Mohon tunggu...
Henry Vienayoko
Henry Vienayoko Mohon Tunggu...

Beyond Imagination | Digital and Aviation Enthusiast | Passionate in Customer Experience and Sustainable Development |

Selanjutnya

Tutup

Ekonomi

Sebuah Renungan Kemerdekaan 17.08 - 2015

17 Agustus 2015   21:36 Diperbarui: 17 Agustus 2015   21:49 36 0 1 Mohon Tunggu...

 

Hari ini, aku merayakan kemerdekaan bangsaku. sebuah kemerdekaan dari dominasi bangsa lain. sebuah kemerdekaan untuk melakukan hal hal yang kusukai. sebuah kemerdekaan untuk merayakannya secara bebas bersama teman temanku. sebuah kemerdekaan untuk membentangkan simbol - simbol negaraku, merah putih; Indonesia. Tujuh puluh tahun sudah kemerdekaan ini dikelola oleh sesama anak negeri, demikian banyak kucuran darah dan air mata untuk selalu bersama dalam bentuk negara republik Indonesia. Dari sebuah awal yang dihadirkan oleh sekelompok masyarakat terpelajar, mulai dari tahun 1908 hingga akhirnya mendeklarasikan dirinya menjadi sebuah negeri yang menggantikan penguasa sebelumnya. Dari yang bernama The Dutch East Indies atau Hindia Belanda, menjadi bernama Indonesia.

Bila aku menilik kembali sejarah Indonesia, bermula dari  Vereenigde Oostindische Compagnie (atau VOC) yang antara lain memiliki dan menguasai Jawa dan Maluku serta beberapa daerah lain semenjak abad ke-17. Setelah VOC dibubarkan pada tahun 1798, semua wilayah milik VOC menjadi milik pemerintah Belanda. Pada abad ke-19 hanya pulau Jawa yang secara keseluruhan milik Belanda. Lalu pada tahun-tahun selanjutnya semua daerah lain di Nusantara ditaklukkan atau “dipasifikasikan” (didamaikan). Atas dasar satu kepentingan yaitu perdagangan terutama dalam perdagangan rempah dan komoditas perkebunan lainnya, dalam abad ke-19 hingga awal abad ke-20. Sehingga penguasaan atas koloni ini turut menyumbang kepada semakin kuatnya pengaruh ekonomi global Belanda.

Belanda secara sistematis menghilangkan perbudakan, pembakaran janda, perburuan kepala, kanibalisme, pembajakan, dan peperangan. Orang Belanda membentuk kelas sosial istimewa yang terdiri atas tentara, administrator, manajer, guru, dan perintis. Mereka hidup terkait dengan subyek asli mereka, namun secara terpisah di bagian atas kasta rasial dan sosial yang kaku mereka mendirikan masyarakat Hindia. Sehingga tercipta tatan kasta rasial yaitu kaum Eropa, kaum Pribumi dan kaum Asia Timur (India, Pakistan, Arab). Kondisi ini hampir mirip bagaimana tatan rasial tanpa kita sadari terjadi pada masyarakat hari ini. Kaum expatriat, Kaum Pribumi dan Kaum Asia Timur (saat ini bertambah menjadi India, Pakistan, Arab, Cina, Korea, Jepang, dan Singapura).

Pada tahun 1901, Belanda menerapkan apa yang mereka sebut Kebijakan Etis, suatu kebijakan pemerintah kolonial yang memiliki tugas untuk memajukan kesejahteraan rakyat Indonesia di bidang kesehatan dan pendidikan. Kebijakan baru lainnya termasuk program irigasi, transmigrasi, komunikasi, mitigasi banjir, industrialisasi, dan perlindungan industri asli. Meskipun lebih progresif dari kebijakan sebelumnya, kebijakan kemanusiaan akhirnya tidak memadai. Sementara elit kecil dari Indonesia sekunder dan tersier berpendidikan dikembangkan, mayoritas rakyat Indonesia masih buta huruf. Sekolah Dasar didirikan dan resmi terbuka untuk semua, tetapi pada 1930, hanya 8% anak usia sekolah mendapat pendidikan.

Industrialisasi secara signifikan tidak mempengaruhi mayoritas penduduk Indonesia, dan Indonesia tetap menjadi koloni pertanian. Pada 1930, ada 17 kota dengan populasi lebih dari 50.000 dengan jumlah penduduk gabungan 1,87 juta. Namun, reformasi pendidikan, dan reformasi politik sederhana, menghasilkan elit kecil berpendidikan tinggi Indonesia asli, yang mempromosikan ide yang independen dan Indonesia bersatu yang akan menyatukan kelompok-kelompok adat yang berbeda dari Hindia Belanda. Sebuah periode disebut Kebangkitan Nasional Indonesia, paruh pertama abad ke-20 melihat gerakan nasionalis mengembangkan kuat, tetapi juga menghadapi penindasan Belanda.

Membaca catatan sejarah ini membuatku bertanya, apa arti sebuah kemerdekaan. Mengapa terjadi dominasi satu bangsa kepada bangsa lainnya ? Apakah pernah disadari dominasi tersebut sebenarnya ? Apakah negeri ini adalah satu bangsa ? atau bangsa bangsa atau etnik etnik yang diambil haknya untuk menentukan masa depannya sendiri ? Demikian banyaknya pertanyaan yang muncul, terasosiasi dengan kondisi masa kini. Demikian banyaknya korporasi dunia yang beroperasi di negeri ini, serta didukung penuh oleh administratur bangsanya masing masing. Memperkerjakan bangsa setempat dan memberikan sedikit hasil usahanya untuk masyarakat sekitar yang terkena dampak operasi usahanya. Sebagai bagian dari bungkus kegiatan corporate social responsibility nya. Dan dibungkus bahan marketing yang baik bernama sustainable development atau pembangunan berkelanjutan untuk kelangsungan usaha korporasi. Dapat dianalogikan sebagai layaknya Politik Etis yang berkembang di Eropa pada awal 1900 an.

Aku ingin memaknai kemerdekaan pada kesempatan yang ke 70 ini sebagai momentum untuk merayakan hasil karya dari tangan tangan anak negeri. Mendukungnya anak anak negeri ini untuk menghasilkan inovasi dan pengolah hasil bumi yang ada di negeri ini. Mengajak beragam pihak untuk berkolaborasi bersama bagi kemajuan bangsa bangsa yang ada di negeri ini yang bernama Indonesia. Tidak lagi hanya berupa simpul simpul simbolik yang berwarna. Dengan modal pendidikan, semangat inovasi dan usaha serta kekuatan akses pada pembiayaan akan mampu menjadikan bangsa ini berdiri di atas kakinya sendiri. Menjadikannya berkelanjutan. Menjadi merdeka, menjadi Indonesia.

INNOVATION NATION

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x