Mohon tunggu...
Firdaus Cahyadi
Firdaus Cahyadi Mohon Tunggu... Freelancer - Penulis, Konsultan Knowledge Management, Analisis Wacana, Menulis Cerita Perubahan dan Strategi Komunikasi. Kontak : firdaus(dot)cahyadi(at)gmail.com

Firdaus Cahyadi, penikmat kopi dan buku. Seorang penulis opini di media massa, konsultan Knowledge Management, Analisis Wacana di Media, Menulis Cerita Perubahan dan Strategi Komunikasi. Untuk layanan pelatihan dan konsultasi silahkan kontak : firdaus(dot)cahyadi(at)gmail.com

Selanjutnya

Tutup

Lingkungan

Hari Tani dan Aksi Global Climate Strike

23 September 2021   19:30 Diperbarui: 23 September 2021   19:32 68 4 0
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun

"Hari Tani  tahun merupakan momen yang tepat bagi pemerintah untuk melakukan refleksi  agar mampu melakukan  pembangunan yang berpihak ke masyarakat dan lingkungan, bukan hanya segelintir orang. Contoh dengan menghentikan pembangunan PLTU Batu Bara yang selain menjadi sumber emisi GRK, juga erat kaitannya dengan konflik agraria yang merampas lahan para petani," ungkap Ginanjar Ariyasuta, aktivis muda yang tergabung dalam gerakan Jeda untuk Iklim dalam sebuah siaran pers.

Setiap tanggal 24 September, warga Indonesia memperingati Hari Tani. Kali ini peringatan Hari Tani bertepatan dengan aksi iklim, 'Global Climate Strike'. 

Aksi Global Climate Strike adalah aksi unjuk rasa secara global yang mengangkat persoalan-persoalan perubahan iklim, yang menurut laporan PBB, terjadi lebih cepat dari yang diperkirakan. Bila perubahan iklim itu terjadi, bencana-bencana ekologi akan datang dengan skala luas dan mematikan. Mulai dari banjir, tanah longsor, kekeringan dan munculnya berbagai hama penyakit bagi pertanian.

"Di tahun 2021 ini, sumber-sumber kehidupan kaum tani kian rentan terdampak krisis iklim," ujar Indonesia Team Leader 350.org,  Sisilia Nurmala Dewi, "Bencana ekologi akibat krisis iklim berupa kekeringan dan banjir bandang sama-sama mengancam kehidupan kaum tani, belum lagi makin banyaknya hama tanaman karena perubahan iklim."

Menurut data Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), selama abad 20, Indonesia mengalami peningkatan suhu rata-rata udara di permukaan tanah 0,5 derajat celcius. Menurut Bappenas suhu di Indonesia diproyeksikan meningkat 0,8 sampai 1,0 derajat Celcius antara tahun 2020 hingga 2050. Bappenas memperkirakan di 2100, jika tidak ada langkah yang tepat, temperatur Indonesia akan meningkat 1,5 derajat Celsius dan cuaca ekstrem akan lebih intens. Kondisi iklim ini akan menciptakan bencana hidrometeorologi seperti banjir, kekeringan, longsor, berkurangnya produksi pertanian, dan terbatasnya area penangkapan ikan untuk nelayan.

 "Itu semua akan berdampak pada kehidupan kaum tani dan pada gilirannya ketahanan pangan kita," ujar Sisil, "Celakanya, proyeksi Bappenas itu akan lebih cepat dari yang diperkirakan, karena laporan Panel Antar-pemerintah tentang Perubahan Iklim (Intergovernmental Panel Climate Change/IPCC) di bawah PBB yang mengungkapkan pemanasan bumi terjadi lebih cepat dari perkiraan."

Terkait dengan itulah, upaya untuk mengurangi emisi gas rumah kaca, penyebab krisis iklim harus segera dilakukan. "Transisi energi menuju energi terbarukan harus segera diwujudkan," ujarnya, "Namun, sayangnya, Bank-bank BUMN seperti BNI, justru masih menggelontorkan pendanaannya ke proyek energi kotor batubara."

Untuk itu, lanjut Sisil, di Hari Tani 2021 ini, harus jadi momentum bagi bank BUMN untuk ikut mengambil peran dalam menghindarkan dampak buruk krisis iklim bagi kaum tani. "Bank-bank BUMN, seperti BNI, harus menghentikan pendanaannya untuk proyek-proyek energi kotor batubara," tegasnya, "Bank-bank milik negara itu harus mengarahkan pendanaannya ke proyek-proyek yang rendah emisi ramah lingkungan."

Mohon tunggu...

Lihat Lingkungan Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
LAPORKAN KONTEN
Alasan