Cucum Suminar
Cucum Suminar Kompasianer

Belajar dari menulis dan membaca. Twitter: @cu2m_suminar

Selanjutnya

Tutup

Kesehatan Pilihan

Tolak Angin, Membantu Saya Melewati Malam Paling "Horor"

14 Agustus 2018   14:41 Diperbarui: 14 Agustus 2018   16:06 262 2 1
Tolak Angin, Membantu Saya Melewati Malam Paling "Horor"
Hal paling mengkhawatirkan bagi seorang ibu adalah saat anak sakit. | Dokumentasi Pribadi

Saya pernah melewati malam paling horor. Bukan, bukan, karena bertemu mahluk tak kasat mata, atau dikejar-kejar binatang yang paling ditakuti, tetapi karena anak saya tiba-tiba sakit. 

Tengah malam, buah hati saya yang saat itu baru genap berusia lima tahun, tiba-tiba terbangun dengan suhu badan mencapai 40 decel, sambil (maaf) memuntahkan semua yang ada di dalam perut.

Parahnya lagi, kala itu saya sedang berada di rumah nenek saya, di sebuah desa di Sukabumi, Jawa Barat, yang jangankan ada rumah sakit besar untuk berobat, Puskesmas saja tidak ada. 

Klinik terdekat berjarak beberapa belas kilometer, dengan waktu tempuh sekitar 60 menit karena jalan yang berlubang dan bergelombang. Itu pun pengelolanya bukan dokter, namun seorang mantri.

Suasana di sekitar rumah nenek saya yang masih hijau oleh sawah. | Dokumentasi Pribadi
Suasana di sekitar rumah nenek saya yang masih hijau oleh sawah. | Dokumentasi Pribadi
Mirisnya lagi, pergi ke klinik di atas pukul 24.00 WIB harus menggunakan apa. Angkutan umum di daerah nenek saya hanya beroperasi hingga pukul 18.00 WIB, sementara kami tidak memiliki kendaraan pribadi. 

Nenek saya yang sudah berusia 88 tahun dan tinggal sendirian, tidak memiliki sepeda motor, apalagi kendaraan roda empat. Saya pun berkunjung dengan menggunakan angkutan umum karena tinggal di luar pulau yang berbeda provinsi.

Malam itu saya benar-benar kalut. Khawatir. Terlebih suami tidak ikut. Akhirnya selama satu jam pertama saya dan nenek bahu-membahu mengompres dahi anak dengan air hangat, kemudian membaluri seluruh badannya dengan bawang merah dicampur minyak hangat yang sudah dihaluskan seadanya.

Jalan berlubang dan bergelombang membuat waktu tempuh lebih lama. | Dokumentasi Pribadi
Jalan berlubang dan bergelombang membuat waktu tempuh lebih lama. | Dokumentasi Pribadi
Beruntung, setelah beberapa menit dikompres dan dibaluri bawang, suhu badan anak saya sedikit menurun. Namun (maaf) aktivitas memuntahkan semua yang ada di dalam perut tidak juga berhenti. 

Saya sudah mengakalinya, setiap kali anak saya (maaf) muntah, saya jejali dengan air putih agar tidak dehidrasi. Namun saya sempat berpikir, sampai kapan hal itu dilakukan? Saya khawatir lambung anak saya nanti malah terganggu.

Nenek saya bilang, mau tidak mau harus beli obat. Tapi dimana dan obat apa. Daerah di sekitar rumah nenek saya tidak ada apotek. Ada satu minimarket jaringan yang menjual obat-obatan lumayan lengkap, namun bila sudah tengah malam begitu pasti sudah tutup. Kalaupun buka, jaraknya juga lumayan jauh. Bila saya harus berjalan kaki di tengah gelap, saya menyerah.

Menggedor Warung Tetangga

Melihat saya yang terus-menerus menangis, ditambah anak saya yang (maaf) tak henti memuntahkan seluruh isi perut, membuat nenek saya berinisiatif pergi ke rumah tetangga yang membuka warung. Beliau bilang, siapa tahu ada salah satu obat yang cocok untuk anak saya.

Pelajaran banget, jangan berenang dan beraktivitas sampai lupa waktu. | Dokumentasi Pribadi
Pelajaran banget, jangan berenang dan beraktivitas sampai lupa waktu. | Dokumentasi Pribadi
Setelah pergi selama beberapa menit, nenek saya kembali dengan membawa beberapa sachet Tolak Angin Anak. Beliau bilang, sudah mencoba untuk membeli obat penurun panas, namun tidak ada yang berbentuk sirup. Obat flu dan pilek untuk anak pun tidak ada, yang ada obat generik untuk orang dewasa yang berbentuk tablet.

Namun nenek saya bilang, ada tetangga yang memiliki kendaraan roda empat bersedia mengantar ke klinik bila diperlukan, bahkan tetangga tersebut bersedia mengantar ke rumah sakit yang jaraknya lebih jauh. Meski lumayan pelosok, ada satu-dua tetangga nenek saya yang memiliki kendaraan roda empat. Bahkan mobil-mobil yang mereka miliki tak kalah "mewah" dari orang kota.

Awalnya saya sempat "tergiur" untuk membawa anak saya ke rumah sakit. Namun saat melihat Tolak Angin Anak yang dibawa nenek, saya memilih menangguhkan keinginan tersebut. Saya bilang, akan mencoba mengobati anak saya dengan Tolak Angin terlebih dahulu.

Tolak Angin Anak si penyelamat. | Dokumentasi Pribadi
Tolak Angin Anak si penyelamat. | Dokumentasi Pribadi
Apalagi saya akhirnya "ngeh" penyebab anak saya panas dan (maaf) muntah-muntah sepertinya karena masuk angin. Sore hari menjelang magrib, saya dan anak melakukan perjalanan dengan menggunakan ojek selama hampir dua jam dari rumah salah satu kerabat ke rumah nenek saya.

Saat itu anak saya tidak menggunakan helm, maupun jaket, dan duduk di depan pengemudi ojek. Parahnya lagi, selama dua hari berturut-turut kami berenang hampir satu hari penuh. Merasa sedang liburan, merasa kapan lagi bisa berkumpul bersama kerabat, terlebih dengan anak-anak yang seusia dengan anak saya.

Anak saya sepertinya tidak terbiasa diporsir seperti itu. Apalagi kami tinggal di Batam, Kepulauan Riau. Sangat jarang menempuh perjalanan hingga berjam-jam, karena satu lokasi dengan lokasi yang lain begitu berdekatan, terlebih dengan menggunakan motor yang "mengundang" angin cukup kencang.

Agar liburan nyaman sebaiknya sedia Tolak Angin. | Dokumentasi Pribadi
Agar liburan nyaman sebaiknya sedia Tolak Angin. | Dokumentasi Pribadi
Setelah memaksa anak menelan satu-dua sendok bubur nasi yang dibuat seadanya, saya memberi Tolak Angin Anak. Namun, agar anak lebih mudah meminum obat herbal tersebut, saya mencampurkan satu sachet Tolak Angin Anak dengan setengah gelas air hangat. Sebenarnya bisa saja langsung dimasukan ke dalam mulut dari kemasan, namun kondisi anak saya sepertinya saat itu tidak memungkinkan. Ia harus minum sedikit demi sedikit.

Entah Tolak Angin Anak yang "cespleng", entah perpaduan doa, baluran bawang putih, dan gelontoran air mineral, ditambah beberapa suap bubur nasi, kondisi anak saya berangsur pulih. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2