Delianur
Delianur Staff Ahli DPR RI - Calon Anggota Legislatif DPR RI Partai Amanat Nasional Dapil Jawa Barat IV (Kota dan Kabupaten Sukabumi) No Urut 6

@delianurm

Selanjutnya

Tutup

Hiburan Pilihan

Ulasan Film "Malcolm X"

13 Januari 2018   21:58 Diperbarui: 14 Januari 2018   10:07 1838 1 0
Ulasan Film "Malcolm X"
www.austinchronicle.com

Malcolm X 

Dalam sebuah tamsil yang cukup mashur, diceritakan tentang seorang pertapa yang kesehariannya tidak lepas dari mengingat Tuhannya. Karena dia dianggap sebagai orang yang sangat suci dan terhormat, masyarakat pun sangat menghormati dan menaati dirinya. 

Karena dia mempunyai pengaruh sangat besar juga selalu mendekat pada penciptanya, setan pun senantiasa mengganggu dan menggoda dirinya. Tetapi sekian lama setan menggoda dan sekian upaya dipakai untuk mengganggu, orang tersebut tetap saja tidak tergoda mengikuti ajakan setan. 

Sampai suatu ketika akhirnya setan mempunyai formula menghancurkan orang tersebut. Caranya adalah dengan menitipkan seorang gadis kecil pada si pertapa dengan dalih supaya mengajari kebaikan bagi wanita tersebut. Karena diminta merawat seorang gadis kecil, si pertapa tidak kuasa menolaknya. 

Tetapi waktu berjalan, gadis kecil yang dititipkan kepada si pertapa tumbuh menjadi wanita muda yang manis, cantik dan menggoda. Sekian lama si pertapa menahan hasrat dirinya sebagai lelaki melihat wanita cantik, akhirnya defense mechanism yang dia miliki runtuh. Si pertapa menggauli perempuan yang bukan istrinya alias berzina. 

Usai bersetubuh dengan perempuan yang bukan istrinya, si pertapa takut membayangkan bila kelakuannya itu diketahui masyarakat. Mereka yang menghormati nya bukan hanya berbalik akan mencercanya, bahkan juga mungkin akan membunuhnya. Karena nya si pertapa pun lalu membunuh si wanita tersebut untuk menutupi jejak kejahatannya. 

Usai membunuh, rupanya si pertapa tersebut sadar bila itu juga tindakan terlarang. Si pertapa bingung dengan apa yang sudah dilakukannya. Dalam kebingungan tersebut, dia pun menghadapi nya dengan meminum tuak supaya semua masalah terlupakan. Seketika dalam satu waktu, ada tiga dosa yang dilakukan si pertapa dalam waktu singkat : berzina, membunuh dan meminum arak. 

Mungkin tamsil inilah diantara cara memahami jalan hidup seorang Malcolm X, tetapi dalam alur yang dibalik. 

Sebagai seorang muslim pembela hak-hak warga kulit hitam Amerika, Malcolm seperti memegang teguh ide Islam Transformatif dimana orang mesti aktif melakukan transformasi sosial, tidak boleh diam begitu saja melihat realitas yang menyimpang.

Seperti yang disebutkan Sir Muhammad Iqbal, watak transformasi Islam terlihat dari peristiwa Isra Mi'rajnya Nabi. Bila tujuan tertinggi seorang Muslim adalah bertemu dengan Tuhan-Nya (liqa rabbihi), mestinya ketika Nabi Mi'raj dan bertemu langsung dengan Allah, putra Abdullah ini seharusnya memilih tinggal di langit bersama Tuhan nya. Tetapi itu tidak dilakukan. Nabi memilih kembali ke bumi ketimbang berada di langit bersama Tuhan. 

Masa muda Malcolm juga berbeda dengan si pertapa. Suram dan penuh dengan kekerasan dan kejahatan. Malcolm muda adalah mucikari, pencuri, pemadat, pengedar narkoba juga anggota gang. Adapun masa kecilnya, Malcolm hidup dalam tekanan diskriminasi rasial terhadap warga kulit hitam. Rumahnya dibakar kelompok Kristen fanatik, Ku Klux Klan, yang tidak menghendaki ada orang kulit hitam yang tinggal di daerah mereka. Tidak hanya itu, Bapak nya pun dibunuh dengan cara diikat hidup-hidup di rel kereta api. 

Malcolm kecil juga mesti mengubur cita-citanya untuk menjadi lawyer. Meskipun dia adalah siswa terbaik di kelasnya. Karena lawyer adalah profesi elite yang hanya pantas bagi orang kulit putih.

Kehidupan Malcolm muda berakhir di penjara karena kasus pencurian. Hukuman terhadap Malcolm bertambah berat karena sentimen hakim yang mengetahui kalau Malcolm sudah tidur dengan perempuan kulit putih. Suatu hal yang sangat tabu dan menghina bagi orang kulit putih pada masa itu. 

Tetapi penjara inilah yang kemudian merubah jalan hidupnya. Di penjara Malcolm bertemu dengan Baines, seorang muslim berkulit hitam dari organisasi Nation of Islam, yang mengingatkan Malcolm tentang jalan hidupnya yang keliru dan memperkenalkan Islam sebagai sebuah cara pandang baru. Malcolm menerima cara pandang yang disampaikan Baines, sampai kemudian masuk Islam, bergabung dengan Nation of Islam dan menjadikan Elliah, Ketua Nation of Islam, sebagai pemimpin yang dia kagumi. 

Dalam hidup Malcolm sendiri, selain penjara, maka ber Haji ke Makkah adalah dua hal yang merubah pandangan dan cara hidupnya secara drastis. 

Penjara bukan hanya memperkenalkan Malcolm dengan Islam, tetapi merubah haluan hidupnya. Usai keluar dari penjara, Malcolm aktif melakukan gerakan penyadaran akan hak-hak warga kulit hitam juga melakukan upaya advokasi. Ceramahnya yang menarik, tidak hanya membuat orang tertarik mendengarkan, tetapi juga membuat organisasi Nation of Islam bertambah besar. 

Tetapi dalam masa ini, Malcolm dianggap rasis. Malcolm memperjuangkan hak warga kulit hitam dengan menebar kebencian terhadap warga kulit putih dan tidak mau bekerjasama dengan warga kulit putih atau kelompok-kelompok kulit hitam lainnya yang mempunyai isyu yang sama. Sehingga digambarkan ketika ada warga kulit putih bersimpati dan setuju terhadap perjuangan Malcolm dan bertanya apa yang bisa dia lakukan, Malcolm menolak untuk dibantu. Dalam menyelesaikan masalah diskriminasi di Amerika, Malcolm dan organisasinya mengusulkan pemisahan warga kulit hitam dan warga kulit putih. 

Pada masa ini juga Malcolm mendapat kenyataan pahit. Eliah yang selalu dia jadikan panutan dan Nation of Islam tempat dia bernaung, ternyata sudah menyimpang dari tujuan semula. Organisasi yang semakin besar dan dikenal, ternyata dimanfaatkan oleh sebagian elite nya untuk memperkaya diri. Bukan hanya menyimpang dari tujuan semula, bahkan menyimpang dengan nilai-nilai Islam. 

Dalam kondisi seperti ini, Malcolm X menyatakan keluar dari Nation of Islam. Lalu untuk lebih mendalami Islam dan meluaskan cara pandang, Malcolm pergi ke Makkah untuk melaksanakan Haji. 

Ketika melaksanakan Haji inilah Malcolm mendapat pengalaman hidup yang tidak pernah dia dapat sebelumnya. Dia bisa bersama-sama berkumpul dengan warga dunia lainnya meski berbeda-beda warna kulit dan ras. Bahkan dalam satu kesempatan, Malcolm bisa makan dan minum bersama dengan memakai tempat dan gelas yang sama dengan orang kulit putih. Sesuatu yang tidak pernah dia alami sebelumnya di Amerika. Malcolm menemui kenyataan bahwa orang kulit putih yang selama ini dia caci maki, ternyata juga ada yang baik. Haji sudah mencerahkan Malcolm.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2