Mohon tunggu...
Kris Fallo
Kris Fallo Mohon Tunggu... Mahasiswa Sekolah Tinggi Pastoral Santo Petrus Kefamenanu TTU Jurusan Pendidikan Agama Katholik

Menulis itu pekerjaan keabadian. Pramoedya Ananta Toer berkata:  'Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah.' Lewat tulisan kita meninggalkan kisah dan cerita yang tak akan sirna.

Selanjutnya

Tutup

Gayahidup Pilihan

Menyepi untuk Bercermin Diri

12 Maret 2021   13:59 Diperbarui: 12 Maret 2021   14:27 185 14 1 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Menyepi untuk Bercermin Diri
Gambar.tirto.id/Umat Hindu Bali

Umat Hindu Bali akan merayakan Hari Raya Nyepi pada Minggu 14 Maret 2021. Karena itu, sebelum terlambat saya mau mengucapkan Selamat Hari Raya Nyepi 2021 bagi umat Hindu yang merayakan, semoga diberikan semangat baru dan diberikan berkat berlimpah.

Bagai saya Hari Raya Nyepi menjadi moment berharga bagi umat Hindu untuk menyepi melihat ke dalam diri, menemukan kekuatan,  harapan baru, kembali berjuang mempertahankan hidup.

Saya memang bukan seorang Hindu, tetapi soal menyepi, menarik diri sejenak dari kesibukan dunia, sudah sering saya aplikasikan dalam hidup. Ada saat dimana kita perlu menarik diri dari kesibukan, mengambil jarak dari rutinitas kita untuk pemulihan diri.

Hari Raya Nyepi, sepih dan tenang tidak hanya menjadi saat berahmat bagi umat Hindu, tetapi juga menjadi berahmat bagi semua manusia. Kaum Hindu menjadi contoh bagi kita tentang bagaimana seharusnya menjadikan hening sebagai saat dimana kita menemukan kedamaian dan ketenangan bathin.

Saya membaca literatur retang Hari Raya Nyepi bahwa, sebelum Hari Raya Nyepi terdapat beberapa rangkaian upacara yang dilakukan umat Hindu, khususnya di daerah Bali, termasuk empat larangan pada perayaan Nyepi yakni, amati karya (tidak bekerja), amati lelungan (tidak bepergian), amati lelanguan (tidak bersenang-senang), dan amati geni (tidak menyalakan api). Untuk amati lelungan, Pitana mengatakan bahwa umat Hindu harus berada di dalam rumah dan tidak boleh keluar dari pekarangan rumah. (Wikipediaorg.com)

Tujuan utama Hari Raya Nyepi adalah memohon ke hadapan Tuhan Yang Maha Esa, untuk menyucikan Bhuana Alit (alam manusia/microcosmos) dan Bhuana Agung/ macrocosmos (alam semesta).

Dari semuanya ini, saya berkesimpulan bahwa semua hari besar keagamaan memiliki makna yang mendalam dan baik untuk kehidupan manusia. Efek positifnya bukan hanya pada agama yang bersangkutan retapi juga untuk semua manusia.

Misalnya Hari Raya Nyepi, umat Hindu menjadikannya sebagai moment untuk mencari kedamaian dan ketenangan bathin, atau Hari Raya Paskah, bagi umat Kristiani, yang dimknai sebagai hari raya korban dan cinta Tuhan bagi manusia dengan konsekwensinya adalah manusia harus saling mengasihi dan mencintai.

Relevansinya dengan Hidup Masa kini

Tujuan akhir dari Nyepi adalah kedamaian dan ketenangan bathin. Dalam konteks kita saat ini, kita menemukan bahwa kedamaian seakan telah di rampas oleh segelintir orang yang mementingkan diri sendiri dan golongannya.

Ada aksi dan narasi saling menyerang, saling menyudutkan satu sama lain. Kita juga mengadapi pandemi yang berdampak pada ekonomi, banyak karyawan dirumahkan, ada juga perebutan kekuasaan dan macam-macam pukulan yang dihadapi bangsa dan negara kita.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x