Delianur
Delianur Staff Ahli DPR RI - Calon Anggota Legislatif DPR RI Partai Amanat Nasional Dapil Jawa Barat IV (Kota dan Kabupaten Sukabumi) No Urut 6

@delianurm

Selanjutnya

Tutup

Hiburan

Pembaca Buku Dilan Nonton Film Dilan

12 Februari 2018   07:32 Diperbarui: 12 Februari 2018   07:46 662 0 0

Dilan : Dari Baca ke Nonton

Mungkin bila pembaca buku Dilan nonton film Dilan, dia akan mengalami masa menyedihkan selama kurang lebih dua jam itu. Akan lebih banyak bersikap seperti kritikus atau tukang protes film ketimbang menikmati filmnya itu sendiri.

Karena sudah membaca bukunya, dia akan bertanya "Ini Susi nya mana?Kok cuma nongol sebentar saja". "Milea nya ok lah cantik, tapi kok Dilan nya ganteng. Kan di buku juga gak disebutin kalau Dilan itu ganteng". "Dilan Vs Soeripto nya gak seseru dibuku". "Lha, kok gambar Imam Khomeini nya perasaan gak kelihatan", "Wah puisi nya kok dikit banget gak seperti di buku". Dan pertanyaan lainnya.

Apalagi kalau yang nonton itu bukan hanya sudah baca bukunya, tetapi juga orang Bandung. Bakal makin banyak protes dan nanya ini itu. Seperti akan nanya "Rumah di Jl Banteng tapi mau ke ITB kok lewat Gedung Merdeka Asia-Afrika?Itu kan kayak dari Gambir mau ke UI Salemba tapi mobilnya lewat Blok M". Mungkin juga akan ada pertanyaan "Emang ada Angkot Buah Batu - Kebon Kelapa warna hijau".

Tapi sekali lagi, itu sikap penonton yang dominan menjadi kritikus atau pemprotes film bukan sebagai penikmat hiburan. Karena film itu hiburan untuk mengolah rasa sementara dia lebih mengedepankan rasio ketika menontonya, jadinya lebih banyak protes ini itu ketimbang senyum, sedih atau tertawa ketika menikmati alur cerita filmnya.

Mereka luput menikmati betapa kreatifnya seorang anak muda memberi hadiah ulang tahun sebuah TTS yang sudah diisi. Atau tidak mesti terpancing tertawa ketika ada anak muda yang mempunyai cara berbeda ketika mendekati wanita. Seolah di Indonesia ini yang lucu dan menggelikan hanya Presiden Jokowi dan lawan politiknya atau para cebongers dan kampretos.

Hidup itu sangat berwarna. Terlalu mahal untuk terus menerus dimaknai dan dikritisi dengan rumit. Hidup juga perlu dinikmati apa adanya. Ketidaktahuan tidak selalu berarti kebodohan tapi dia juga sering menjadi anugrah.