Deddy Husein Suryanto
Deddy Husein Suryanto Pengamat Semi Amatir

Penyuka Sepakbola dan Penulis Gadungan, Cinta Indonesia. Jika mencari tempe, silakan kunjungi: https://deddyhuseins15.blogspot.com Iseng-iseng unggah video di https://m.youtube.com/channel/UCmc1Ubhzu3PPCG3XXqcGExg

Selanjutnya

Tutup

Bola Pilihan

Bermain Individual Adalah Mimpi Buruk Timnas Indonesia Muda

20 Februari 2019   20:34 Diperbarui: 20 Februari 2019   21:02 112 3 1
Bermain Individual Adalah Mimpi Buruk Timnas Indonesia Muda
Timnas Muda Indonesia berselebrasi. (Foxsports.co.id)

Saat ini, timnas Indonesia U-22 sedang menjalani turnamen Piala AFF untuk kategori junior. Di sini, timnas Indonesia diisi pemain-pemain muda yang sudah memiliki jam terbang cukup bagus di kompetisi domestik, khususnya di Liga 1. Terbukti, di sana ada Satria Tama di penjaga gawang utama, ada Rahmat Irianto, Asnawi, Luthfi Kamal, Gian Zola, Osvaldo Haay, Marinus Wanewar, hingga Rivaldo Todd Ferre.

Mereka adalah pemain-pemain bagus dan memiliki kualitas mumpuni jika dihadapkan pada turnamen kelompok usia. Namun, yang menjadi permasalahan di sini adalah ketika rasa percaya diri mereka sudah melampaui batas. Maka, hasilnya adalah tendangan tidak maksimal, kerja sama tidak ada, dan cedera.

Talenta bagus tanpa pematangan dalam mengelola fisik dan permainan, sama artinya 100-100=0.

Konsistensi permainan juga menjadi permasalahan ketika tim sebenarnya mampu tampil bagus, namun, tidak bisa mempertahankannya sampai akhir pertandingan. Penurunan tempo, dan kemudian terpancing provokasi, akan membuat permainan tim menjadi kacau.

Ini yang sering terjadi di tubuh Indonesia muda.

Mereka secara individu memang bagus namun secara tim, mereka seperti tidak saling kenal. Tidak tahu maunya rekan apa, dan bagaimana caranya membuat kerja sama. Ini sebenarnya yang harus diperhatikan. Perlu adanya penggemblengan dan penerapan untuk tetap bermain kompleks selama 90 menit plus waktu tambahan, apapun yang terjadi---entah sedang unggul ataupun tertinggal.

Di beberapa kesempatan, kita dapat melihat secara permainan tim, Indonesia di atas lawan. Namun, ketika lawan mampu mengorganisir permainan dengan sama baiknya, maka, Indonesia akan cenderung mencari cara lain dengan aksi individu. Kalau sekali-dua kali bolehlah, dan jika memang itu satu-satunya cara. Namun, bagaimana jika dua sampai tiga pemain sudah ada di area pertahanan lawan, namun pilihannya justru menendang langsung ke arah gawang. Kalau memang tendangannya powerfull, bolehlah. Tapi, bagaimana jika tidak?

Ini yang sebenarnya menjadi batu sandungan bagi performa dan hasil pertandingan timnas Indonesia (khusunya yang muda). Bukan karena tim lawan bagus, tapi, permainan timnya sendiri yang dirusak sendiri. Dua hal yang merusak permainan timnas adalah cepat frustrasi dan menyia-nyiakan peluang. Kalau frustrasi memang masih bisa dimengerti. Karena, jalannya permainan selalu mempengaruhi psikologi dan mental. Namun bagaimana dengan menyia-nyiakan peluang? Apakah setelah menendang bola lemah atau melenceng, nanti bisa cari (peluang) lagi?

Secara taktikal ataupun filosofi permainan, Indra Sjafri maupun Fachri Husaini adalah pelatih-pelatih berkualitas. Namun, yang menjadi problem adalah didikan psikologi dan pemahaman bahwa sepakbola adalah permainan tim ini sepertinya tidak ditanamkan secara kuat. Padahal, kunci dasarnya yang baik adalah kita mampu mengoper bola ke rekan dengan baik (baca: akurat) dan mampu melihat situasi (merespon permainan lawan dan juga mengetahui celah-celahnya). Kedua hal ini menjadi kunci permainan sepakbola yang bagus dan biasanya selalu didapatkan dari pelatih-pelatih asing.

Hal ini dapat dilihat ketika Luis Milla melatih U-23 saat itu, dengan Indra Sjafri yang saat ini melatih U-22. Terlihat sekali bahwa kesalahan yang dilakukan oleh Osvaldo Haay yang 'boros peluang', ataupun Firza Andika dan Asnawi yang kadang kurang dapat mengambil keputusan yang tepat saat membantu serangan. Ini seperti dimaafkan dan kemudian terulang lagi di pertandingan-pertandingan lainnya. Pada akhirnya ini akan menjadi karakter permainan mereka. Seperti berusaha menjadi pahlawan kesiangan namun ujung-ujungnya mendapatkan hadangan pemain lawan dan berujung pada emosi ataupun cedera. Berusaha keras memang boleh, namun, perlu lagi untuk melihat temannya juga. Karena mereka hadir di atas lapangan yang sama juga untuk kemenangan tim, bukan untuk memungut bola keluar.

Salah satu contoh pemain yang berkualitas secara individu adalah Osvaldo Haay. Sudah terbukti bahwa dia di Persebaya tampil bagus. Di sana, dirinya bisa menyatu dengan pemain-pemain senior. Walau terkadang gaya Mbappe-nya juga bisa keluar sewaktu-waktu. Yaitu, membawa bola sendiri dan mengeksekusi sendiri tanpa perhitungan yang tepat. Padahal dengan kemampuan individunya yang luar biasa itu, seharusnya bisa semakin ciamik ketika dapat dipadukan dengan visi membagi bola yang bagus.

Terbukti, ketika dia dapat melakukan kerja sama dengan rekannya, permainan timnas menjadi cantik. Namun, ketika dia mulai frustrasi sendiri, atau kadang ingin menjadikan dirinya sebagai salah satu pencetak gol, maka, dia akan mengambil keputusan yang kurang tepat.

Memang, Osvaldo Haay dan pemain-pemain lainnya ini masih muda, namun, jika sejak dini sudah diajarkan bagaimana caranya bermain kompak bersama tim, maka, mereka bisa menjadi pemain dan tim yang bermental kuat. Karena sebenarnya, tim pemenang itu bukan karena ada satu atau dua pemain saja yang bermental bagus. Melainkan dengan banyak pemain yang bermain padu. Itulah yang dapat membuat permainan tim tidak bisa ditembus oleh lawan.

Semoga, tulisan ini bermanfaat buat kita semua, pecinta timnas sepakbola Indonesia.

Ayo Garuda! Terbang tinggi!

****
Malang, 20-02-2019
Deddy Husein S.