Mohon tunggu...
Dasilva ari
Dasilva ari Mohon Tunggu... Sebab kita sering lupa, maka menulis adalah koentji

Coguyon ergo sum

Selanjutnya

Tutup

Edukasi Pilihan

KKN: Pemberdayaan Masyarakat atau Diperdaya Masyarakat

14 Juli 2019   12:40 Diperbarui: 14 Juli 2019   12:43 0 1 1 Mohon Tunggu...

Pertengahan bulan juni, mahasiswa tingkat semester 6 akhir disibukan dengan program wajib universitas, yaitu Kuliah kerja nyata atau KKN. Seperti pengalaman dan sejauh saya saat memandang muka -- muka mahasiswa yang hendak berangkat KKN. Mereka kebanyakan sangat antusias menyambut momen sekali dalam proses perkuliahannya. Memang, momen KKN adalah momen yang hanya bisa didapat ketika menempuh studi di perguruan tinggi, khususnya yang menempuh studi di universitas.

Saya pun pernah menjadi bagian dari euforia menyambut program KKN. Saya  sendiri membayangkan program KKN sudah sejak menjadi mahasiswa baru. Membayangkan dalam kegiatan tersebut hidup 1 bulan bersama teman -- teman baru lintas jurusan, menjalankan urusan rumah tangga bersama, menjalankan program kerja yang sudah direncanakan jauh -- jauh hari bersama kelompok. Yang paling penting, akan menikmati suasana sejuk desa setelah bertahun - tahun berkutat dengan urusan perkotaan.  Sebab itu, saya tertarik untuk memberikan opini terkait KKN.

Hal -- hal lebih dalam soal dunia perguruan tinggi juga saya dapatkan ketika menjalankan program KKN. Yang menjadi pengetahuan baru bagi saya waktu itu adalah  mengenai tri darma perguruan tinggi. Yaitu, Pendidikan, penelitian dan pengabdian. Program KKN yang diadakan oleh universitas adalah sebagai upaya mewujudkan point ke 3, yaitu pengabdian kepada masyarakat. Oleh karena itu, dalam prosesnya, mahasiswa di terjunkan langsung ke masyarakat untuk melakukan pengabdian di desa -- desa yang ditentukan universitas.

Namun, seperti sudah melenceng dari niat awalnya, Tujuan dari pada KKN kini dimaknai lain bagi sebagian mahasiswa. Ada yang memaknai hanya sebagai pengguguran kewajiban, ada yang memaknai sebagai saat yang tepat untuk mencari pendamping hidup, he..he.., ada juga yang memanfaatkan KKN sebagai ajang adu kualitas program studi. Meskipun tidak menutup kemungkinan masih ada yang memiliki orientasi pengabdian.

Pembekalan yang diberikan kampus ketika melepas Mahasiswa pun terkadang alakadarnya. Mereka hanya diajarkan bagaimana bermasyarakat, larangan, dan kewajiban selama KKN. Jarang sekali arahan mengenai karakter apa yang harus dibangun ketika terjun di masyarakat, bagaimana menghadapi situasi sulit dalam kelompok. Yang di berikan hanya pesan -- pesan singkat mengenai kebutuhan -- kebutuhan dalam KKN

Dalam teori organisasi, orientasi hidup individu, berpengaruh pada kerja kolektif. Hal itu bisa saja terjadi ketika berjalannya program KKN. Orientasi yang salah dari salah seorang anggota kelompok saja, sangat memiliki dampak yang cukup sistemik bagi berjalannya KKN di kelompok tersebut. Disadari atau tidak, mari kita buktikan dampak tersebut.

Pertama, orientasi mencari jodoh ketika KKN. Kejadian yang sering di temukan dan merupakan masalah umum bagi rata -- rata kelompok KKN. Dalam kasus si A (pria) menyatakan cinta ke si B (wanita). Diterima atau tidak, akan jadi masalah bagi kelompo KKN tersebut. Sebab apabila diterima, kedua sejoli tersebut akan menikmati momen pacaran sebagai 2 pasangan baru, yang kebanyakan akan mengesampingkan urusan menjalankan program kerja KKN. Lebih buruk ketika Si A ditolak oleh Si B, tentunya akan ada perasaan saling tidak enak anatara keduanya, yang mengganggu stabilitas dalam kelompok KKN

Kedua, apabila dalam satu kelompok memiliki orientasi sekedar menggugurkan tanggung jawab. Sebetulnya tidak ada masalah dalam orientasi tersebut. Namun, hal ini berdampak pada program kerja yang alakadarnya dan tidak tepat sasaran. Sebab, yang ada dalam pikiran mereka adalah cepat selesain dan cepat meninggalkan desa yang ditempati. Yang penting sudah mengerjakan sesuai porsinya, bekerja secara individu, tanpa melihat kebutuhan kelompok secara kolektif.

Hal -- hal diatas adalah masalah yang muncul dari dalam kelompok. Belum lagi mengenai program -- kerja yang monoton dari tahun ke tahun. Logikanya, desa yang menjadi tempat KKN adalah desa yang sudah di tempati berkali -- kali atau desa yang sudah menjalin kerja sama dengan pihak kampus untuk program KKN. Pertanyaannya, kalau KKN adalah pengabdian untuk memberdayakan masyarakat guna memajukan daerah tersebut, lalu mengapa desa tersebut tetap digunakan bertahun -- tahun? Artinya, dalam daerah tersebut tidak ada kemajuan sehingga selalu digunakan.

Bukankah dalam teori pembangunan, pembangunan harus sustainable? Yang artinya pembangunan harus berkelanjutan.  Setelah saya amati singkat dan berdasarkan pengalaman pribadi ketika KKN, yang menjadi masalah adalah program kerja yang ditawarkan oleh kelompok yang menempati desa tersebut sangat monoton dan cenderung mengikuti program tahun lalu. Seperti pembangunan palang desa, membuat tempat sampah, bersih desa, mengajarkan baca tulis anak -- anak TK. Serta program lain pada umumnya.

Adapun program kerja yang tujuannya untuk pemberdayaan, namun minim follow up dari kelompok dan perangkat desa. Sehingga project dan gagasan tersebut mangkrak ketika kelompok KKN sudah meninggalkan desa KKN. Celakanya, hal ini justru dimafaatkan oleh masyarakat sebagai kesempatan untuk memperbaharui infrastruktur desa. Mereka seolah paham betul prinsip yang dipegang oleh kelompok KKN. Yaitu "Asal Masyarakat Senang".

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2