Mohon tunggu...
Deddy Husein Suryanto
Deddy Husein Suryanto Mohon Tunggu... Pengamat Sosial

Penyuka Sepakbola, Penulis Biasa nan Sederhana (PBS), dan berharap selalu dapat menginspirasi dan terinspirasi. Cinta Indonesia. Segala tulisan selalu tak luput dari kekhilafan. Jika mencari tempe, silakan kunjungi: https://deddyhuseins15.blogspot.com Iseng-iseng unggah video di https://m.youtube.com/channel/UCmc1Ubhzu3PPCG3XXqcGExg

Selanjutnya

Tutup

Bola Pilihan

Allison Becker, Kiper Termahal yang Sebenarnya

10 Juli 2019   10:12 Diperbarui: 10 Juli 2019   15:32 188 8 2 Mohon Tunggu...
Allison Becker, Kiper Termahal yang Sebenarnya
Ilustrasi Alisson Becker. (Twitter.com/@Goal_ID)

Dewasa ini, di sepakbola dunia semakin meningkat nominal transfer yang dikeluarkan demi menebus para pemainnya. Tidak hanya untuk pemain berposisi penyerang (sayap dan tengah) yang dapat menghasilkan mega-transfer di dalam bursa jual-beli pesepakbola itu. Namun, kini pembelian pesepakbola yang mahal juga mencapai posisi paling belakang; penjaga gawang.

Kiper -sebutan lainnya- saat ini juga mampu menyita perhatian di dalam bursa transfer dengan menciptakan transaksi besar antar klub yang berkaitan dengan si pemain. 

Di dalam beberapa musim terakhir, sudah terjadi beberapa transfer besar yang mengedepankan penjaga gawang. Sebut saja Ederson Moraes (Manchester City), Alisson Becker (Liverpool), dan Kepa Arrizabalaga (Chelsea). 

Sebenarnya ada nama Thibaut Courtouis (Real Madrid) yang juga merupakan penjaga gawang berkualitas saat ini. 

Namun karena, transfernya tidak begitu menghebohkan (kalah heboh dengan Kepa) dan tidak mampu memberikan kontribusi besar kepada klubnya -musim kemarin. Maka, di artikel ini tidak akan menyinggung kiprah kiper terbaik Piala Dunia 2018 tersebut.

Menilik secara kualitas para pemain itu, memang ada yang sangat pantas dihargai mahal dan ada yang masih perlu dipikirkan ulang tentang nominal transfernya si pemain. Di sini, kita juga dapat sedikit menilai performa para penjaga gawang berdasarkan kesempatan bermain, kualitas pertahanan tim, dan koordinasi tim dalam bertahan.

Jika melihat secara menit bermain, nama Alisson Becker lebih unggul dibandingkan 2 penjaga gawang termahal lainnya --yang disebut di atas. Berdasarkan menit bermain dan pengalamannya bertanding di level tertinggi, maka, Alisson sangat pantas disebut sebagai kiper terbaik saat ini.

Hal ini dapat dibuktikan dengan catatan cleansheet-nya di England Premier League (EPL) musim kemarin (2018/19) yang lebih banyak dibandingkan para pesaingnya. Lalu, penampilannya juga mampu mencapai batas maksimal di Liga Champions, final di Wanda Metropolitano. Begitu pula di turnamen konfederasi, Copa America 2019. Timnas Brazil mampu diantarkan Alisson Becker cs ke final dan juga menjadi kampiun.

Patut diketahui bahwa di Copa America, dirinya lebih dipilih mengawal gawang Brazil dibandingkan Ederson Moraes. Itu artinya, pelatih dan tim tahu bahwa Alisson punya kualitas di atas Ederson yang notabene sempat menjadi kiper termahal di Liga Inggris.

Kita tentunya belum bisa mengetahui bagaimana performa Brazil jika gawangnya dikawal oleh Ederson Moraes secara penuh di sebuah turnamen. Meski secara kualitas individu Ederson tidak kalah jauh dengan Alisson. Namun, jika melihat secara performa -khususnya di level klub, Ederson masih lebih banyak melakukan blunder dibandingkan Alisson. Suatu hal yang tentunya cukup merugikan bagi tim dan juga mempengaruhi tingkat kepercayaan tim terhadap si pemain. Apalagi jika menyangkut-paut pada tim nasional.

Beralih pada kualitas pertahanan tim. Di faktor ini, Alisson dan Ederson hanya dibedakan pada level klub. Sedangkan di level timnas, mereka sama-sama bermain dengan pemain-pemain belakang berkualitas, salah satunya tentu masih adanya sosok Thiago Silva. Di bawah koordinasi bertahan yang dilakukan Silva, maka pertahanan Brazil tidak terlalu mengerikan. Sehingga, performa bertahan sebuah tim tinggal dilengkapi oleh performa kiper.

Di sini, kita tidak bisa membandingkan antara Alisson dengan Ederson. Sama halnya dengan Kepa. Kepa di level timnas masih belum dipercaya sebagai penjaga gawang utama timnas Spanyol. Karena, di La Roja masih ada kiper yang lebih berpengalaman; David De Gea. Sehingga, Kepa hanya bisa disandingkan dengan Alisson di level klub.

Di level klub kita dapat melihat bahwa ada persaingan alot di lini pertahanan dua tim teratas EPL. Manchester City dan Liverpool. Meski Man. City adalah juaranya (2018/19), namun soal kualitas pertahanan, The Citizens kalah dari Liverpool, dan ini tidak lain karena kualitas pertahanan Liverpool yang jauh lebih stabil dibandingkan Si Biru Langit.

Tidak hanya karena ada Alisson namun juga karena adanya duet maut, Virgil van Dijk dan Joel Matip. Bahkan, Liverpool juga masih memiliki Dejan Lovren yang sebelumnya menjadi andalan sebelum kedatangan van Dijk.

Keberadaan van Dijk terbukti mampu memberikan peningkatan kualitas bertahan The Reds selama musim kemarin. Bahkan, van Dijk mampu membawa timnas Belanda mencapai final UEFA Nations League Juni kemarin. Artinya, van Dijk dapat menjadi penyebab lainnya dari keberhasilan Alisson tampil bagus di level klub.

Perlu diketahui bahwa kualitas bertahan para pemain belakang biasanya turut mempengaruhi performa kiper. Ketika performa lini belakang terlihat bagus, maka si penjaga gawang juga akan memiliki kepercayaan diri yang lebih baik lagi. Kepercayaan diri itulah yang biasanya akan membantu fokus, respon, dan reflek si kiper untuk mengantisipasi datangnya bola. Jika bek-beknya ngawur, kiper pun pasti resah bukan?

Situasi ini sedikit berbeda dengan Ederson di Manchester City, meski dirinya juga dikawal oleh bek-bek tangguh. Namun, blunder yang kadang dilakukan oleh bek-beknya, juga biasanya membuat Ederson gagal menghalau bola yang menuju ke gawangnya. Performa terbaik Ederson sebenarnya lebih terlihat di musim 2017/18 lalu. Karena, di situ Ederson benar-benar berusaha menunjukkan dirinya layak dihargai mahal oleh Manchester City.

Begitu pula pada Kepa di Chelsea yang sebenarnya memiliki pemain-pemain bagus di bek tengah. Namun, karena taktik permainan ataupun karena tim lawan lebih punya keberanian dalam mengintimidasi pertahanan The Blues, maka Kepa pun tak bisa berbuat banyak. Hal ini juga dapat dilihat dari seringnya Kepa dibobol melalui tendangan-tendangan jarak jauh.

Gol-gol semacam ini seringkali tercipta karena kurang rapatnya pertahanan dalam menutup ruang tembak lawan, selain karena positioning Kepa yang kurang bagus. Ketika positioning bagus, biasanya kiper dengan tinggi badan berapapun akan mampu menjangkau datangnya bola (ke tiang jauh).

Biasanya positioning kiper akan menyesuaikan jarak bola dan juga ruang yang terlihat. Ketika ruangnya sempit (ada bek yang menutup ruang tembak) maka, kiper akan memposisikan dirinya lebih dekat dengan tiang jauh. Hal ini menyesuaikan dengan pandangan pemain lawan saat melihat gawang (mengincar target). 

Begitu pula sebaliknya, jika ruangnya lebar, maka kiper akan mendekatkan diri pada tiang dekat atau mencoba mengikuti posisi bola itu berada.

Ketika ruangnya lebar itulah, kiper sebenarnya sudah berada di situasi 1:10. Artinya, dari 10 situasi yang sama, dia hanya punya kemungkinan sekali dapat menggagalkan tembakan lawan yang memiliki ruang tembak yang luas. Karena, dengan ruang tembak yang luas, pemain lawan pasti punya dua opsi; ke tiang dekat dan tiang jauh. Bagaimana? Tahu kan kira-kira situasi Kepa sebagai kiper? (hehehe)

Di faktor terakhir adalah koordinasi tim saat bertahan. Sebenarnya ini berkaitan erat dengan faktor sebelumnya. Namun, adapula peran kiper di sini. Biasanya kualitas kiper yang bagus akan memberikan kepercayaan pada para pemain lain untuk mematuhi instruksi kiper (saat bertahan). 

Begitu pula pada kualitas bertahan yang dimiliki seorang bek. Biasanya bek yang berkualitas akan mampu memberikan instruksi pada rekan-rekannya dalam menggalang pertahanan.

Saat momen bertahan, ranah kendali diberikan kepada bek tengah (satu/dua orang). Karena, bek tengah adalah pihak pertama yang tahu situasi gawat timnya ketika mendapatkan serangan. Maka, bek tengah harus dapat mengoordinir pertahanan maupun memposisikan dirinya lebih cepat dibandingkan pemain-pemain lain.

Sedangkan kiper adalah orang kedua yang serba tahu ketika situasi menyerang maupun bertahan. Namun, karena kiper adalah orang yang tugas utamanya mengawal gawang, maka dirinya juga harus mampu menjalin kerja sama yang baik dengan para pemain bertahan -khususnya dengan bek tengah.

Semakin bagus koordinasi tim yang terjalin saat bertahan, semakin bagus pula performa si penjaga gawang. Karena, pekerjaannya akan semakin fokus pada upayanya menghalau bola yang menghampiri gawangnya saja.

Berbeda dengan situasi pertahanan tim yang kurang bagus. Maka, kiper harus bisa mengetahui kapan menggantikan peran bek (stopper) dan kapan pula harus meminimalisir risiko kebobolan saat bola liar (bola udara dan bola yang sedang diperebutkan di dalam kotak penalti). Ini tentu menjadi pekerjaan besar bagi kiper, karena dirinya dituntut fokus sepenuhnya di segala situasi. Apalagi jika timnya sering diserang. Maka, tingkat fokus bisa buyar jika staminanya mulai terkuras.

Maka dari itu, koordinasi sangat penting, guna meminimalisir kerja keras kiper yang overlimit. Karena dengan keberlebihan aksi dari kiper, pada akhirnya juga dapat menghadirkan petaka (blunder dan kesalahan antisipasi).

Di faktor ini, Alisson berada di klub dan timnas yang tepat untuk menjadikan dirinya sebagai kiper terbaik. Karena, dengan keberhasilan Liverpool dan Brazil menggalang pertahanan dan memiliki bek-bek berkualitas, maka Alisson lebih punya banyak waktu untuk memikirkan perannya sendiri dibandingkan harus mem-back up peran pemain lain.

Melalui tiga pertimbangan itu, untuk saat ini, memang hanya Alisson yang berhak disebut sebagai kiper terbaik. Bahkan, mungkin Alisson adalah kiper termahal yang seharusnya. 

Namun, prestasi Alisson tidak akan luntur dengan ketidakberhasilan dirinya "menjual diri" lebih mahal secara nominal. Karena, prestasinya justru terlihat mentereng dengan kualitasnya dan pengalamannya yang lebih banyak, yang pada akhirnya membuat eks AS Roma ini mampu menjadi pilihan utama di klub dan timnasnya.

Bersama jam terbangnya yang lebih tinggi -dibandingkan dua penjaga gawang termahal lainnya- di level klub dan timnas (dalam tiga tahun terakhir), maka tak mengherankan jika dirinya mampu meraih banyak gelar di tahun 2019 ini -khususnya gelar individu. Tiga gelar kiper terbaik (golden glove) yang diraihnya di tahun ini; EPL, Liga Champions (UCL), dan yang terbaru Copa America, sudah membuktikan kualitas Alisson yang dapat dikatakan di atas yang lain.
Jadi, bagaimana? Masih pikir-pikir untuk menilai Alisson adalah kiper luar biasa saat ini?



Tulungagung, 10 Juli 2019
Deddy Husein S.

Deretan kiper termahal. (Detik.com) dan Kepa geser Alisson sebagai kiper termahal. (Kompas.com).

VIDEO PILIHAN