Dean J
Dean J lainnya

Not A Bad Singer

Selanjutnya

Tutup

Media Pilihan

Pembajakan Era Digital, Salah Siapa?

12 September 2018   01:15 Diperbarui: 12 September 2018   01:46 420 1 0

Pada akhirnya, Bioskop akan semakin sepi. Penyanyi akan kehilangan asa untuk kembali berkarya. Semua hanya karena satu hal pembajakan!

Bagaimana tidak, sebab pembajakan yang bertumbuh subur tidak hanya di Indonesia tapi hamper di seluruh dunia, pasti akan menjadi kerugian tersendiri bagi industry hiburan. Kalau di tahun 2000-an pembajakan berupa CD yang dijual lima ribu sampai sepuluh ribu per keping, kini pembajakan masuk ke ranah internet. Penikmat bajakan tidak perlu merogoh kocek terlalu dalam lagi untuk dapat menikmati karya favorit mereka.

Dalam beberapa kasus, pembajakan seolah mendapat pembenaran. Sebut saja, film -- film layar lebar yang gagal masuk kedalam pasar Indonesia. Entah karena film tersebut memang tidak dijual untuk Indonesia atau gagal lolos dari sensor film Indonesia. Hal ini membuat, terkadang bahkan film yang berhasil masuk ke Indonesia pun tak luput dari pembajakan. Ironisnya lagi, terkadang film -- film di situs bajakan justru lebih dulu menayangkan film -- film luar tersebut bila dibandingkan dengan Bioskop legal.

Beberapa situs resmi untuk menonton film atau serial pun kalah bila dibandingkan dengan situs -- situs nonton illegal ini. Kelebihan situs illegal adalah, mereka menawarkan karya -- karya tersebut dengan gratis! Hanya bermodal kouta internet untuk menyaksikannya. Berbeda dengan aplikasi atau situs resmi hiburan yang memberi waktu uji coba terbatas kemudian selanjutnya penikmatnya diwajibkan untuk membayar.

Beberapa tahun lalu, sekitaran 2015, film Indonesia masih luput dari aksi begal karya ini. Tapi, kini bahkan situs sekaliber youtube.com pun bisa menayangkannya.

Dunia musik tidak lebih baik, bahkan bisa dikatakan paling tragis dalam aksi tidak terpuji ini. Lagu -- lagu memang lebih mudah untuk dibajak, bahkan terkadang disadari atau tidak kita sendiri melakukan pembajakan terhadap lagu -- lagu kesayangan kita. Mungkin, seseorang yang membuka youtube.com untuk mendengar karya terbaru Agnezmo belum masuk istilah pembajakan. Tapi ketika orang itu mengunduh kemudian mengganti format video menjadi MP3, itu adalah sebuah pembajakan! Apakah akan disebarluaskan secara gratis atau berbayar, tetap saja AgnezMo akan ketiban rugi.

Yang lebih mengkhawatirkan, pembajakan terbuka pun sudah dilakukan setidaknya pada lagu -- lagu yang popular. Misal saja ketika Via Valen mengunggah lagu terbarunya dan membuat klip video dan memasukkannya kedalam dunia maya. Tangan -- tangan jahil para pemanjat social mengunduh ulang lagu tersebut, lalu mengunggahnya dalam versi lirik. Inipun sebuah pembajakan.

Para creator diam saja, bukan karena mereka senang karyanya dibajak. Mereka diam, hanya karena tidak punya kemampuan untuk meredam aksi yang merugikan dirinya tersebut.

Maka tidak aneh, jika beberapa penyanyi luar negri sebut saja Madonna, Adele, dan Beyonce jarang meluncurkan klip video dari lagunya. Terkadang mereka hanya mengunggah lirik video ke dunia maya, membiarkan para penikmatnya berimajinasi sendiri bagaimana bila music itu ditransformasikan ke visual.

Pembajakan versi lain yang mungkin sering kita lakukan. Adalah saat menyaksikan seorang penyanyi yang bernyanyi secara langsung dipanggung, lalu merekamnya lewat video kemudian disebarkan ke dunia maya. Inipun pembajakan!

Tapi banyak diantara kita, yang terkadang lupa akan hak -- hak para creator. Sehingga demi memuaskan nafsu sendiri kita melakukan semua sesuai apa yang kita mau tanpa berpikir jauh akibat kerugian yang akan dialami seniman kesayangan kita.

Tapi kemudian muncul pertanyaan, dengan pembajakan yang begitu bebas didunia maya. Siapa yang harus dipersalahkan?