Dedy Helsyanto
Dedy Helsyanto Peneliti

@dedy_helsyanto

Selanjutnya

Tutup

Kotak Suara

Dibalik Penolakan Cium Tangan Sandi ke Djarot

13 April 2017   14:43 Diperbarui: 13 April 2017   14:54 179 0 0

Banyak bahasan dengan bobot berat yang dianalisis oleh netizen pasca debat Pilkada DKI Jakarta putaran ke dua, semalam. Tulisan ini dibuat bukan untuk ikut meramaikan analisis yang berat-berat itu, tapi mengambil sisi unik nan ringan, yang dapat dikatakan mempunyai nilai yang tak kalah penting. Peristiwa itu yakni Djarot yang menolak tangannya dicium oleh Sandi.

Peristiwa ini menarik dilihat ditengah aksi cium tangan dari para politisi yang kadang menuai simpatik sampai berujung polemik. Dari penelusuran media, cukup banyak politisi yang diberitakan terkait cium tangan ini. Namun yang paling menonjol adalah beberapa politisi yang berasal dari PDIP dengan nahkodanya, Megawati Soekarnoputri.

Nama Presiden Jokowi tampak sering diberitakan dengan aksi cium tangannya. Aksi cium tangan yang dilakukan Jokowi dilakukan dalam bergam konteks, seperti cium tangan kepada Taufik Kemas pada konteks Pilkada DKI Jakarta 2012 dan cium tangan dengan Megawati dalam konteks Pilpres 2014. Selain Jokowi ada juga nama Wakil Wali kota Surabaya, Wisnu Sakti Buana yang mencium tangan Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini yang disebut sebagai penghormatan kepada yang lebih tua dan posisi struktural antara keduanya. Kemudian ada juga Menko PMK Puan Maharini yang menerima cium tangan dari orang yang lebih tua yang juga mantan MenPan-Rb, Yuddy Chrisnandi (Hanura).

Dari laku politisi PDIP yang sering menerima atau melakukan aksi cium tangan, mengapa Djarot menolak aksi cium tangan dari Sandi?. Djarot mengaku tak enak, jika Sandi yang juga merupakan calon Wakil Gubernur  mencium tangannya. Padahal diketahui selisih umur antara Djarot dengan Sandi selisih 7 tahun. Djarot kelahiran 1962 sedangkan Sandi kelahiran 1969.

Sikap Djarot yang tak enakan dicium tangannya oleh Sandi yang lebih muda, juga seiring dengan aksi Djarot yang tanpa beban mencium tangan Ahok ketika kalah dalam permainan bottle flip challenge. Pada video yang beredar di dunia maya, Djarot tanpa beban mencium tangan Ahok yang umurnya lebih muda 4 tahun dari Djarot.

Dalam konteks ini, terlihat Djarot bukanlah tipe politisi yang gila hormat. Juga bukan pelestari budaya patrimonial. Djarot melihat cium tangan dalam susbstansi moral, yakni ajaran untuk menghormati yang lebih tua. Dan dia pun seakan mengajarkan bahwa penghormatan yang diberikan kaum yang lebih muda tidak dapat hanya disimbolkan sekedar melalui mencium tangan. Begitu juga dengan Sandi, yang terlihat keinginan mencium tangan Djarot, bukan karena Djarot sedang berkuasa.

Lebih dari itu, kedua tokoh ini seakan ingin mengembalikan nilai sakral dari yang menerima dan melakukan aksi cium tangan. Mereka memberikan pandangan baru kepada politisi bahwa cium tangan bukanlah untuk mendapatkan posisi atau merasa punya posisi serta pengaruh lebih besar dalam sistem atau struktural kekuasaan.

Sikap Sandi dan Djarot ini menjadi penting di Pilkada DKI Jakarta yang menyita banyak energi konflik. Keduanya terlihat berpesan kepada para pendukung serta Warga DKI agar berdamai tanpa syarat dengan posisi yang setara. Inilah bentuk demokrasi yang substantif, merekalah pemimpin yang mengerti zaman, merekalah pemimpin kekinian.