Mohon tunggu...
Kosasih Ali Abu Bakar
Kosasih Ali Abu Bakar Mohon Tunggu... Dosen - Analis Kebijakan Ahli Madya, Pusat Penguatan Karakter

Baca, Tulis, Travelling, Nongkrong, Thinking

Selanjutnya

Tutup

Cerita Pemilih Pilihan

Memilih yang Terbaik dari Baik

10 Februari 2024   13:12 Diperbarui: 10 Februari 2024   15:36 105
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Cerita Pemilih. Sumber ilustrasi: KOMPAS.com/GARRY LOTULUNG

Masyarakat Indonesia saat ini populasi terbanyaknya adalah lulusan SD-SMA, hampir 77%. Untuk lulusan SD dan SMP itu hampir 47%. Kemudian untuk generasi milineal 66,8 juta, generasi X 57,49 juta, generasi Z 46,8 juta, dab baby boomer 28,13 juta. Didominasi oleh generasi Z dan milenial. Generasi Z yang mendominasi itu terdiri dari mereka yang pemilih pemula di bangku SMA dan kuliah. 

Kemudian, bila melihat data kemiskinan, masih terdapat 28 juta orang miskin dengan 61,6 juta orang yang rentan miskin. Serta sekitar 114,7 juta menuju kelas menengah, menyusul 53,6 juta yang sudah ada di level tersebut. Sedangkan yang berada di level atas baru 3,1 juta orang. Dari data tersebut ada 90 juta orang yang harus diberikan perhatian dan support dan 114,7 juta orang yang harus dijaga. 

Ketika memilih, maka sudah barang tentu ada pertimbangan yang didasarkan kecocokan antara pemilih dengan yang dipilih. Kecocokan itulah "kunci".

Memilih "Pemimpin", berbeda dengan memilih "Barang" atau "Jasa" lainnya. Ada  chemistry disitu. Chemistry adalah koneksi yang kuat antara dua orang yang membuat mereka saling tertarik dan merasa nyaman satu sama lain. Ketika chemistry itu terbangun maka akan sulit menggantikannya.

Hal yang menarik, ketertarikan dan kenyamanan itu tidak terlepas dari latar belakang pemilih dan yang akan dipilih. Bila dalam pilpres atau pileg maka didasari kepada 3 hal saja secara mudahnya, yaitu profil, ideologi, dan program atau kebijakan. Profil dan ideologi itu adalah investasi, sedangkan program itu bisa investasi bagi yang melanjutkan dan hal baru bila itu perubahan. 

Sebentar lagi akan masuk masa tenang, saat dimana para pemilih yang belum mendapatkan pilihannya akan menginternalisasi semua informasi yang dia dapat, membangun chemistry.

Secara rasional, Prabowo sudah lama membangun chemistry antara dia dengan pemiliknya, baik profil maupun ideologinya. Sedangkan Gibran, walaupun baru, tapi ia merepresentasikan Jokowi yang selama 10 tahun berkuasa di Indonesia, lebih mempresentasikan kepada profil dan program yang sudah dilakukan. 

Hal yang sama dengan Anies, dia telah membangun dan merepresentasikan secara jelas profil,  ideologi, dan programnya, perubahan. Untuk menutupi kelemahannya, menggandeng Cak Imin, secara profil, ideologi dan program.

Sedangkan Ganjar, pada dasarnya ia punya profil dan ideologi yang jelas, tapi banyak yang melihatnya di bawah bayang-bayang Ibu Megawati. Untuk program sendiri, ia seharusnya bagian dari "investasi" atau pendukung pemerintahan sekarang akan tetapi juga mengkritik pemerintah sekarang, ini membuat chemistry-nya agak berkurang karena di lapangan antara "investasi" dan "perubahan" sudah jelas. Hal yang sama dengan Mahfud, terang benderang profil dan programnya, tapi kembali bayang-bayang ketidakyakinan akqn profil ketokohan pengusung, tidak pure sosok Mahfud MD sendiri yang dilihat pemilih di depan.

Kelompok perubahan selalu mengedepankan isu oligarki menjadi isu utama. Oligarki adalah ketika kekuasan ada di kelompok seseorang, walaupun politik saat ini penguasaannya ada pada partai politik pemenang. Ketika ada oligarki di tingkat partai politik dan oligarki di tingkat pemerintahan menjadi perhatian utama. Akan tetapi isu ini tidak menjadi masalah ketika dihadapkan kepada program yang selama ini atau kesejahteraan publik. Kemudian masalah profil, sebenarnya masalah profil ini tidak lagi menjadi isu utama ketika masyarakat melihat hampir semua profil itu mempunyai kekurangan. Sehingga masalah etika kemudian menjadi kurang efektif, terlebih lagi ketika menyasar kepada profil seseorang. Hal yang sama dengan ideologi, semakin tipis juga, karena ideologi nasionalis dan agamis sudah ada di masing-masing pilihan paslon yang ada saat ini.

Suara Tuhan, semoga Tuhan akan memberikan pemimpin yang terbaik tuk bangsa ini. Bangsa ini membutuhkan pimpinan pemersatu, peduli dengan masyarakat yang mau turun langsung ke bawah, dan tidak hipokrit. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Cerita Pemilih Selengkapnya
Lihat Cerita Pemilih Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun