Darwono Guru Kita
Darwono Guru Kita profesional

**************************************** \r\n DARWONO, ALUMNI PONDOK PESANTREN BUDI MULIA , FKH UGM, MANTAN AKTIVIS HMI, LEMBAGA DAKWAH KAMPUS JAMA'AH SHALAHUDDIN UGM, KPMDB, KAPPEMAJA dll *****************************************\r\n\r\n\r\n\r\n\r\nPemikiran di www.theholisticleadership.blogspot.com\r\n\r\nJejak aktivitas di youtube.com/doitsoteam. \r\n\r\n\r\n*****************************************\r\n\r\nSaat ini bekerja sebagai Pendidik, Penulis, Motivator/Trainer Nasional dan relawan Pengembangan Masyarakat serta Penggerak Penyembuhan Terpadu dan Cerdas Politik Untuk Indonesia Lebih baik\r\n*****************************************

Selanjutnya

Tutup

Kesehatan Pilihan

Mari Bersama Cegah Difteri

13 Januari 2018   14:49 Diperbarui: 13 Januari 2018   15:39 282 0 0
Mari Bersama Cegah Difteri
Foto: tribunnews.com

Satu hal yang sedang menjadi viral di tengah masyarakat kita dewasa ini adalah  mewabahnya penyakit Difteri. 

Meskipun penyakit ini sedang viral dalam makna heboh menjadi perhatian, tetapi sesungguhnya penyakit ini bukan salah satu penyakit viral dalam arti penyakit yang disebabkan oleh virus. 

Dilihat darai penyebabnya, Difteri adalah penyakit yang disebabkan bakteri Corynebacterium diphteriaeyang umumnya menyerang selaput lendir pada hidung dan tenggorokan, serta terkadang dapat memengaruhi kulit.dan dapat menyebabkan kematian terutama pada anak-anak, dengan demikian, difteri merupakan salah  satu penyakit bakterial yang menular. 

Kita menggolongkan penyakit difteri salah satu .Penyakit ini sangat menular dan termasuk infeksi serius yang berpotensi mengancam jiwa. Data anagka kejadian (aksedensi)  penyekit ini di Indonesia dari Januari hingga November 2017 ada 593 kasus difteri terjadi  dengan angka kematian 32 kasus.  

Kejadian ini tersebar di 95 kabupaten-kota pada 20 provinsi di seluruh Indonesia. Menurut catatan yang ada  sebanyak 66 persen dari keseluruhan kasus difteri yang terjadi sepanjang 2017 di seluruh Indonesia adalah karena penderitanya tidak diimunisasi.

Jika seseorang tertular difteri, masa inkubasi dua hari hingga lima hari dan akan menular selama dua minggu hingga empat minggu. Penyakit itu sangat menular dan dapat menyebabkan kematian jika tidak ditangani secara cepat.  

Secara umum, gejala-gejala dari penyakit difteri meliputi:: Terbentuknya lapisan tipis berwarna abu-abu yang menutupi tenggorokan dan amandel; Demam dan menggigil; Sakit tenggorokan dan suara serak; Sulit bernapas atau napas yang cepat; Pembengkakan kelenjar limfe pada leher sehingga leher nampak seperti leher sapi (Bull nec); Lemas dan lelah; Pilek. 

Awalnya cair, tapi lama-kelamaan menjadi kental dan terkadang bercampur darah. Gejala yang spesifik pada  Penyakit difteri  berupa selaput putih keabu-abuan di tenggorokan atau hidung yang dilanjutkan dengan pembengkakan leher atau disebut dengan bull nec`

Seperti dijelaskan di atas bahwa penyakit difteri ini sangat menular dengana penularan  melalui udara, yaitu lewat nafas atau batuk penderita. terdapat bebarap hal yang perlu dilakukan untuk mencegah penularan kuman difteri selain pencehgahan dengan vaksinasi. 

Beberapa cara tersebut adalah, sebagai berikut, pertama dan utama adalah imunisasi; hindari kontak; gunakan masker; pola hidup bersih dan sehat,; penggunaan antibiotik bagi yang sudah terinfeksi`

Sebagai salah satu  cara untuk mencegah penularan difteri adalah melalui imunisasi.  

Oleh karena itu kontrol  status imunisasi rutin pada anak-anak apakah sudah lengkap atau belum, hal ini sebagai langkah turut serta  mendukung pelaksanaan ORI (outbreak response immunization)  yang diprogramkan oleh pemerintah yang akan dilaksanakan oleh dinas kesehatan setempat. Program ini meruoakan program  pencegahan difteri dengan sasaran anak usia 1 -- < 19 tahun yang tergolong sebagai langkah preventif 

Program preventif lain adalah  dengan cara menghindari kontak langsung dengan penderita agar kuman karena kuman bisa menyebar melalui udara. baik pernafasan atau saat batuk. 

Oleh karena itu petugas kesehatan harus memeriksa tenggorokan pasien yang mungkin  terdapat selaput khas yang kotor sebagai tanda spesifik penyait difteri.

Sementara itu yang ke tiga, mengingat bakteri penyebab penyakit difteri menyebar melalui udara, baik batuk maupun nafas, maka untuk mencegah penularan difteri, penderita maupun masyarakat umum sebaiknya menggunakan masker. terutama bagi khalayak yang mengunjungi penderita  difteri. 

Sedang upaya pencegahan penyakit difteri berikutnya adalah dengan memastikan lingkungan bersih dan rajin mencuci tangan seperii kita maklumi bersama,  kuman ada di mana-mana. 

Mencuci tangan, serta menghindari kontak langsung dengan penderita. Dengan demikian penerapan  pola hidup bersih dan sehat adalah bagian dari upaya pencegahan penyakit difteri ini. 

Sedangkan sebagai upaya ke lima, yang merupakan tindakan kuratif terhadap pasien yang telah terinfeksi bakteri Corynebacterium diphteriaewajib diberikan antibiotik, serum, dan lainnya agar cepat sembuh dan tidak menular kepada orang lain. 

Bahkan pada kasus tertentu ada tindakan lain yang lebih dahsyat untuk membantu pasien tetap bernafas adalah dengan trachektomi, yakni memberi lubang pada trachea atau tenggorokan. 

Perlu diketahui, data menunjukan  20 % penderita  difteri dari kelompok usia balita dan lansia di atas 40 tahun meninggal dunia akibat komplikasi difteri. 

Hal ini dikarenakan karena jika penyakit difteri tidak diobati dengan cepat dan tepat, toksin dari bakteri difteri dapat memicu beberapa komplikasi yang berpotensi mengancam jiwa.

Beberapa di antaranya meliputi masalah pernapasan dimana Sel-sel yang mati akibat toksin yang diproduksi bakteri difteri akan membentuk membran abu-abu yang dapat menghambat pernapasan. 

Partikel-partikel membran juga dapat luruh dan masuk ke paru-paru. Hal ini berpotensi memicu reaksi peradangan pada paru-paru sehingga fungsinya akan menurun secara drastis dan menyebabkan gagalnya pernafasan. 

Resiko komplikasi yang  ke dua adalah kerusakan jantung, dimana toksin difteri berpotensi masuk ke jantung dan menyebabkan peradangan otot jantung atau miokarditis. 

Hal ini  ini dapat menyebabkan masalah, seperti detak jantung yang tidak teratur, gagal jantung, dan kematian mendadak. Selanjutnya yang berpotensi menjadi komplikasi yang  ke tiga adalah kerusakan saraf.  

Terhadap sisem syaraf, toksin dapat menyebabkan penderita mengalami masalah sulit menelan, masalah saluran kemih, paralisis atau kelumpuhan pada diafragma, serta pembengkakan saraf tangan dan kaki. Paralisis pada diafragma akan membuat pasien tidak bisa bernapas sehingga membutuhkan alat bantu pernapasan atau respirator. 

Paralisis diagfragma dapat terjadi secara tiba-tiba pada awal muncul gejala atau berminggu-minggu setelah infeksi sembuh. Karena itu, penderita difteri anak-anak yang mengalami komplikasi umumnya dianjurkan untuk tetap di rumah sakit hingga 1,5 bulan untuk perawatan sehingga kondisinya selalu terpantau. 

Sedangkan komplikasi terahir adalah  Difteri hipertoksik, yakni sangat banyak racun bakteri yang dihasilkan.  Ini merupakan komplikasi penyakit difteria yang sangat parah. Bahkan  difteri hipertoksik akan memicu pendarahan yang parah dan gagal ginjal.

Dari uraian di atas nampaknya difteri bukanlah penyakit ringan, oleh karena itu, bagaimanapun juga, agaar tubuh kita memiliki daya tahan maka tindakan imunisasi adalah tindakan yang Langkah utama dalam pencegahan paling efektif untuk penyakit ini adalah dengan vaksin. Pencegahan difteri tergabung dalam vaksin DTP. 

Vaksin ini meliputi difteri, tetanus, dan pertusis atau batuk rejan. Sebenarnya, Vaksin DTP termasuk dalam imunisasi wajib bagi anak-anak di Indonesia. 

Pemberian vaksin ini dilakukan 5 kali pada saat anak berusia 2 bulan, 3 bulan, 4 bulan, satu setengah tahun, dan lima tahun. Selanjutnya dapat diberikan booster dengan vaksin sejenis Td pada usia 10 tahun dan 18 tahun. Vaksin Td dapat diulangi setiap 10 tahun untuk memberikan perlindungan yang optimal.

Pada kasus dimana imunisasi DTP terlambat diberikan, dapat dilakukan imunisasi kejaran yang diberikan tidak akan mengulang dari awal. Bagi anak di bawah usia 7 tahun yang belum melakukan imunisasi DTP atau melakukan imunisasi yang tidak lengkap, masih dapat diberikan imunisasi kejaran dengan jadwal sesuai anjuran dokter anak Anda. 

Namun bagi mereka yang sudah berusia 7 tahun dan belum lengkap melakukan vaksin DTP, terdapat vaksin sejenis yang bernama Tdap untuk diberikan, jadi ayo imunisasi difteri !

Ditulis dengasn merujuk beberapa sumber