Daniel H.T.
Daniel H.T. wiraswasta

Bukan siapa-siapa, yang hanya menyalurkan aspirasinya. Berasal dari Fakfak, Papua Barat. Twitter @danielht2009

Selanjutnya

Tutup

Politik Pilihan

Gerindra dan Politik SARA

14 Juni 2018   01:04 Diperbarui: 14 Juni 2018   01:14 1456 5 2
Gerindra dan Politik SARA
Ketua Bidang Hubungan dan Kajian Strategis PP GP Ansor Nuruzzaman dalam sebuah diskusi bertajuk Pembubaran HTI dan Amanat Konstitusi Kita di gedung PBNU, Jakarta Pusat, Senin (10/7/2017).(KOMPAS.com/Kristian Erdianto)

Wakil Sekretaris Jenderal Dewan Pertimbangan Pusat (Wasekjen DPP) Partai Gerindra Mohammad Nuruzzaman menulis surat terbuka kepada Ketua Umum Gerindra Prabowo Subianto, isinya pernyataan dia keluar dari Partai Gerindra.

Di dalam surat terbuka bertanggal 12 Juni 2018 itu Nuruzzaman yangjuga adalah Ketua Bidang Hubungan dan Kajian Strategis PP GP Ansor menulis alasan dia keluar dari Gerindra, yaitu karena Wakil Ketua Umum Gerindra Fadli Zon dianggapnya telah menghina Katib Am Pengurus Besar Nahdlatul Ulama Kiai NU, KH Yahya Cholil Staquf.

Pada Minggu, 10 Juni 2018, KH Yahya Cholil Staquf memenuhi undangan  The Israel Council on Foreign Relations oleh American Jewish Committee (AJC) untuk memberi kuliah umum yang bertemakan: "Shifting the Geopolitical Calculus: From Conflict to Cooperation", yang diadakan di The David Amar Worldwide North Africa Jewish Heritage Center, Yerusalem, Israel.

Di dalam video yang diunggah di akun YouTube AJCGlobal (12/6/2018), Yahya Staquf menjelaskan kehadirannya sebagai pemberi kuliah umum di acara tersebut merupakan bentuk dari melanjutkan langkah mantan Presiden Abdurahman Wahid atau Gusdur.

"Ini kehormatan bagi kami, bagi NU, menjadi generasi yang meneruskan langkah yang telah dilakukan Presiden Abdurahman Wahid hingga kami bisa mengunjungi Yerusalem," ujarnya menjawab pertanyaan Rabbi David Rossen yang memandu kuliah umum

Yahya Staquf menjelaskan salah satu ide yang NU tawarkan sebagai solusi bagi konflik di dunia terutama konflik agama adalah Rahmah, atau kasih sayang dan kepedulian satu sama lain.

Menurutnya, orang yang tidak memiliki Rahmah dan kepedulian kepada orang lain, tidak akan bisa memberikan keadilan bagi orang lain.

"Kita harus memilih Rahmah, karena ini adalah awal dari semua hal baik yang kita selalu idamkan. Jika kita memilih Rahmah, baru kita bisa berbicara soal keadilan."

"Jika saya ingin berkata kepada dunia, saya akan serukan untuk memilih Rahmah," ujar Yahya yang langsung disambut tepuk tangan peserta kuliah terebut.

Menanggapi kehadiran Yahya Staquf tersebut, Fadli Zon mencuit cibirannya di akun Twitter-nya:

"Cuma ngomong begitu doang ke Israel. Ini mmemalukan bangsa Indonesia. Tak ada sensitivitas pada perjuangan Palestina. #2019GantiPresiden".

(Twitter)
(Twitter)
Cuitan itulah yang membuat Nuruzzaman tersinggung berat, lalu memutuskan keluar dari Gerindra.

"Bagi santri, penghinaan pada kiai adalah tentang harga diri dan marwah," katanya.

Memang, kritikan Fadli Zon itu sama sekali bukan murni kritikan demi kepentingan Palestina, ia hanya membonceng isu Palestina untuk mengedepankan kepentingan politik Gerindra sendiri, yaitu menggunakan kesempatan itu untuk lagi-lagi menyerang Presiden Jokowi.

Buktinya ia menyertai tagar #2019GantiPresiden pada cuitannya itu, dan juga menonjolkan jabatan Yahya Staquf sebagai anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Watimpres).

Meskipun sudah jelas kehadiran Yahya Staquf di Israel itu bukan dalam kapasitasnya sebagai anggota Watimpres (tidak mewakili Pemerintah RI), tetapi sebagai murid Gus Dur, Gus Dur  yang di masa hidupnya, 16 tahun yang lalu pernah menghadiri acara serupa, yaitu untuk membahas solusi konflik di dunia, terutama konflik antar umat beragama, Fadli tetap saja sengaja menonjolkan jabatan Yahya sebagai anggota Watimpres, tentu saja supaya ada alasan menyerang Jokowi lagi.

"Kunjungan Wantimpres Yahya Staquf ke Israel, selain mencederai reputasi politik luar Indonesia di mata internasional, juga melukai rakyat Palestina, ... " kata Fadli (Rabu, 13/6/.2018).

"Tak ada sensivitas pada perjuangan Palestina", cuit Fadli Zon.

Padahal dia sendiri mengidolakan Presiden Donald Trump yang sangat pro-Israel, bahkan yang memindahkan ibu kota AS dari Tel Aviv ke Yerusalem.

Beberapa tahun yang lalu ia bersama dengan Setya Novanto pernah menghadiri acara kampanye pilpres Donald Trump, dan memuji-muji Trump di akun Twitter-nya. Padahal saat itu sudah diketahui sikap Trump yang diskrimiantif terhadap Islam, dan sangat pro-Israel.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5