Mohon tunggu...
Dee Shadow
Dee Shadow Mohon Tunggu...

Esse est percipi (to be is to be perceived) - George Berkeley

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Surga Itu Hanya Seperti Planet Lain?

7 Februari 2016   11:07 Diperbarui: 7 Februari 2016   11:44 36 3 5 Mohon Tunggu...

Surga dan neraka adalah tema pusat dari teologi agama yang menekankan ajarannya pada penghargaan dan hukuman. Demikian juga yang ditemui di teologi Islam. Islam seperti tercantum di Al Quran dan Hadits mengikatkan ajarannya pada penjelasan-penjelasan surga dan neraka.

Yang menarik adalah pembahasan teologi Islam tentang surga, terutama dengan klaim (yang terlalu dilebih-lebihkan?) tentang penghargaan 72 bidadari bagi orang-orang yang mati syahid dalam jihad membela agama. Tidak ada sumber langsung dari AL Quran tentang 72 bidadari ini dan tentu saja sumbernya adalah hadits.

Kadang menggunakan hadist sebagai sumber sama halnya sudah memulai pembahasan dengan polemik. Selama Nabi Muhammad hidup dan selama khulafaur rasyidin tidak ada upaya membukukan hadits. Upaya membukukan hadits baru dimulai ketika dinasti Umayah berkuasa sekitar 100an tahun setelah meninggalnya Nabi Muhammad dan keilmiahannya baru bisa diandalkan ketika pembukuannya berlangsung selama dinasti Abasyiah yang berjarak ratusan tahun (atau mungkin ribuan tahun) dari Dinasti Umayah. Jika belajar perjalanan teologi Islam pembaca akan tahu mengapa selama dinasti Abasyiah lah keilmiahan pembukuan Hadits memiliki kekuatannya. Keilmiahan ini tetap dipersoalkan oleh kalangan quranist sampai saat ini karena eratnya hubungan antara agamawan dengan entitas politik (Penjelasannya tidak akan disampaikan di sini). Intinya adalah banyak hadits yang menjadi sumber polemik teologi seperti salah satunya hadits tentang 72 bidadari tersebut yang sebagian besar Islam moderat (atau pihak barat sebut sebagai apologetics) menolak kabsahannya karena persoalan di rantai penuturnya.

Persamaan hadits itu dengan sumber-sumber tentang surga hanyalah elemen anthropomorfistiknya yang kental. AL Quran mengkisahkan dan menggambarkan surga begitu jelas tidak seperti agama samawi lainnya yang senderung lebih abstrak. Gambaran tentang sunga yang dialiri oleh air bersih, susu, dan minuman anggur menjelaskan gambaran surga yang gamblang. Gambaran seperti ini biasanya diartikan kontekstual oleh Islam Moderat (atau apologetics) yang mengatakan bahwa konteksnya adalah bangsa Arab yang tinggal dengan latar belakang gurun pasir di mana air adalah sesuatu benda yang sangat berharga. Bagaimana dengan anggur? Bukankah minuman Anggur dilarang di Islam? Dalam bingkai kontekstualitas, anggur adalah simbol kenikmatan duniawi bukan saja bangsa Arab tetapi juga bangsa-bangsa lain di sekitar Timur Tengah. Dan pelarangan itu bisa diartikan pelarangan karena efek bukan wujud.

Gambaran lain yang kontroversial dan sering dihubung-hubungkan dengan doktrin 72 bidadari adalah penggunaan kata “hur” yang diartikan sebagai perawan (bidadari). Islam moderat menganggap penafsiran ini keliru karena surga akan cenderung milik laki-laki sehingga ada evaluasi penafsiran yang mengartikannya dengan “makhluk surgawi” yang netral gender, diperuntukkan untuk laki-laki dan perempuan untuk menemani mereka. Baik penafsiran yang pertama dan kedua, isu sensualitas tidak dipungkiri menyeruak dari kedua pemaknaan ini.

Kenikmatan sensualitas yang diingkari oleh Gereja ketika Nietschze hidup dan menjadi sumber kritikannya terhadap ajaran Gereja yang tidak duniawi muncul dalam penafsiran “hur” yang anthropomorfistik. Hubungan logis yang bisa ditarik dari konsep surga seperti itu dan ajaran Islam adalah bahwa Islam memang tidak memposisikan kenikmatan duniawi sebagai dosa asalkan ditempatkan pada tempat yang semestinya. Islam disebut-sebut tidak mengenal konsep “ original sin” tetapi dalam sekte asetik islam seperti Sufi, konsep “original sin” dalam balutan doktrin gnostik kembali muncul yang dalam bahasa sederhananya diterjemahkan dalam sisi gelap-sisi terang manusia.

Sifat anthropomorfistik dari beberapa ayat AL Quran memang memunculkan kontroversi dalam pemaknaannya. Bukan menjadi rahasia lagi bagi orang yang mempelajari teologi Islam bahwa Teologi Islam terpecah menjadi dua: transendentalis dan non-transendentalis. Begitu juga dalam pemaknaan ayat-ayat tentang surga itu.

Bagi transendentalis, entitas transenden seperti Tuhan atau surga adalah di luar dari entitas imanen. Segala bentuk gambaran tentang surga di atas kemudian hanya direduksi menjadi entitas abstrak yang hanya dilabeli dengan kenikmatan surgawi yang berbeda dan tidak bisa disamakan dengan kenikmatan duniawi. Ada sebuah hadits yang mengatakan bahwa surga itu tidak bisa dibayangkan dan tidak bisa disamakan dengan kenikmatan duniawi sama seperti wujud Tuhan yang tidak bisa digambarkan dan dibayangkan dengan menggunakan kata-kata manusia.

Sedangkan Non-transendetalis akan mengartikan dan memaknai surga dengan masih menghubungkanya dengan kenikmatan duniawi. Entitas transenden masih dimaknai sebagai entitas imanen. Sungai dimaknai juga sebagai sungai dan bidadari dimaknai juga sebagai wanita yang cantik. Komitmen non-transendentalis untuk tidak beranjak dari makna literal tidak disadari justru menjerumuskan non-transendentalis untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan menggelikan tentang surga seperti apakah orang tidak bosan hidup selamanya, apakah aktiiftas yang tercurahkan untuk sensualitas dan romantisme justru akan menghindarkan dirinya dari kewajibannya menyembah Tuhan atau bagaimana orang yang sudah disediakan teman pendamping itu bertemu dengan suami atau istrinya.

Tentu saja pertanyaan ini menggelikan bagi transendentalis, terutama bagi siapa yang memahami konsep necessary-contingent. Hidup selamanya itu sudah menunjukkan wujud necessary, bukan keterikatan (contingent). Kebahagiaan-kebahagiaan yang kita bayangkan ada di surga itu dipengaruhi oleh persepsi dari wujud kita sebagai wujud contingent (terikat). Sungai, air, madu, anggur, bidadari cantik itu adalah hasil persepsi manusia dalam menangkap wujud-wujud terikat. Pembenarannya adalah Tuhan berbicara dalam bahasa manusia tetapi Tuhan juga mengingatkan bahwa itu semua berbeda.

Dalam bahasa filsafat kopernikan Kant, entitas Ilahi itu dimungkinkan karena adanya konsep ens reallisimum (berkumpulnya semua predikat) yang saya terjemahkan lebih luas ke kebenaran tunggal. Tetapi membawa konsep berkumpulnya semua predikat, baik fisik dan metafisik, dan kemudian mengklaim bahwa itu adalah benar adalah sebuah kenekatan berfilsafat. Mengklaim bahwa ada kebutuhan bersosialisasi di Surga adalah keberanian vulgar menyamakan titik temu akhir semua predikat (baik fisik dan metafisik) dengan titik temu beberapa predikat (hanya fisik). Sebuah keanehan.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x