Mohon tunggu...
Deddy Husein Suryanto
Deddy Husein Suryanto Mohon Tunggu... Pengamat Sosial

Penyuka Sepakbola dan Penulis Gadungan, Cinta Indonesia. Jika mencari tempe, silakan kunjungi: https://deddyhuseins15.blogspot.com Iseng-iseng unggah video di https://m.youtube.com/channel/UCmc1Ubhzu3PPCG3XXqcGExg

Selanjutnya

Tutup

Bola Pilihan

Mengapa Persela Tersungkur di Kandang Sendiri?

18 Mei 2019   17:14 Diperbarui: 18 Mei 2019   17:16 0 6 5 Mohon Tunggu...
Mengapa Persela Tersungkur di Kandang Sendiri?
Persela kalah telak di pekan pertama Liga 1 2019. (Twitter.com/Liga1Match)

Derby Jawa Timur tersajikan ketika Persela menjamu Madura United di Stadion Surajaya Lamongan (17/5). Persela yang mayoritas dihuni oleh pemain asing baru, memilih untuk bermain tidak full-team (semua pemain asing dimainkan) sedari menit pertama. Aji Santoso sepertinya ingin membuat permainan tetap berada di kendali mereka sampai menit terakhir dengan cara membagi komposisi skuadnya secara imbang antara babak pertama dengan babak kedua.

Hal ini dapat terlihat dari dicadangkannya Rafael Oliviera di babak pertama dan memilih Kei Hirose dan pemain lokal lainnya di tengah untuk menopang striker asing debutan Liga 1, Alex Dos Santos Goncalves.

Formasi Persela. (Google.com/Liga1/PerselavsMaduraUnited)
Formasi Persela. (Google.com/Liga1/PerselavsMaduraUnited)
Di laga ini, Persela bermain dengan formasi yang terkenal, 4-2-3-1. Yaitu, menempatkan penyerang tunggal yang didukung oleh tiga pemain tengah yang dapat secara fleksibel bergerak mencari ruang dan mengirimkan bola ke dalam kotak penalti---untuk Alex. Sedangkan di kubu Madura United, mereka bermain dengan formasi ofensif, 4-3-3. Formasi ini cocok, karena mereka memiliki banyak pemain bertipikal menyerang yang bagus. Ada Greg Nwokolo, Andik Vermansyah, dan dua penyerang haus gol, Aleksandar Rakic dan Beto Goncalves.


Jika melihat secara formasi, sebenarnya, Aji Santoso mengetahui cara meladeni permainan Madura dengan baik. Namun, yang menjadi sisi kekurangan dari taktik Aji Santoso adalah tidak memainkan pemain tengah yang sangat fokus mendukung pergerakan Alex di babak pertama.

Inilah yang membuat kapasitas menyerang Persela cenderung biasa saja dan acak dibandingkan Madura United yang mampu membangun serangan secara praktis dan terstruktur khas permainan dengan formasi 4-3-3---yang dapat bertransformasi menjadi 4-2-4. Situasi ini pada akhirnya dimanfaatkan Madura United untuk mengambil momentum dalam membangun serangan dan mencari peluang.

Formasi Madura United. (Google.com/Liga1/PerselavsMaduraUnited)
Formasi Madura United. (Google.com/Liga1/PerselavsMaduraUnited)
Uniknya, Madura United ketika menyerang, mereka bisa menghadirkan sampai 4 pemain untuk berada di garis terakhir pertahanan Persela. Ditambah pula dengan kecepatan para pemain depan Madura yang luar biasa seperti Andik Vermansyah, Greg Nwokolo, dan didukung oleh dua full-back, Marcko Sandi dan Andika Rama. Ini yang membuat pertahanan Persela semakin tereksploitasi dan kemudian menjadi titik lemah Persela di laga ini.

Poin utama di laga ini di kubu Persela adalah perhitungan yang kurang tepat bagi Aji, yang memilih membiarkan lawan menguasai momentum di babak pertama. Hal ini dapat terlihat dengan gaya permainan yang tidak terkoordinasi dengan baik di 45 menit pertama. Kehadiran Hirose di lini tengah seperti bekerja sendirian, karena kurang mendapat support yang sepadan dengan mobilitasnya yang tinggi.

Di sini tidak menyebutkan bahwa kualitas pemain lokal tidak bagus. Namun, kekurangannya ada pada pergerakan dan pembangunan kerja sama antar pemain yang terlihat masih belum padu di babak pertama. Inilah yang membuat pekerjaan rumah mereka semakin menumpuk ketika harus bertemu dengan tim yang sudah sangat siap seperti Madura United.

Di laga ini, Persela terlihat masih meraba-raba kapasitas permainan timnya sendiri. Meski di starting line-up sebenarnya masih terdapat pemain-pemain lama. Seperti Ahmad Birrul Walidain, Arif Satriya, Lucky Wahyu, dan Dian Agus Prasetyo. Namun, keberadaan pemain baru yang mengisi sektor vital, seperti Amevor, Malik Risaldi, Hirose, Marcel Kararbo, dan Alex, membuat permainan mereka kurang padu. Khususnya dalam hal menyerang.

Memang, mereka akan sulit menahan gempuran para pemain Madura United. Namun, seharusnya mereka bisa mengalihkan perhatian para pemain Madura dengan menekan pertahanan Jaimerson dkk sedari awal dan dengan kualitas yang seratus persen. Artinya, Rafael Oliviera atau yang dipanggil Rafinha ini juga hadir di lapangan sedari awal.

Melalui cara itu, Persela kemungkinan masih bisa mencetak lebih dari satu gol. Melihat potensi Alex yang tidak buruk sebagai target-man. Apalagi, di laga pekan pertama ini Alex juga berhasil mencetak 1 gol---sekaligus menjadi gol debutnya. Namun, kurang terorganisirnya penyerangan Persela---khususnya di babak pertama, membuat gol Alex pun terasa seperti kurang berarti.

Hasil kekalahan telak 1-5 ini seharusnya dapat dihindari Persela sebagai tim tuan rumah yang sekaligus sebagai tim berpengalaman mentas di Liga 1. Namun, ini bukan akhir dari perjalanan Persela. Justru, dengan kekalahan telak ini, harapannya Persela mampu segera tancap gas untuk membangun permainan yang lebih solid dan kompleks. Artinya, cara bertahan dan menyerang harus segera dibendahi secara seimbang.

"Selamat, Madura United!
Dan segera bangkit, Persela!"


Malang, 18 Mei 2019
Deddy Husein S.