Mohon tunggu...
Muhammad Dendy
Muhammad Dendy Mohon Tunggu... menulis adalah obat hati

"saya adalah orang yang selalu ingin belajar dan selalu ingin mengembangkan segala potensi yang ada dalam diri saya"

Selanjutnya

Tutup

Politik Artikel Utama

Penolakan Bima Arya dan Beratnya Pertarungan Pilkada Jawa Barat 2018 bagi Ridwan Kamil

31 Agustus 2017   18:17 Diperbarui: 1 September 2017   13:35 5186 2 1 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Penolakan Bima Arya dan Beratnya Pertarungan Pilkada Jawa Barat 2018 bagi Ridwan Kamil
Bima Arya Tolak Ajakan Ridwan Kamil. Sumber :JPNN.COM

Wacana bersandingnya Ridwan Kamil dan Bima Arya dalam pertarungan Pilkada Jawa Barat 2018, sepertinya kemungkinan besar tidak dapat terwujud. Wacana duet kedua tokoh Populer Jawa Barat tersebut sempat menjadi perhatian luas dari publik dan media massa. Karena keduanya dinilai sebagai kepala daerah populer yang dapat menjadi pasangan maut, dan tentu saja dapat menjadi lawan berat bagi kubu Deddy Mulyadi dan Deddy Mizwar. Deddy Mulyadi dan Deddy Mizwar sudah deklarasi dan dapat dipastikan sudah memiliki tiket untuk maju pada Pilkada Jawa Barat 2018 mendatang.

Akan tetapi ternyata wacana tersebut tidak semulus seperti yang dipikirkan oleh Ridwan Kamil. Atau yang biasa disapa dengan sebutan akrab "Kang Emil". Bagaimana tidak, dengan kedekatan yang sudah terjalin sejak lama antara kang Emil dan Bima Arya. Seharusnya wacana duet Tersebut bukan mustahil terwujud. Apalagi Ridwan Kamil selama ini dikenal sebagai kepala daerah populer, yang tentu saja memiliki elektabilitas dan popularitas yang memiliki peluang untuk menang.

Bima Arya malah mengisyaratkan akan kembali maju pada Pilkada Kota Bogor 2018. Sehingga hal tersebut seakan memperjelas bahwa Bima Arya enggan untuk maju menjadi Wakil Gubernur bersama Kang Emil. Pada beberapa kesempatan malah Bima Arya mengatakan peluang dirinya untuk menang pada Pemilihan Wali Kota Bogor 2018 mendatang jauh lebih besar. Ketimbang harus bertarung pada tingkat Jawa Barat bersama Kang Emil untuk kursi Wakil Gubernur.

Medan pertarungan Pilkada Jawa Barat 2018 mendatang, tentu menjadi sangat berat bagi Kang Emil. Bagaimana tidak, terlalu cepatnya Kang Emil mengambil keputusan untuk menerima pinangan dari Partai Nasdem pada maret 2017 lalu. Adalah langkah blunder yang telah diambil Kang Emil. Karena langkah blunder dan keputusan sepihak yang diambil oleh Nasdem dan Ridwan Kamil, seakan membuat PDIP dan Golkar yang tadinya ingin mengusung Kang Emil, berbalik badan dan lebih memilih Deddy Mulyadi.

Kang Emil pada saat itu seolah terbuai dan merasa tinggi hati terhadap berbagai hasil survei lembaga kredibel. Yang menunjukkan betapa tingginya tingkat elektabilitas Kang Emil pada saat itu. Sehingga sebagai tokoh populer di kala itu, Kang emil seperti berharap bahwa pada akhirnya parpol yang akan datang berbondong-bondong untuk mengusung dirinya. Tetapi malah sebaliknya, kini Kang Emil malah harus memutar otak untuk mendapatkan tiket memasuki gelanggang pertarungan Jawa Barat.

Padahal hasil survei tersebut bagaikan buih yang semarak di permukaan laut. Akan tetapi tidak terlihat semarak di dalamnya. Kang Emil memang populer. Akan tetapi hanya populer pada masyarakat tingkat perkotaan saja. Sedangkan basis massa Deddy Mulyadi dan Deddy Mizwar terlihat lebih menyeluruh dan kokoh. Karena Deddy Mulyadi dan Deddy Mizwar lebih populer di kalangan perdesaan. Jumlah penduduk Jawa Barat itu sendiri jauh lebih banyak yang tinggal di perdesaan.

Apalagi belajar dari Pilkada DKI 2017 lalu. Yang mana elektabilitas tinggi bukanlah jaminan kemenangan. Karena begitu dinamisnya pemikiran dan naluri politik pemilih Indonesia pada saat ini.

Mungkin saja Bima Arya sudah memprediksi dan melakukan kalkulasi politik. Apalagi beliau adalah seorang mantan pengamat politik yang pernah menjabat sebagai Komisaris Charta Politika Indonesia. Bahwa jika dirinya maju bersama Kang Emil. Peluang untuk kemenangan dirinya jauh lebih kecil dibandingkan ia kembali mengikut Pilwakot Bogor 2018. Yang tentu saja peluang kemenangannya jauh lebih besar. Sehingga tentu saja sebagai salah satu politisi ulung. Bima Arya sudah melakukan berbagai perhitungan politik sebelum memutuskan untuk enggan maju sebagai wakil gubernur bersama Kang Emil.

VIDEO PILIHAN