi lebih dulu dikenal oleh masyarakat luas? Hal ini disebabkan oleh lokasi desa yang memang bertolak belakang. Jika Batik Trusmi berada di dekat pusat kota. Sementara Batik Ciwaringin berada di pelosok desa. Tetapi keduanya memiliki ciri khas dan keistimewaan masing-masing. 

Batik Ciwaringin dengan hampir 95% menggunakan pewarna alami. Dan dipengaruhi oleh corak Batik Lasem. Sementara Batik Trusmi lebih mengarah ke motif Batik Pekalongan. Meski tiap desa memiliki ciri khas masing-masing tetapi ada satu motif batik yang mewakili daerah ini secara keseluruhan, yaitu motif Batik Mega Mendung.

Motif batik Mega Mendung di antara batik tulis Ciwaringin/Dokpri
Motif batik Mega Mendung di antara batik tulis Ciwaringin/Dokpri
Siapa yang tak mengenal Batik Mega Mendung? Bahkan dunia sangat mengenal bahwa motif Batik Mega Mendung berasal dari Cirebon, Jawa Barat, Indonesia. Terkait hal ini Kota Tangerang sedang berupaya menjadi salah satu kota yang juga dikenal akan batiknya. 

Ada beberapa wilayah di Kota Tangerang yang bisa disebut sebagai kampung batik. Salah satunya Kampung Batik Kembang Larangan dengan cirinya Batik Kembang Mayang. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2