Darwono Guru Kita
Darwono Guru Kita profesional

**************************************** \r\n DARWONO, ALUMNI PONDOK PESANTREN BUDI MULIA , FKH UGM, MANTAN AKTIVIS HMI, LEMBAGA DAKWAH KAMPUS JAMA'AH SHALAHUDDIN UGM, KPMDB, KAPPEMAJA dll *****************************************\r\n\r\n\r\n\r\n\r\nPemikiran di www.theholisticleadership.blogspot.com\r\n\r\nJejak aktivitas di youtube.com/doitsoteam. \r\n\r\n\r\n*****************************************\r\n\r\nSaat ini bekerja sebagai Pendidik, Penulis, Motivator/Trainer Nasional dan relawan Pengembangan Masyarakat serta Penggerak Penyembuhan Terpadu dan Cerdas Politik Untuk Indonesia Lebih baik\r\n*****************************************

Selanjutnya

Tutup

Atletik Pilihan

Salah Strategi, China Kalah

2 September 2018   08:25 Diperbarui: 2 September 2018   08:29 431 1 0

Pelari Michael Johnson yang memiliki record lari 400 meter yang  bertahan 17 tahun, yaitu 43,18 detik, dibuatkan sepatu oleh sponsornya dengan disign khusus. Selain design itu mengakomodir bentuk kaki khusus Johnson, juga diperuntukan agar fleksibel dapat menyesuaikan "posisi" kaki saat Johnson harus melintas di lintasan melengkung (curves track). 

Hzal ini disadari karena berlari di track lurus dan track melengkung itu sangat berbeda, seheningga kecepatan seorang pelari di lintasan lurus, sangat berbeda dengan ketika di harus berlari di lintasan melengkung.

Faktor itulah yang menurut hemat penulis yang menjadi salah satu penyebab kekalahan team estafet 4 X 100 meter pria China dan team lari estafet Indonesia. Jelas, Team China, dengan personal best Su Bingtian 9.91 detik dan pelari yang diposisikan pada elari ke 4 10.05  detik, dan dua pelari lainnya secara rerata lebih baik dari team Indonesia dengan pesonal terbaik dimiliki oleh Zohri, 10,18 detik yang ia ciptakan di kejuaraan IAAF tahun 2018 di Finlandia Juli lalalu. 

Dalam penilaian penulis, penempatan Bingtian sebagai pelari ke tiga yang harus berlari di lintasan melengkung, sangat berpengaruh pada pengurangan kecepatannya, hal in i dapat kita amati pada final 4 X 100 meter putra Asian Games 2018 (lihat di youtube kami, Wrong Strategy, China losing) Bingtian meski dapat memperkecil jarak dengan pelari ke tiga Eko Rimbawan, namun tetap masih tertinggal sekitar 5 langkah hingga Eko menyerahan tongkat estafet ke pelari ke  4 Indonesia, Bayu Kertanegara, yang berpacu dengan pelari ke 4 China. 

Meski jarak juga dapat dikurangi, sekitar tinggal 3 langkah, namun apa daya, garis finish sudah tersentuh, dan ekspresi kekecewaan pelari china ini jelas nampak, bahkan jika dengan bahasa Jawa, kelihatannya ia "misuh misuh"

Strategi China itu memang nampaknya berbeda dengan strategy pada umumnya, yang menempatkan pelari tercepatnya sebagai pelari ke dua dari 4 pelari estafet, namun faktanya, strategy khusus itu justru buerang bagi team Chinza itu sendiri. 

Kita bisa mengamati, meski Zohri menerima tongkat estafet dari Fadlin lebih lambat dari pengoperan pelari pertama ke pelari ke duanya, namun dengan kecepatan Zohri pada sekitar 25 awal Zohri dapat menyalip pelari China dan teris bertambah lebar sekitar 10 langkah hingga Zohri menyerahkan tongkat estafet kepada Eko Rimbawan. Jika Su Bintiang ditempatkan sebagai pelari ke dua, kemungkinan besar akan seimbang bahkan tidak terlewati oleh Zohri.

Penempatan peleri tercepat China Su Bintiang sebagao pelari ke tiga yang harus berlari di kintasan melengkung menjadikan keuntu ngan bagi Indonesia, meskipun jarak yang telah dibuat oleh Zohri semakin berkurang karena kecepatan pelari Chna yang rata-rata jauh lebih cepat dari Indonesia.  Sementara itu Zohri menjadi lebih percaya diri untuk berpacu dengan pelaari ke dua China yang bukan Su Bingtian, manjusia tercepat Asia saat ini. 

Penempatan Zohri sebagai pelari ke dua, meskipun hal itu biasa dimana pelari  tercepat ditempatkan sebagai pelari ke dua, juga sebuah keuntungan tersendiri karena Zohri masih lemah pada tolakan  dan lari awal serta  saat masuk finish (baca tulisan kami sebelumnya). 

Dengan start melayang, dan awalan lari yang dibuat sebaleum menerma tongkat dari Fadlin, Zohri kemudian melesat mengejar dan kemudian meninggalkan pelari China, tanpa harus terkendala oleh start dan laro awal. Sebga team yang berlari di lintasan 3 (dalam) seliasih jarak yang dibuat Zohri sesungguhnya lebar, sebab kita tahu, China yang berlari di lintasan lebih luar, start ada beberapa meter di depan Indonesia. Hanya dengan speed, kecepatan pelari China yang lebih baiklah yang dapat mengurangi jarak itu secara bertahap, sehingga hanya sekitar 3 langkah pelari ke empat china tertinggal dari pelari ke empat Indonesia, Bayu Kartanegara. 

Memang, lomba atletik atau b ahkan lomba olah raga apapun, selain teknik, mental juara juga strategy sangat berpengarauh dalam capaian hasilnya. Teknik yang benar akan memberikan efektiofitas hasil jelas dimiliki oleh pelari-pelari China. Juga mental juara, yang memungkinkan China terus berpacu memerpendek keteringgalan dari team Indonesia yang dibuat Zohri dan Fadlin. Sayang, strategy yang kurang tepat yang mengharuskan Bingtiang lari di lintasan melengkung jelas, kecepatannya tidak optimal, padahal pada lingtasan lurus, Bintiang bahkan bisa memecahan rekord dunia untuk lari 60 meter . Sayang memang.