Mohon tunggu...
Damanhuri Ahmad
Damanhuri Ahmad Mohon Tunggu... Penulis - Bekerja dan beramal

Ada sebuah kutipan yang terkenal dari Yus Arianto dalam bukunya yang berjudul Jurnalis Berkisah. “Jurnalis, bila melakukan pekerjaan dengan semestinya, memanglah penjaga gerbang kebenaran, moralitas, dan suara hati dunia,”. Kutipan tersebut benar-benar menggambarkan bagaimana seharusnya idealisme seorang jurnalis dalam mengamati dan mencatat. Lantas masih adakah seorang jurnalis dengan idealisme demikian?

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Punahnya Tradisi Hoyak Jambu ketika Panen Padi di Ulakan Tapakis

23 Juni 2022   22:13 Diperbarui: 23 Juni 2022   22:40 97 16 8
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
Sawah di kiri kanan jalan rabat beton di Kubang, Kabupaten Limapuluh Kota. (foto dok damanhuri)

Tekhnologi tak dipungkiri lagi telah mengalahkan segalanya. Beralihnya sebagian besar dunia pertanian ke serba mesin, di satu sisi menghemat tenaga manusia, dan di sisi yang lain juga menghilangkan budaya sosial kemasyaratan.

Di Ulakan Tapakis, Kabupaten Padang Pariaman yang terkenal dengan luasnya lahan pertanian sawah, merasakan dampak hilangnya budaya sosial kemasyarakatan itu.

Sejak beberapa tahun ini, di kampung itu hampir semua sawah petani dikerjakan dengan mesin. Mulai dari membajak sawah yang dulunya tenaga manusia dan kerbau, kini sudah berganti dengan "kerbau Jepang" alias mesin.

Dengan ini, masyarakat petani sawah sudah bisa tiga kali dalam setahun turun ke sawah. Apalagi ketika panen juga dikerjakan dengan mesin, bisa empat kali malah musim tanam dalam setahun. Luar biasa.

Secara berangsur-angsur, memang pertanian sawah ini akan berganti dengan tenaga mesin. Mesin penyabit padi yang mampu menyelesaikan ratusan hektar dalam sehari kerja. Sungguh, sebuah lompatan yang amat luar biasa sekali pertanian ini cepatnya.

Dulu, semuanya terkenal dengan kerja gotong royong. Di kampung itu tersebut dengan istilah "julo-julo", yang dikenal dengan tradisi "hoyak jambu" ketika musim panen padi.

Hoyak jambu ini, yang punya sawah cukup menyediakan makanan dan minuman, dan peralatan seadanya. Sawah yang luas akan sebentar selesai memanennya, karena sekampung orang ikut yang namanya hoyak jambu, ikut serta menyabit, mengangkut padi yang sudah disabit, lalu sebagian melambut atau meirit padi.

"Sejak lima tahun terakhir, tidak ada lagi yang namanya hoyak jambu. Semuanya main upah orang yang memakai mesin perontok padi," kata Ajo Pudih, seorang petani di Sikabu Ulakan.

Dunia hoyak jambu terasa asyik dan menyenangkan. Terbangun silaturrahmi antar masyarakat, dan terasa sekali rasa kebersamaan. "Kita tahu akan keadaan padi tetangga dan orang kampung semua," ulas dia.

Kini, kata dia, hanya punya kita saja yang tahu. Bagaimana keadaan orang keliling, kalau tak duduk di kedai kopi pagi, kita tidak akan tahu. Alias memikirkan nasib sendiri-sendiri lagi.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan