Mohon tunggu...
Dee Shadow
Dee Shadow Mohon Tunggu...

Esse est percipi (to be is to be perceived) - George Berkeley

Selanjutnya

Tutup

Filsafat

"Pilihlah Capres Dengan Hati Nurani" (Tepatkah?)

8 Juni 2014   23:39 Diperbarui: 20 Juni 2015   04:40 95 0 2 Mohon Tunggu...

Selama masa kampanye ini, beredar ajakan “pilihlah capres dengan hati nurani”. Selalu saja terusik untuk mencoba membangun struktur konsep hati nurani. Tanpa ada maksud politis, saya melalui tulisan ringkas ini akan sekali lagi berupaya untuk membangun konstruksi kebenaran filosofis penggunaan kata “hati nurani” sehingga semoga muncul konstruksi bangun kebenaran yang tentu saja bersifat temporer dan hipotetis.

Pertama-tama harus disampaikan maksud penyampaian slogan “pilihlah capres dengan hati nurani”. Menurut penulis ada dua maksud kausal yang muncul dari slogan ini. Pertama, setelah melalui proses dengan menggunakan akal, pemilih diharapkan menggunakan “hati nurani” dan kedua, tanpa melalui proses yang menempatkan pentingnya akal (atau mengesampingkan proses), pemilih segera bisa menggunakan “hati nurani” untuk memilih pasangan capres/cawapres.

Pertama-tama, strukturnya tidak bisa lepas dari pertarungan abadi antara rasionalisme dengan empirisme. Dalam uraian sederhana rasionalisme, kemampuan kognitif manusia tidak bisa berdiri sendiri tetapi harus berhubungan dengan sesuatu yang innate (bawaan) atau sering disebut dengan innate knowledge. Hubungan ini bisa dualisme seperti konsep Descartes atau monisme seperti konsep Hegel tetapi pada dasarnya ada sesuatu diluar kemampuan kognitif manusia yang penyebutannya berbeda-beda (Plato menggunakan form, Descartes menggunakan soul, sedangkan Hegel menggunakan Geist dan masih banyak lagi). Sedangkan disisi lain empirisis tidak mengenal adanya sumber luar bawaan dalam proses kognitif dan semuanya adalah struktur yang bisa diamati dan dipengaruhi oleh pengalaman. Jiwa dalam pandangan empirisis adalah struktur kompleks sistem syaraf yang didukung oleh sistem organ manusia yang tidak kalah rumitnya. (1)

Dari kedua aliran besar filsafat tersebut, definisi maksud kausal pertamalah yang memiliki dasar konsep kebenaran yang kuat dimana setiap pilihan pasti melibatkan proses kognitif atau akal. Seperti apa prosesnya tergantung pada pilihan kita dari dua konsep besar diatas.

Pilihan capres pastilah berasal dari pengalaman dan pengamatan kognitif yang berujung pada keputusan di bilik suara. Sehingga sebaiknya warga yang baik harus mendasarkan pilihannya pada proses pencarian sumber-sumber informatif sebagai wujud pengalaman konstruktif berdemokrasi.

Rasionalis akan bilang bahwa proses pengkristalisasian keputusan itu akan berhubungan dengan sumber awal dan mungkin saja disinilah hati nurani itu berada (sebagai sumber awal) sedangkan empirisis akan berkata bahwa peneguhan keputusan itu hanya bersandarkan murni pada proses kognitif empiris dan mungkin saja hati nurani bisa didefinisikan sebagai bentuk konsep keyakinan individu yang berasal dari pengalaman empiris.

Bagaimana dengan maksud kausal kedua yaitu tanpa ada proses kognitif (atau akal)? Tentu saja sulit untuk dipahami bahwa pengambilan keputusan seseorang bisa dilakukan tanpa harus dilandasi oleh proses kognitif (betapa pun sederhananya). Tentu saja sulit dipahami jika pengalaman sadar empiris subyektif yang membuat kita condong kepada salah satu capres kemudian pada saat-saat terakhir berubah ke capres lainnya karena sesuatu bernama “hati nurani”. Kecuali memang pengalaman itu bukan pengalaman sadar dan pengalaman yang bukan sadar tentu saja tidak bisa dijadikan sebagai batu pijakan kebenaran. Seperti halnya kita tidak bisa mengklaim sikap asal-asalan sebagai kebaikan sehingga “hati nurani” yang muncul atau dimunculkan dari sikap asal-asalan tentu saja bukan suatu kebaikan.

Tidak “fair” jika tidak menyampaikan sesuatu lain yang bisa mengganggu dualisme rasionalisme dan empirisme. Sesuatu itu adalah mistisisme yang menawarkan kebenaran intuitif (kebenaran yang muncul begitu saja tanpa membutuhkan proses). Pendukung klaim makna klausal kedua pasti bersorak kegirangan karena ada bukti bahwa “hati nurani” bisa tiba-tiba muncul karena konsep kebenaran intuitif ini. Tetapi sekali lagi sayangnya, kebenaran intuitif juga tidak bisa muncul begitu saja. Diasumsikan memang ada, butuh waktu yang lama untuk memunculkan kebenaran intuitif melalui penggemblengan atau pendadaran fisik dan kemampuan berpikir, sebelum seseorang bisa mengklaim dirinya bisa melihat kebenaran intuitif. Bukan maksud mematikan semangat pengukung klaim kausal kedua, tetapi berapa banyak dari kita yang melakukan penggemblengan seperti itu? Selain itu, konsep pencapaian kebenaran intuitif ini pada akhirnya masuk dalam ruang esoteris (dikhususkan untuk beberapa orang saja) (2).

Sekali lagi tulisan ini tidak memiliki muatan politis. Bagi penulis menyelamatkan demokrasi itu jauh lebih penting daripada siapapun pemenangnya. Dan demokrasi tidak bisa terbangun dari kampanye kebenaran intuitif yang bisa saja muncul dari maksud kausal kedua. Demokrasi substantif menyandarkan keberlangsungan hidupnya pada upaya-upaya sadar untuk mencari informasi sehingga terbentuk kebenaran subyektif yang mapan ketika berada dalam bilik suara. Demokrasi adalah bentuk dari eksistensialisme dan nilai-nilai penghormatan keakuan.

Semoga bermanfaat. Salam hormat.

Keterangan:

(1) Penjelasan lebih detail masuk dalam ruang perdebatan rasionalisme vs empirisisme. Paragraf diatas hanya penggalan singkat dari perdebatan panjang ini.

(2) Penjelasan lebih lengkapnya masuk dalam wilayah mistisisme atau sufisme dalam Islam.

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x