Muhammad Dendy
Muhammad Dendy Wirausaha/ Sarjana Ilmu Komunikasi (S.Ikom)

"saya adalah orang yang selalu ingin belajar dan selalu ingin mengembangkan segala potensi yang ada dalam diri saya"

Selanjutnya

Tutup

Kotaksuara Pilihan

Langkah Sunyi Prabowo pada Pilpres 2019

12 Maret 2018   22:50 Diperbarui: 12 Maret 2018   23:07 2095 1 1
Langkah Sunyi Prabowo pada Pilpres 2019
Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto (tribunnews.com)

Masih ingat menjelang pilpres 2014 silam? Dimana seorang prabowo sudah mulai mensosialisasikan dirinya untuk menjadi capres pada pilpres 2014. 

Menjelang pilpres 2014, terutama 2 tahun sebelumnya yaitu tahun 2012, nama Prabowo melambung tinggi karena telah berhasil memenangkan dan membesarkan sosok Jokowi-Ahok, untuk mengisi tampuk kepemimpinan Ibukota Jakarta, menggantikan Foke-Nara yang terlebih dahulu berhasil menjadi pemimpin Jakarta.

Perjanjian batu tulis pada tahun 2009 silam, tentunya menjadi perekat hubungan antara Megawati-Prabowo yang pada akhirnya kandas pada pilpres 2014. Dimana PDIP dan Megawati yang awalnya berjanji akan mengusung Prabowo sebagai Capres pada Pilpres 2014, ternyata berbalik malah mengusung Jokowi yang merupakan kadernya sendiri, yang mana pada Pilkada Jakarta 2012 Prabowo ikut serta membesarkan sosok Jokowi itu sendiri.

Kini Gerindra dan PDIP telah memiliki jalan yang berbeda, meskipun sejak Pilpres 2009 Prabowo dan Megawati sangat akrab hubungannya. Tetapi kali ini saya bukan sepenuhnya akan membahas perjanjian batu tulis, yang sempat membuat rekatnya hubungan Megawati-Prabowo.

Tetapi "langkah Sunyi" Prabowo menjelang pilpres 2019. Kenapa saya sebut judul seperti ini? Karena hingga saat ini Prabowo belum secara serius menatap Pilpres 2019, dan tentu saja berbeda dengan manuvernya pada pilpres 2014. Dimana Prabowo telah jauh-jauh hari sosialisasi untuk dirinya secara serius menatap Pilpres 2014.

Mungkinkah Prabowo sedang menanti momentum?

Pilpres 2014 silam memang Prabowo memiliki momentun, karena dikala itu SBY telah habis masa jabatannya dan tentu saja sudah genap menjadi presiden selama dua periode. Sehingga sudah pasti SBY tidak bisa lagi kembali maju sebagai capres.

Ditambah lagi dalam tubuh Demokrat tidak ada kader potensial kuat untuk dimajukan sebagai capres, selain SBY sang ketua umumnya yang sudah tidak boleh lagi merebut kursi kepresidenan untuk ketiga kalinya.

Konvensi partai Demokrat 2014 terbukti tidak bisa memunculkan siapa yang layak meneruskan sook pengganti SBY selanjutnya. Mungkin inilah momentum Prabowo dikala itu, dimana pada Pilpres 2009 Prabowo bersama Megawati kurang mendapatkan mumentum karena elektabilitas SBY sebagai pertahana dikala itu diatas 60 persen.

Momentum terbaik Prabowo memang sesungguhnya ada pada pilpres 2014 silam, sehingga dikala itu Prabowo dengan mantap secara jauh hari untuk mempersiapkan dirinya sebagai capres.

Elektabilitas Prabowo dikala itu tertinggi mengalahkan tokoh-tokoh besar lainnya seperti Megawati, Ical, Surya Paloh, hingga Jusuf Kalla. Prabowo selalu merajai hasil survey sebagai capres selanjutnya setelah SBY, nah inilah momentum Prabowo tersebut.

berkat kemenangan Jokowi-Ahok ternyata nama Prabowo ikut melambung, karena tak henti-hentinya digempur serangan pemberitaan media. Apalagi ketika kemenangan Jokowi pada Pilkada Jakarta Jokowi sempat disebut media darling, Prabowo sebagai sosok dibalik kesuksesan Jokowi pun ikut terdongkrak namanya.

Tetapi momentum tersebut ternyata milik Jokowi, melalui jabatannya sebagai Gubernur DKI Jakarta, nama Jokowi selalu disebut-sebut oleh media dan tren pemberitaan atas Jokowi pun selalu positif.

Tren positif atas pemberitaan Jokowi tersebut ternyata berbuah melonjaknya elektabilitas Jokowi bahkan hingga melampaui elektabilitas Prabowo. Pada pilpres 2014 ternyata keadaan berbalik, nasib baik dan momentum ternyata milik Jokowi bukanlah Prabowo.

Jika merujuk pada momentum yang gagal untuk didapatkan oleh Prabowo pada pilpres 2014, kali ini pada pilpres 2019 Prabowo mungkin tak mau mengulangi kesalahan yang sama seperti yang terjadi pada pilpres 2014.

Prabowo sepertinya tengah mengamati dinamika politik kini, mulai dari wacana poros ketiga yang akan dibentuk Demokrat, PKB, dan PAN. Serta kode SBY untuk merapat menjadi partai pendukung pemerintahan Jokowi, karena Prabowo kali ini menyadari, salah mengamati momentum sedikit saja bisa saja kegagalan pilpres 2014 akan menghampirinya kembali.

Posisi partai Demokrat yang kini suit ditebak kemana arahnya, sepertinya tengah menjadi pengamatan utama Prabowo. Karena hanya Demokrat saja saat ini yang bisa menjadi pelopor terbentuknya poros ketiga, maka dari itu pengamatan Prabowo sepertinya adalah langkah Demokrat dan SBY kedepannya.

Apakah ada momentum untuk Prabowo pada pilpres 2019? Saya kira Prabowo menanti momentum tersebut, momentum dimana Prabowo dapat melakukan manuver yang secara mendadak dapat mengejutkan berbagai pihak untuk mengeluarkan kartu terakhirnya pada pilpres 2019.

Meskipun Gerindra sudah mendeklarasikan diri untuk tetap mendukung Prabowo sebagai capres 2019, tetapi Prabowo masih saja melakukan langkah sunyi yang berbeda dengan langkah semaraknya pada Pilpres 2014 silam.

Dikala Jokowi, Gatot, Cak Imin, AHY, bahkan Gubernur NTB Tuan Guru Bajang (TGB) yang sukses selama dua periode, telah sukses sosialisasi keseluruh wilayah. Prabowo masih saja melakukan langkah sunyi, karena sosialisasi Prabowo keseluruh daerah jauh lebih minim ketimbang tokoh-tokoh potensial lainnya menjelang pilpres 2019.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2