Diah Utami
Diah Utami karyawan swasta

Hanya seorang guru biasa yang suka menulis dan bercerita. Berharap bisa menebar ilmu tidak hanya di ruang kelas, tapi juga di ruang maya kompasiana. Semoga berkah terlimpah untuk kita, baik yang menulis maupun membaca.

Selanjutnya

Tutup

Wanita

Sekolah Pertama itu Bernama Ibu

4 Januari 2018   00:14 Diperbarui: 4 Januari 2018   05:09 1044 0 0

Kita bisa pintar menulis dan membaca, dari siapa?

Kita bisa tahu beraneka bidang ilmu, dari siapa?

Kita bisa pandai dibimbing pak guru

Kita bisa pintar dibimbing bu guru

Guru bak pelita penerang dalam gulita

Jasamu tiada tara

Masih terngiang lagu yang kerap diputar di televisi jaman dulu, mengingatkan kita pada jasa seorang guru. Tapi sejatinya, guru pertamaku (dan kuyakin juga gurumu), adalah seorang Ibu. Ibu yang melahirkanku, menyusui, menyapih dan mengasuhku. Segala ilmu yang kudapat, awalnya berasal dari Ibu. Tak akan habis dituliskan, ilmu yang diturunkan Ibu buatku. Kali ini ingin menyusunnya kembali, bukan sekedar untuk mengenang Ibu, tapi kembali mengingat jasanya, yang tak akan lekang digerus waktu. Tak dapat terbalas oleh bakti ananda sepertiku. Tulisan ini sebagai bentuk terima kasihku pada Ibu.

Hadiah terbesar dari Ibu adalah kehidupan itu sendiri. Tanpa Ibu, tak akan ada aku. Aku lahir sebagai anak bungsu dari 4 bersaudara yang semuanya perempuan. Mungkin pernah terbersit keinginan di hati bapak dan ibu untuk memiliki satuuu saja anak lanang dalam keluarga, tapi kuasa Allah, anak ke-4 ternyata perempuan lagi. Disyukuri. 

 Sebagai anak bungsu, guruku tak cuma Ibu. Bapak dan kakak-kakak juga tak kalah besar andilnya dalam mengajariku. Belajar bersikap santun di mana pun, tentu karena adab yang diajarkan dan diterapkan di rumah. Mulai dari hal-hal kecil dalam keseharian semacam makan sendiri tanpa bunyi, pakai baju dan sepatu sendiri. Belajar makan hingga butir terakhir, bukan karena nasi yang akan menangis, tapi justru belajar untuk mensyukuri setiap butir rezeki yang kita dapat dari Ilahi. Bukankah janji Allah, bahwa Dia akan menambah nikmat bagi orang yang menyukuri nikmat-Nya.

Dari rumah, aku belajar menulis dan membaca. Masuk SD tinggal melancarkan saja, tapi sejatinya aku sudah bisa. Itu karena Ibu, yang rajin mendongeng dan bercerita, hingga inin aku membaca lebih banyak lagi. Jika bisa membaca, aku tak perlu bergantung pada apa yang akan diceritakan Ibu. Setelah pandai membaca dan bersekolah, tentu ada masa-masa tes atau ujian. 

Setiap ujian tiba. Kami minum air bening yang didoakan. Bukan jampi-jampi harupat, hanya doa tulus seorang Ibu, dengan harapan agar semua urusan anaknya lancar dan berkah. Dalam hatiku, sebuah rasa menyelinap, bahwa Ibu peduli padaku. Tak hanya sekedar mengingatkan atau menyuruh untuk belajar, tapi juga turut serta dalam proses kesuksesan kami dengan mendoakan kebaikan bagi kami (Ibu jarang menemani kami belajar, karena dianggapnya kami sudah mandiri, atau mungkin karena Ibu memang sudah sibuk sendiri).

Di masa SMP, aku dan seorang kakak cukup sering diminta membantu Ibu. Menjelujur atau mengelim rok atau celemek sebagai paket seragam yang dibagikan di sekolah tempat Ibu mengajar. Dulu namanya SKKP (Sekolah Kejuruan Kepandaian Putri), tapi sekarang sudah beralih fungsi menjadi SMP. Aku tidak hanya belajar keterampilan menjahit, tapi juga sikap mentalnya, bahwa uang tidak akan datang begitu saja pada kita, melainkan didapat dengan upaya yang sepadan. harus diupayakan.

Selain diminta membantu Ibu menjahit, tak jarang aku pun diminta menemani Ibu ke pasar atau bahkan disuruh pergi ke warung membeli ini dan itu. Tampak sepele, tapi sebetulnya dari kegiatan sepele itu aku belajar banyak. Belajar mengenai berbagai karakter orang yang kutemui selama di perjalanan, di pasar, juga bagaimana mereka diperlakukan atau memperlakukan mereka. Aku belajar bersosialisasi, bernegosiasi, sekaligus silaturahmi. Bikin makin banyak rejeki. Alhamdulillah...

Hal lain yang juga tidak bisa diremehkan adalah pelatihan Ibu mengenai tugas-tugas rumah tangga. Urusan domestik bukan semata urusan Ibu atau pembantu rumah tangga yang kadang dipekerjakan di rumah. Bahkan saat ada pembantu rumah tangga pun kami tetap merapikan tempat tidur sendiri, mencuci (minimal) pakaian dalam kami sendiri. Tidak elok rasanya bila benda pribadi kami dicucikan juga oleh orang lain. Itu didikan Ibu. Selain menghargai orang lain, sebetulnya kami pun belajar menghargai diri kami sendiri. Saat tidak ada pembantu rumah tangga di rumah, Ibu membagi rata tugas pada kami, empat anak putrinya. Menyapu-mengepel, memasak, menyiapkan meja makan, mencuci piring, menyiram tanaman, dan sebagainya, kami lakukan secara bergantian. Belajar kerjasama dan saling berbagi tugas, jadi bekal bagi kami saat di dunia kerja terutama. Tentu tak senang rasanya saat ada anggota tim yang egois mau menang sendiri, menetapkan target dan tenggat semaunya tanpa peduli kapasitas dan kemampuan anggota tim yang lainnya. Kerja sama dalam tim itu, pembiasaannya dimulai dari rumah, di bawah bimbingan Ibu. Aku yakin itu.

Dengan 'paket' hadiah yang begitu berharga dari Ibu, dengan apa bisa kubalas jasanya? Sungguh tak akan pernah bisa. Jasamu tiada tara. Kalimat ini seharusnya ditujukan pada Ibu. Dengan semangat untuk membalas sedikiiit saja jasa Ibu untukku, kutuliskan sebuah lagu untuknya, dan untuk semua Ibu di dunia. Selamat menikmati...