Mohon tunggu...
dedy gunawan
dedy gunawan Mohon Tunggu... Saya suami dari seorang istri yang luar biasa dan ayah dari seorang anak hebat.

Penulis dan blogger

Selanjutnya

Tutup

Lingkungan Pilihan

Kita Jaga Alam, Alam Jaga Kita

17 September 2019   14:25 Diperbarui: 17 September 2019   14:47 0 4 2 Mohon Tunggu...
Kita Jaga Alam, Alam Jaga Kita
Asap menyelimuti Kota Pekanbaru, Riau akibat karhutla 13 September 2019. Dokumen Pribadi

Bencana merenggut ratusan nyawa setiap tahun. Ribuan orang terpaksa mengungsi, tidak sedikit pula yang kehilangan tempat tinggal dan penghidupannya. Mereka terpaksa berakhir di posko pengungsian. Jika saja kita mau belajar menjaga alam, semua kerugian ini sesungguhnya bisa kita cegah atau perkecil.

BUKAN karena kekurangan data informasi, tetapi kita secara kolektif masih kurang kesadaran untuk membangun budaya mitigasi kebencanaan. Sehingga, setiap kali bencana datang, kita gelagapan, panik dan memperparah keadaan yang justru menambah banyak angka korban, baik materi maupun jiwa.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) 2019 merilis, selama satu dekade (2009-2019)terakhir, tercatat 1.226 peristiwa kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia. Karhutla periode itu menyiksa paru-paru 443.278 orang. Termasuk merenggut 32 nyawa, melukai 373 orang, dan memaksa 442.873 orang mengungsi dari rumah mereka.

Teranyar, BNPB juga melaporkan sepanjang 2019 saja terjadi 141 karhutla. Karhutla tertinggi terjadi di Kalimantan Tengah (47 peristiwa) disusul Riau (26 peristiwa) dan Aceh serta Kalimantan Selatan (masing-masing 17 kejadian). Sedangkan, Kalimantan Timur dan Sumatera Selatan masing-masing sembilan dan delapan kejadian. 

Meski Karhutla terus disorot media serta digaungkan warganet melalui media jejaring sosial, namun rasa gentar tampaknya belum tumbuh. Nyatanya, hingga saat kejadian karhutla masih terus melanda di sejumlah wilayah di tanah air. Meminjam data BNPB, luas karhutla di Indonesia dalam kurun Januari hingga Agustus 2019 telah mencapai 328.724 hektare. Ini bukanlah angka main-main. Dan asapnya telah mengotori udara. 

Akibat karhuta, kualitas udara di Riau telah mencapai level berbahaya (mencapai angka 444 pada 13 September 2019, berdasarkan Indeks Standar Pencemar Udara atau ISPU). Begitupun wilayah lain yang terdampak karhutla seperti Jambi berada di level ISPU mencapai 239 (tidak sehat), Sumatera Selatan di level ISPU 287 (sangat tidak sehat). Sementara Kalimantan Barat di level ISPU 129 (tidak sehat). Kondisi ini mengakibatkan banyak warga Riau, Jambi, Sumatera Selatan dan Kalimantan Selatan terkena infeksi saluran pernapasan akut (ISPA).

Tangkapan layar ponsel tentang kondisi udara dan polusi di Riau | dokpri
Tangkapan layar ponsel tentang kondisi udara dan polusi di Riau | dokpri
Situs Republika menulis, jumlah warga terserang ISPA di Riau mencapai 9.512 orang, di Jambi 64.147 orang, di Sumatera Selatan 106.550 orang dan di Kalimantan Tengah 23.324 jiwa. Bahkan asap karhutla telah turut mengusik hidung warga negeri jiran sepasti Singapura dan Malaysia.

Seorang teman saya, Eva Silaban yang bekerja di Pekanbaru begitu gigih bersuara di media sosial mengampanyekan gerakan memggantang asap. Dalam beberapa videonya di media sosial, ia menceritakan, level udara yang kotor sekali akibat asap karhutla. Ia mengaku, sejak kejadian kebakaran yang berulang di Riau, ia harus menyediakan stock oksigen tabung di rumahnya. Setidaknya untuk menyelamatkan anaknya yang masih bocah dari kepungan asap. 

Apa yang dialami Eva, juga dialami jutaan orang di daerah-daerah lain yang kerap terjadi karhutla. Orang-orang sipil seperti Eva telah menjadi korban dari keberingasan segelintir orang yang tega membakar lahan dan hutan. Demi keuntungan diri atau kelompoknya, mereka melantakkan hutan dengan api. 

Kita juga menyaksikan bagaimana Presiden Jokowi harus turun tangan memadamkan karhutla di Riau di tengah segudang problema bangsa yang juga butuh perhatian besar dan penanganan intensif. Semua ini semestinya tidak perlu terjadi jika kita jaga alam. Partisipasi semua orang, sesuai kemampuan dan kapasitasnya, perlu ikut berkontribusi menjaga keseimbangan dan kelestarian alam. 

Benar apa yang dikatakan Kepala BNPB Letnan Jenderal TNI Doni Monardo, upaya-upaya mitigasi bencana perlu penguatan berbagai pihak. Peran serta semua orang amat diperlukan.Kontribusi sekecil apapun dalam upaya menjaga alam akan sangat berfaedah. Prinsipnya, semakin banyak orang terlibat bahu-membahu, kian besar dampak baik yang bisa dihadirkan. 

"Kita jaga alam, alam jaga kita" bukanlah slogan kosong. Frase ini benar adanya, bahwa ketika alam kita rawat, keseimbangannya terjaga, alam juga akan terus merawat kita. Tanpa kita sadari, alam telah menyumbang miliaran hal baik bagi manusia. Sebaliknya, ketika manusia merusak alam, mengusik keseimbangannya, maka bencana banjir, longsor dan tsunami pun menyambangi kita. Begitu juga dengan hutan dan lahan yang masih terus disulut api, sama saja dengan menjejali paru-paru kita dengan asap dan racun. Kita mengganjar diri kita dengan beragam penyakit dan kematian.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2