Mohon tunggu...
Deddy Husein Suryanto
Deddy Husein Suryanto Mohon Tunggu... Pengamat Sosial

Penyuka Sepakbola, Penulis Biasa nan Sederhana (PBS), dan berharap selalu dapat menginspirasi dan terinspirasi. Cinta Indonesia. Segala tulisan selalu tak luput dari kekhilafan. Jika mencari tempe, silakan kunjungi: https://deddyhuseins15.blogspot.com Iseng-iseng unggah video di https://m.youtube.com/channel/UCmc1Ubhzu3PPCG3XXqcGExg

Selanjutnya

Tutup

Bola Pilihan

Review Juventus vs Atletico Madrid: Seperti Guru, Atletico Menguji Spirit Juventus di Turin

13 Maret 2019   16:10 Diperbarui: 13 Maret 2019   16:37 187 1 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Review Juventus vs Atletico Madrid: Seperti Guru, Atletico Menguji Spirit Juventus di Turin
Cristiano Ronaldo dan para pemain Juventus (13/3). (Standard.co.uk)


Kemenangan Ajax Amsterdam atas Real Madrid di laga kedua babak 16 Liga Champions 2018/19 beberapa waktu lalu, rupanya berhasil menjadi virus yang menular ke tim-tim lainnya yang senasib. Yaitu, kalah di laga pertama. FC Porto, Manchester United (MU), dan yang terbaru adalah Juventus.

Nasib Ajax mirip seperti MU. Kedua tim ini harus tampil berani di laga kedua, meskipun harus berada di kandang lawan. Ajax menekuk Real Madrid 4-1 di Santiago Bernabeu dan MU mengusir PSG dari slot 8 besar dengan skor 3-1 di Parc de Prince.
Sedangkan nasib FC Porto seperti Juventus. Harus membuktikan diri mereka sebagai tim yang sangat dijagokan oleh para pendukungnya di kandang sendiri. FC Porto sukses memulangkan AS Roma dengan memberikan kekalahan dan keunggulan agregat 4-3 (1-2/3-1). Disusul Juventus yang dini hari tadi (13/3) sukses mempermak pertahanan Atletico dengan skor 3-0.

Juventus bukannya tanpa cela di laga kedua ini. Namun, Atletico terlalu santai dalam menghadapi Juventus, khususnya di babak pertama. Ada beberapa keputusan yang cukup keliru dari para pemain Atletico yang justru menurunkan tempo permainan ketika mereka mendapatkan kesempatan untuk counter-attack. Padahal di saat momen tersebut, lini pertahanan Juventus tidak begitu siap dan baik dalam transisi untuk kembali ke pertahanan. 

Namun hal ini tidak terendus oleh para pemain cepat Atletico seperti Griezmann dan Thomas Lemar. Mereka justru memilih melebar dan melakukan passing possession (melakukan operan ke rekan yang sejajar) dibandingkan upaya pragmatis (mencoba through pass). Mengingat mereka adalah tim tamu dan juga (pada akhirnya) kebobolan 1 gol di pertengahan babak pertama.

Sempat diprediksi, jika Atletico akan mengevaluasi permainan tim saat jeda untuk merubah permainan di babak kedua. Khususnya saat membangun serangan. Namun, nyatanya hal itu tidak terjadi. Memang, Correa dan Vitolo masuk. Namun, mereka sudah kehilangan momentum. Gol kedua tercipta bagi Juventus dan Massimilliano Allegri justru memperbarui lini serang mereka dengan Dybala dan Kean. Sehingga, cukup mustahil bagi Atletico untuk mencuri gol. 

Apalagi, ketika mereka mencoba mencari cara non-teknis (membuat drama). Sesuatu upaya lainnya yang ternyata sudah sangat diantisipasi oleh Juventus. Khususnya dengan keberadaan Giorgio Chiellini dan Bernadeschi yang mirip Sergio Ramos dan Casemiro di Real Madrid; 'PANDAI' mendramatisir duel dengan pemain lawan. Sedangkan Atletico, justru terlihat konyol dan polos. Seperti yang terlihat pada duel Bernadeschi dan Andrea Correa di kotak penalti Atletico. Ingin berniat curang, namun, malah terkena batunya. Itulah yang terjadi pada Atletico.

Di laga ini, kita seolah melihat Atletico yang kehabisan bensin sejak menit pertama. Mereka hanya menyisakan 'bensin untuk perjalanan pulang' dengan fokus bertahan. Sedangkan di kubu Juve, mereka terus-menerus menggempur pertahanan Diego Godin dkk sejak menit pertama hingga babak kedua. Perbedaannya adalah Juventus mampu lebih tenang dan rapi dalam membangun serangan di babak kedua, dibandingkan babak pertama. Ini memperlihatkan jika Juventus berpikir jernih di masa jeda. Sesuatu yang sepertinya tidak dilakukan oleh Atletico Madrid.

Publik pendukung Atleti boleh memaafkan permainan anak asuh Diego Simeone di babak pertama. Namun, tidak untuk babak kedua. Karena, mereka kembali bermain dengan tempo biasa-biasa saja dan tidak akurat dalam membangun serangan. Hal ini membuat lini pertahanan Juve cukup nyaman. Apalagi tanpa adanya Diego Costa. Membuat Bonucci dan Chiellini tak kehilangan konsentrasi dalam mengorganisir pertahanan.

Alvaro Morata memang mencoba membuat drama dengan duo bek tersebut. Namun, Morata bukanlah Diego Costa. Costa adalah target-man kontroversial yang tidak hanya menunggu bola, namun juga mencari bola dan sangat mampu melindungi bola. Suatu hal yang menggaransi peluang Antoine Griezmann dan pemain lainnya untuk bergerak tanpa terkawal. 

Ketika pemain lini kedua telah memperoleh ruang tembak, maka, tak segan bagi Diego Costa untuk membagi bola kepada rekannya. Termasuk dalam menjalankan strategi counter-attack. Costa sangat handal untuk merespon bola direct yang dikirim ke depan. Karena, Costa memiliki kecepatan dan akselerasi yang cukup bagus. Situasi yang tak bisa didapatkan ketika Atletico bersama Morata.

Faktor susunan pemain dan perubahan gaya main Atletico yang tidak berenergi seperti itu. Membuat Juventus memiliki peluang besar untuk mengintimidasi si tamu. Berbekal pemain petarung seperti Emre Can (berduel di belakang dan tengah) dan Matuidi (tengah) sukses mengunci upaya penyerangan lawan. Hal ini kemudian dibarengi dengan konsentrasi para pemain lini penyerangan yang tidak kehabisan akal untuk menggempur pertahanan Atletico yang tampil kurang greget dan kurang terlindungi oleh pemain tengahnya.

Memang, Atletico menumpuk pemain di tengah. Namun, pemain-pemain itu tidaklah murni sebagai petarung untuk merebut bola ataupun mengintersep lajur bola lawan. Mereka kebanyakan hanya membayangi pergerakan lawan yang bersama bola. Beberapa kesempatan, bahkan pemain Atletico cukup terlambat untuk memblokir ruang tembak lawan. Seolah, Atletico memasang banyak pemain hanya untuk zona marking, bukan untuk man-to-man marking---gaya Atletico dalam bertahan rapat dan cepat untuk mendekati lawan yang memegang bola.

Pertandingan ini seperti bukan merupakan Atletico. Tanpa permainan garang yang penuh resiko dan juga aliran bola cepat yang tidak peduli soal possession dalam membangun serangan. Praktis, Atletico seperti mengingkari gaya mainnya, begitu pula dengan ekspresi Diego Simeone di tepi lapangan yang tidak mengguratkan semangat untuk bertarung. Seolah-olah, mereka sudah selesai bermimpi di Liga Champions. Mereka ingin segera bangun untuk melihat rumahnya lagi dengan kenyataan---kekalahan.

Sedangkan bagi Juventus, kemenangan ini memberikan bukti kepada para pendukung dan penikmat bola terhadap langkah progresif mereka. Mereka telah berhasil memiliki sosok pemenang seperti Cristiano Ronaldo di tim. Artinya, mereka sudah memiliki modal yang cukup untuk dapat kembali bertarung serius tanpa gentar di Liga Champions, termasuk mewujudkan asa ke final. Seperti apa yang telah mereka lakukan ketika tanpa CR7 di dua final yang masing-masing kalah dari Bayern Munchen dan Barcelona di beberapa waktu lalu.

Kini, Juventus punya CR7. Peraih 4 gelar Liga Champions dengan 3 gelar telah didapatkan kapten timnas Portugal ini dalam tiga tahun terakhir. Maka, sudah bukan lagi saatnya bagi Juventus menahan mimpinya untuk meraih gelar Liga Champions. Ini adalah waktunya untuk bisa mewujudkannya dengan perjuangan tim yang tinggi---permainan solid sebagai tim---seperti yang diperlihatkan di laga ini (second leg 16 besar Liga Champions).

Mungkinkah Juventus kembali ke final?




Malang, 13-3-2019
Deddy Husein S.

Silakan baca artikel saya lainnya di sini 👇:

Artikel Liga Champions 2018/19 bagian 1.

Bagian 2.

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x