Mohon tunggu...
Deni Kusuma
Deni Kusuma Mohon Tunggu...

Mahasiswa Universitas Gadjah Mada. Jurusan Ilmu Sejarah.

Selanjutnya

Tutup

Filsafat

Menggenggam Dunia Dalam Tangan

25 Desember 2014   05:33 Diperbarui: 17 Juni 2015   14:30 0 0 0 Mohon Tunggu...

Tak peduli apakah kita senang atau tidak, dunia kini makin dicirikan oleh keterputusan (diskontinuitas) radikal, dan kejutan masa depan telah melanda sebagian besar wilayah masyarakat manusia. (William. F. O’ Neil).

Begitulah faktanya, kini manusia memang ditarik paksa untuk berpikir realistis dan rasionalis untuk mampu bertarung dengan masa depan yang bersifat diskontinuitas. Dengan berpikir realistis manusia akan melihat kehidupan sebagaimana adanya, kehidupan yang tidak di reka-reka dalam dunia imajinasi. Kehidupan masa depan dan masa kini tidak lagi menganggap manusia sebagai makhluk yang sempurna, karena manusia yang sempurna bagi kehidupan tersebut adalah manusia yang menggenggam dunia beserta kehidupannya dengan tangannya.

Melakukan pergerakan untuk satu perubahan adalah salah satu cara untuk menjadi manusia yang dapat menggenggam dunia dengan tangannya. Karena jika tidak demikian maka dunia ini akan yang akan bergerak dan melindas manusia dengan kebusukannya. Jika memang itu yang terjadi pada manusia maka kehidupan akan menyambut manusia dengan futureshock.

Futureshock(kejutan masa depan), ialah Alvin Toffler yang membuat istilah tersebut memberikan arti tekanan yang mengguncangkan dan hilangnya orientasi yang dialami oleh individu-individu jika mereka dihadapkan dengan terlalu banyak perubahan dalam waktu singkat. Berdasarkanrealitas, yang ditulikanolehAlfinTuflerterhadapkejutan masa depan yang dialamiolehindividu-individu yang melakukanperubahandalamwaktusingkatmengakibatkanhilangnyaorientasi. Namunberdasarkanrasionalitas, jikamanusiastagnandengankondisiminimalistanpamelakukanperubahanpositifmakamanusiaakandikejutkandenganhilangnyaorientasikemanusiaan. Hal ituterjadikarena masa depan di era globalisasi yang bersifatmenyeluruhakanmemasukidanmenjajahsegenapelemenkehidupan, pendidikan, moral, ekonomi, politik, sosialdanbudaya. Globalisasi yang dijadikan stigma negatifolehmanusiaheterodoksakanmenjadikankehidupan masa depansemakinberperanketerpurukan. Olehkarenaitumanusiaditarikberfikirrasionalitydanbertindak reality untukmengunjungikehidupan masa depandenganpenuhkeberanian.

Untukmewujudkan stigma positifdalammenghadapikehidupanglobalisasi yang dianggap negative,pendidikanmenjadialternatifuntukmerubahnya. Pendidikanakanmengarahkandanmenciptakansikapmodernitassehinggamenghasilkanmesinintelektual. Denganadanyamesinintelektualtersebutakanmengahasilkansuatukeyakinanbahwatidakadasatu pun di duniaini yang misteri, tidakada yang tidakdapatdiungkapkanapabilapikirandijadikanpedoman.

Kondisiduniaglobalisasisaatiniharusdisikapidengansikapmodernismeberupaketergantunganpra-modern padatradisidankesinambungan yang memberijalanmenujukomitmenterhadapmanfaatperubahan yang diilhamiolehpikiran, inovasi, dankemajuan sehingga pola berpikir modernis bertujuan mementingkan ilmu pengetahuan yang akan mempengaruhi kondisi manusia agar menjadi lebih baik. Berarti modernitas mengandung satu makna yang memberikan upaya terus-menerus melakukan perbaikan dalam kehidupan dan upaya mencapai kemajuan.

Alam ini memberikan satu aksi kepada para undangan (manusia) yang untuk sementara tinggal di dalamnya. Aksi yang diberikan berupa satu ajakan dan penolakan terhadap kehidupan, apakah manusia akan mengikuti satu ajakan alam atau pergi meninggalkannya dan berbalik menjadi pembuat aksi. Manusia akan berpikir dan bertindak untuk mengikuti apa yang diaksikan oleh alam. Alam pada masa ini sudah menyelesaikan aksinya yang berhasil melibatkan seluruh elemen alam, yang menjadi unsur tertinggi dalam kehidupan; air, udara, tanah dan api. Keempat unsur tersebut membentuk alam menjadi ideal dan begitu mengagumkan sehingga dengan itu alam menarik manusia untuk bergabung dan mencitakan ajaran baru dengan konsep naturalistik. Dengan konsep tersebut manusia mulai bergerak menuju pola kehidupan yang makmur yang secara tidak disadari manusia telah dikendalikan oleh alam. Hal itu terjadi dengan sederhana dan tidak terlalu banyak tuntutan dalam perubahannya, karena memang demikian itu manusia menjadi makhluk yang dikendalikan oleh alam. Posisi manusia yang seperti itu dinamakan pasif man, bagaimana manusia hanya berserah diri dengan alam dan hukum-hukum di dalamnya. Namun hal itu mengurangi kerusakan krusial pada manusia itu sendiri. Sikap yang diperankan oleh manusia terhadap alam seperti yang diilustrasikan di atas adalah sikap manusia tradisionalis.

Kini manusia memasuki zaman modern dikarenakan manusia sudah mulai mengenal idealismenya dan mulai mencari kehidupan yang layak sebagai manusia yang dikaruniai akal dan pikiran. Manusia memilih untuk berperan aksi dalam proses kehidupan. Manusia bersatu dan berupaya melakukan tindakan yang dapat menaklukkan alam hingga berhasil mengelola keempat unsur tertinggi pada alam; air, tanah, angin dan air yang pada masa kini manusia berhasil menciptakan keempat unsur tersebut sebagai mesin bagi manusia yang dapat dipekerjakan kapan saja. Manusia pun mulai membuat gelar pada dirinya sendiri dengan sebutan manusia mesin yang menunjukkan manusia berhasil menciptakan mesin.

Pada saat inilah individu-individu ditarik untuk menjadi individu yang cerdas dan kreatif agar bisa menyesuaikan dengan zamannya. Jika tidak dapat menyesuaikan maka individu-individu tersebut yang akan menjadi objek oleh manusia mesin untuk dipekerjakan sebagai mesin. Itu terjadi pada individu-individu yang tidak mau memaksimalkan potensi akal dan pendidikan dalam dirinya. Oleh karena itu, jika manusia tidak ingin dijadikan sebagai mesin oleh manusia mesindi era globalisasi ini maka jadilah manusia mesin yang mampu menggenggam dunia di dalam kepalan tangan.

Meskipun  manusia sudah berhasil menjadi manusia sebenarnya, manusia yang ideal dengan zamannya, yang mampu memasifkan alam, manusia akan tetap berhadapan dengan kerusakan krusial. Itu dapat terjadi karena watak manusia cenderung tidak dapat menjaga keseimbangan akan mengakibatkan manusia dihantam oleh kerusakan alam dan manusia itu sendiri.

Dulu manusia hidup dengan alam, bergantung dengan apa saja disediakan olehnya. Kini manusia sudah berubah secara totalitas dan menjadi pembaharu alam semesta. Manusia yang tidak menyesuaikan diri dengan konsep masa kini maka akan dijadikan objek yang dipekerjakan. Oleh karena itu manusia dituntut paksa oleh dirinya sendiri untuk bisa hidup dengan ukuran zamannya dan menggenggam erat-erat zaman tersebut. Sebagai penambah wacana alam semesta beserta takdirnya maka agama berperan penting dalam mewujudkan keseimbangan. Dalam agama islam, Allah SWT memerintahkan hambanya untuk bersikap pasrah terhadap apa yang telah ia tentukan, namun harus bersabar, dalamartimenjagakeseimbanganantaraperbuatandanpertanggungjawaban.

KONTEN MENARIK LAINNYA
x