Mohon tunggu...
Kosasih Ali Abu Bakar
Kosasih Ali Abu Bakar Mohon Tunggu... Dosen - Analis Kebijakan Ahli Madya, Pusat Penguatan Karakter

Baca, Tulis, Travelling, Nongkrong, Thinking

Selanjutnya

Tutup

Inovasi Pilihan

Guru dan Dunia Virtual

26 November 2022   15:15 Diperbarui: 26 November 2022   15:17 107
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Inovasi. Sumber ilustrasi: PEXELS/Jcomp

Pendidikan yang berkualitas di pundak guru berkualitas. Tanpa guru berkualitas maka pembelajaran mutunya akan berkurang.

Arti dari Guru,  digugu dan ditiru, artinya perkataan seorang guru harus bisa dipercaya dan segala tingkah lakunya harus bisa ditiru. Tentunya, hal ini bukan sesuatu yang mudah.

Perkembangan teknologi telah menyebabkan guru bisa menjadikan dirinya sumber belajar yang kekal, fleksibel untuk diakses kapanpun dan dimanapun. Guru bisa membuat video pembelajarannya sendiri.

Peserta didik juga dianggap sudah generasi milineal atau Z, bahkan alpha, mereka dianggap sudah terbiasa dengan gadget. Akan tetapi, sepertinya pembelajaran jarak jauh di masa pandemi ini menyadarkan kita bahwa perlu ada perlakuan dan pembangunan skill baru ketika belajar jarak jauh dengan menggunakan internet atau dunia virtual.

Penelitian saya yang sudah dipublikasikan dalam beberapa jurnal nasional dan internasional yang berkaitan dengan cloud education telah mengkonfirmasikan beberapa hal, antara lain penggunaan teknologi dalam pembelajaran sesungguhnya berpotensi untuk mengejar ketertinggalan antara negara berkembang dengan negara maju dalam penguasaan ilmu pengetahuan.

Akan tetapi, perlu ada pembangunan soft skill di sana selain peran pemerintah menjadi amat penting. Karena dunia virtual itu butuh kontrol, pihak yang paling berkompeten melakukannya adalah pemerintah dengan segala sumber dayanya.

Dalam hasil survey saya juga memperlihatkan jika bahwa guru pada umumnya sudah terbiasa dalam penggunaan gadget dan akses ke internet, tapi minim menggunakan internet dalam pembelajaran. Bahkan ada kesan, beberapa menghindari internet sebagai sumber belajar atau memfasilitasi pembelajaran. Dengan berbagai alasan, seperti ketakutan akan konten negatif dan ketidaksiapan anak serta hal negatif lainnya.

Hal yang perlu disadari dunia virtual sama dengan dunia nyata, bahkan dunia virtual itu sesungguhnya jejak digitalnya bisa dilihat dengan jelas. Akan tetapi ada perbedaan karakter antara dunia nyata dengan dunia virtual, sehingga dibutuhkan soft skill yang agak berbeda metodenya.

Sehingga bisa disimpulkan bahwa guru dan siswa perlu diberikan keterampilan soft skill untuk pembelajaran pada dunia virtual ini. Keterampilan ini juga perlu memperhatikan perkembangan teknologi dunia virtual seperti virtual reality dan augmented reality yang kelak akan dikenal dengan metaverse.

Ini tidak mudah, bila hanya menggunakan saja akan mudah, akan tetapi keterampilan soft skill seperti bernalar kritis, etika di dunia virtual, security digital, dan lainnya menjadi amat penting. Kemudian tahapan selanjutnya adalah kemampuan untuk menggunakan potensi pada dunia virtual secara optimal sesuai dengan kebutuhan juga menjadi amat penting.

Ke depan, dengan dikomandoi oleh pemerintah gerakan literasi digital bisa segera dilakukan. Utamanya untuk guru dan peserta didik dan khususnya terkait dengan soft skill.

Selamat Hari Guru.

Mohon tunggu...

Lihat Konten Inovasi Selengkapnya
Lihat Inovasi Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun