Muhammad Zulfadli Tahir
Muhammad Zulfadli Tahir pegawai negeri

Dosen Fak. Ilmu Sosial UNM Makassar. Penggemar berat dunia olahraga.

Selanjutnya

Tutup

Bola Artikel Utama

Piala Dunia 1994, Escobar Hanya Berusaha namun Mafia yang Menentukan

10 Juni 2018   15:26 Diperbarui: 12 Juni 2018   20:12 2219 0 0
Piala Dunia 1994, Escobar Hanya Berusaha namun Mafia yang Menentukan
theguardian.co.uk

Dalam hitungan hari ke depanPiala Dunia 2018 di Rusia akan bergulir. Sebagai penggemar bola, inilah Piala Dunia ke-7 yang sanggup membuat saya dilanda euforia. Terserang demam sepak bola sepanjang sebulan penuh.

Segalanya bermula tahun 1994. Belum hilang memori 24 tahun lalu, ketika saya beranjak remaja 13 tahun. Di usia semuda itu saya sudah merasakan atmosfer hebat sekaliber pergelaran Piala Dunia.

Masa itu saya belum tahu negara seperti Brasil, Jerman, atau Italia yang merupakan raksasa sepak bola dengan tiga kali kampiun dunianya.

Sebaliknya, saya justru mengira negara Amerika Serikat (AS) selaku tuan rumah sebagai favorit juara. Yang juga hebat di pikiran saya adalah Argentina dengan mega bintang Diego Maradona, dan Belanda yang diperkuat trio andalan mereka.

Juara turnamen itu akhirnya berhasil diraih Brasil, setelah memenangkan final melawan Italia lewat drama adu penalti pertama sepanjang final Piala Dunia. Tentu kita ingat tragedi 'Si Kuncir Kuda' pada momen itu.

Saya pun masih ingat beberapa jam setelah Dunga dkk. mengangat trofi berlapis emas, saya dan teman-teman di SMP Negeri 6 Ujungpandang (Makasar) telah berbaris rapi mengikuti upacara bendera, bertepatan dengan hari pertama sekolah tahun ajaran baru 1994/1995. Saya remaja kelas II SMP ketika itu.

Hingga sekarang, setidaknya ada tiga momen yang paling membekas dari Piala Dunia 1994 silam itu.

Pertama, kisah Brasil yang berjuluk Samba atau Jogo Bonito, menjadi kampiun ke-4. Kedua, skandal doping "si boncel" Maradona di penghujung kariernya. Dan, ketiga, adalah tragedi gol bunuh diri bek Kolombia, Andreas Escobar, saat bertanding melawan tuan rumah, AS --yang berujung kematian dirinya akibat diberondong selusin peluru oleh bandit kartel narkoba di sebuah klab malam di Kolombia.

Saya memilih pembantaian Escobar yang paling mencengangkan dari ketiga momen di atas. Kejahatan itu sangat mengguncang batin kita semua.

Ketika pertama kali mendapat berita buruk tersebut di sela-sela pertandingan lanjutan Piala Dunia, saya tertegun seakan tak percaya, bahwa satu kesalahan atau blunder yang mengakibatkan kekalahan dalam permainan, harus diganjar dengan nyawa.

Sepak bola berduka dan seluruh dunia mengutuk perbuatan biadab tersebut.

Favorit Juara

Sejatinya, Kolombia datang ke AS dengan kepercayaan diri sebagai favorit juara, bahkan seorang Pele meyakini bahwa Kolombia paling tidak melaju ke babak empat besar.

Pelatih mereka, Francisco Maturana, membawa pemain era terbaik seperti Carlos Valderrama, Freddy Rincon, Alexis Garca, dan Faustino Asprilla. Termasuk Andreas Escobar --yang konon seusuai Piala Dunia Escobar bakal berkostum AC Milan, tim terbaik Eropa kala itu.

Sama seperti sebelumnya, Piala Dunia kerap menghasilkan kejutan. Kolumbia langsung tumbang 1-3 oleh Rumania di pertandingan perdana.

Diberitakan, banyak petaruh rugi besar dan murka melihat timnas Kolombia melempem. Toh kans Kolombia melenggang masih terbuka karena masih menyisakan dua laga, asalkan tidak kalah di pertandingan kedua melawan tuan rumah. Kolombia tetap dijagokan.

Namun pertandingan yang berlangsung di Rose Bowl, Pasadena, LA, inilah, akan selalu dikenang sebagai pertandingan sepak bola yang mengerikan jika dikaitkan bagi kemanusiaan dan kehidupan pesepakbolanya.

Di babak pertama menit 34, Escobar berupaya menghalau serangan umpan tarik pemain AS, John Harkes, ke area penalti dari sisi kanan pertahanan Kolombia dengan aksi membuang badan. Mencoba memotong bola yang menyusur.

Nahas, bola tersebut membentur ujung sepatunya kemudian bergulir ke gawang Oscar Cordoba yang telah mati langkah.

Sesaat Escobar terbaring telentang dengan tangan menutup mukanya tak menyangka. Skor menjadi 0-1, lalu 0-2, dan akhirnya 1-2.

Hingga pada akhirnya, Kolombia dipastikan angkat koper lebih awal, meski meyisakan satu pertandingan melawan Swiss.

Skuat Kolombia gugur lebih awal dari perkiraan semua pihak, dan Escobar pun pulang kampung yang terus tertekan. Dia bersumpah tak akan menonton turnamen bergengsi itu di televisi. Sampai pada akhirnya Escobar pergi mencari hiburan di klab malam di Kota Medelin. Kemudian ia pun dilaporkan mabuk menengak minuman alkiohol. 

Setelah pesta usai, di luar di tempat parkir, telah menunggunya empat anggota mafia yang telah menunggunya.

Sempat diawali perdebatan, akhirnya 12 peluru menyobek-nyobek tubuh Escobar. Sebuah ambulans dipanggil, tapi sudah terlambat.

Kurang dari 30 menit kemudian, Andrs Escobar dinyatakan meninggal. Ironisnya, ia tewas saat Piala Dunia masih berlangsung.

Pelaku utama bernama Humberto Munoz Castro, sindikat kartel narkotik yang kalah besar dan menganggap Escobar lah yang harus bertanggun jawab. Munoz dihukum 43 tahun.

Sungguh kasihan nasib Escobar, dia merupakan korban dari "kekerasan tidak masuk akal" yang melanda negara tersebut.

"Kesalahan" Andres Escobar akan selalu dibicarakan. Kematiannya sungguh tragis dan mengerikan.

Escobar menyusul dua orang terkenal: Frontman grup musik Nirvana, Kurt Cobain yang mati bunuh diri, dan pebalap legendaris F-1 Ayrton Senna yang tewas mengenaskan di sirkuit Imola, Italia.

Nama Escobar, Cobain, dan Senna, abadi dalam kesakralan dibalik kematiannya, di tahun 1994.

Salam sepak bola.