Dayu Hatmanti
Dayu Hatmanti freelance

beauty | life style | travel

Selanjutnya

Tutup

Hijau Artikel Utama

Mengunjungi Owa Jawa, Si Primata Endemik yang Setia

14 November 2017   14:17 Diperbarui: 14 November 2017   18:19 1450 6 2
Mengunjungi Owa Jawa, Si Primata Endemik yang Setia
Dokumentasi Pribadi

Senin pagi, 13 november 2017, Saya dan teman teman Kompasianers berkumpul di Bentara Budaya Jakarta, Kami akan bersama-sama berangkat menuju kawasan Bodogol, Taman Nasional Gunung Gede Pangrango.

Ada yang istimewa dari perjalanan saya kali ini. Setelah sebelumnya hanya melihat dan mendengar namanya saja, hari ini saya dapat kesempatan melihat langsung Owa Jawa, si primata endemik Indonesia yang unik dan terkenal setia.

Untuk mencapai pusat penyelamatan dan rehabilitasi Owa Jawa, Javan Gibbon Center (JGC) Bodogol, kami harus melewati medan yang cukup sulit. Dibutuhkan kendaraan yang tepat seperti mobil jeep dan kemampuan berkendara yang mumpuni.

Sesampainya di lokasi, kami mendapat arahan dari petugas JGC mengenai tata tertib selama berkunjung, diantaranya adalah kami harus menggunakan masker agar tidak saling menularkan penyakit dengan Owa Jawa. Alas kakipun harus dibersihkan dengan disinfektan agar steril.

Dokumentasi Pribadi
Dokumentasi Pribadi

Dokumentasi Pribadi
Dokumentasi Pribadi

Dari luar kandang saya bisa menyaksikan Owa Jawa lincah berayun di ranting pohon. Tubuhnya ditutupi rambut berwarna abu-abu, rambut di sekitar wajahnya berwarna putih, matanya bulat hitam. Owa jawa tidak memiliki ekor dan tangannya lebih panjang dibanding tubuhnya. Selain ciri fisiknya, Owa Jawa juga memiliki pola hidup yang sangat unik. 

Seperti halnya manusia, Owa Jawa hidup berkeluarga, tinggal dalam suatu rumah atau teritorial. Hal menarik lainnya adalah sifat Owa jawa yang terkenal sangat setia. Biasanya, bila induk owa jawa mati, pejantan owa jawa akan mengalami depresi dan kemudian ikut mati. Owa jawa tidak akan mencari pasangan lagi, kalau pasangannya sudah mati. mengharukan ya?

Sayangnya, menurut data The International Union for Conservation of Nature (IUCN) pada tahun 2008, Owa Jawa masuk dalam kategori satwa yang terancam punah, dengan tingkat kepunahan yang sangat tinggi. Populasi Owa Jawa yang diperkirakan tersisa di hutan Jawa Barat dan sebagian Jawa Tengah hanya sekitar 4000. Jumlah tersebut seperti besar, namun satuan terkecil untuk Owa Jawa bukan lah individu melainkan satu keluarga, di mana dalam satu keluarga Owa Jawa terdapat 3-5 individu yang terdiri sepasang induk serta 2-3 anak. Nah, Sistem keluarga, monogami dan teritorial itu lah yang menjadikan Owa Jawa menjadi lebih rentan akan kepunahan.

Selain itu ancaman perburuan dan rusaknya habitat membuat populasi Owa Jawa makin terancam. Karena keeksotisannya satwa ini juga seringkali diperdagangkan secara online ataupun di pasar-pasar hewan ilegal. Menurut saya memelihara hewan liar sama sekali bukan bentuk kasih sayang terhadap hewan tersebut. Karena sesungguhnya itu hanya akan menyiksa dan berdampak buruk terhadap lingkungan mengingat fungsi satwa dihabitat aslinya begitu penting.

Berangkat dari kepedulian atas kondisi populasi Owa Jawa yang memprihatinkan tersebut, PT Pertamina EP Asset 3 Subang Fiemen menjalin kerja sama dengan Yayasan Owa Jawa (YOJ) dalam bidang rehabilitasi, konservasi dan penyelamatan satwa endemik Owa Jawa. Kegiatan penyelamatan dan rehabilitasi dilaksanakan di Javan Gibbon Center. Komitmen untuk menyelamatkan populasi Owa Jawa ini sudah dimulai sejak April 2013 hingga saat ini. Selama kerja sama berlangsung telah dilakukan rehabilitasi sebanyak 39 individu Owa Jawa dan pelepasliaran 18 individu ke habitat aslinya.

Sebagai masyarakat kita pun bisa berperan aktif melestarikan Owa Jawa, caranya adalah dengan ikut menyebarluaskan informasi mengenai pentingnya melestarikan primata  ini dan yang terpenting adalah dengan tidak ikut membeli dan memelihara Owa Jawa atau satwa liar lainnya.

Setelah kunjungan ke JGC, kami melanjutkan perjalanan ke Taman Nasional Gunung Gede Pangrango. Sayup sayup saya mendengar suara Owa bersahutan ketika masuk ke wilayah hutan. Disini memang tidak ada jaminan pengunjung bisa melihat langsung Owa Jawa, karena inilah habitat aslinya. Owa bisa menjelajah bebas disini. Perjalanan tracking sejauh 1,4 km menjadi sangat menyenangkan karena udara sejuk dan suasana hutan yang asri. Yang paling saya suka didalam area taman nasional disediakan jembatan gantung sepanjang 130 meter yang diberi nama Canopy Trail. Bagi saya ini tempat yang paling sempurna untuk menikmati pemandangan hutan hujan tropis yang lebat.

Dokumentasi Pribadi
Dokumentasi Pribadi

Perjalanan bersama Kompasiana dan Pertamina hari ini ditutup dengan manis di Warso Durian Farm. Teman teman Kompasianers nampak amat bersemangat mengabiskan buah durian yang rasanya legit dan gurih.

Nampaknya kami harus menghemat tenaga karena agenda acara esok hari juga tak kalah seru. Kami semua akan rafting di Caringin. Kegiatan outdoor seperti ini memang selalu jadi favorit saya. Tak sabar rasanya untuk segera menjelajah sungai bersama Kompasianers lainnya. yeaay!