Humaniora

Jangan Diskriminatif

20 Mei 2017   00:15 Diperbarui: 20 Mei 2017   01:23 15 0 0

Sudah larut malam,seperti biasa. Jemariku mulai gatal meraba tombol gadget.

Driiiiiing, suara telpon berbunyi. "Ini siapa ya? Ini aku, kak. Siapa ya, tanyaku,"

Percakapan itu mulai berlanjut,arah percakapan tersebut mulai menjurus pada gerekan organisa ke islaman.

Kebetulan kasus tersebut lagi viral di tanah air.

" Pada dasarnya organisasi kemasyrakatan itu adalah cara masing-masing  untuk ikut andil berkontribusi terhadap masyarakat setempat dan negara," ujar Aisyah dalam percakapan lewat telepon.

" Iya, seharusnya negara itu merangkul, ini malah membubarkan. Dibilang anti pancasila lah, dituduh kriminallah. Padahal pada dasarnya, rakyat punya cara masing-masing untuk mengabdi pada bangsanya," jawabku.

"Dalam sejarah, biasanya rakyat itu lebih taat aturan daripada orang yang memimpin di perintahan. Alasannya, mereka yang yang sudah memimpin amat sangat mudah mengacak-ngacak hukum. Tapi ada juga pejabat yang yang taat hukum, tidak semua loh pejabat itu nakal,"sambungku.

Pada dasarnya, menjadi manusia Indonesia jelas menunjuk pada bangsa Indonesia yang mejemuk. Terutama dari kedaerahan, kesukuan, etnis dan agama. Hal tersebut mestinya harus menjadi kesatuan yang utuh sehingga satu dengan yang lainnya menjad kekuatan pada  NKRI.

Saya teringat dengan isi buku " Tentang Manusia Indonesia".

Penulis bendingkan beberapa sifat manusia Indonesia.

" Sepertu halnya keperibadian seorang induvidu, karakter suatu bangsa pada setiap periode juga ditentukan oleh sifat bawaan serta berbagai pengaruh luar yang diproleh sepanjang sejarah. Interaksi dengan lingkungan sekitar ( suku dan bangsa lain) serta respon terhadap pengalaman itu sendiri. Dan,  sekali lagi. Sebagaimana halnya seorang induvidu, suatu bangsa pun memiliki unsur kepribadian mendasar yang akan tetap sama. Meskipun secara terus-menerus terjadi perubahan yang kadang-kadang disertai mutasi luar biasa. ( Pelres, 2006).

Oleh karena itu, keberagaman manusia Indonesia dianggap sebagai lambang jatidiri bangsa ini. Jadi, seharusnya diskrimanasi dari berbagai agama, suku dan etnis jangan lagi dibenturkan dengan isu-isu murahan.

Sehingga pada akhirnya, diskrimasi agama, kriminalisasi   bapak agama dan tokoh tidak lagi mencuit dipermukaan tanah leluhur bangsa ini. 

Kemajemukan, kebaragaman, mestinya kita lah yang merawat sebagai rakyat yang mencintai utuh rumah NKRI. Sampai, tidak ada lagi cerita sesama warga Indonesia, Jangan diskriminatif ***