Ignasia Kijm
Ignasia Kijm wiraswasta

Senang mempelajari banyak hal. Hobi membaca. Saat ini sedang mengasah kemampuan menulis dan berbisnis.

Selanjutnya

Tutup

Bisnis Artikel Utama

Upaya Pemerintah Gaungkan Produk UKM di Ajang Asian Games 2018

23 Agustus 2018   06:13 Diperbarui: 3 September 2018   22:32 1429 4 2
Upaya Pemerintah Gaungkan Produk UKM di Ajang Asian Games 2018
Sejumlah produk merchandise Asian Games 2018. Gambar diambil pada Rabu (30/5/2018).(KOMPAS.com/AMBARANIE NADIA)

Kita ketahui bersama bahwa tahun 2018 merupakan momen kedua Indonesia dipercaya menjadi tuan rumah penyelenggaraan Asian Games. Pada 1962 untuk pertama kalinya Indonesia menjadi tuan rumah Asian Games. Ajang ini bukan sebuah peristiwa olahraga semata, juga menjadi kesempatan UKM mendapat manfaat dari penyelenggaraan Asian Games 2018 guna menuju Indonesia maju.

Pada 15 Agustus 2018 lalu Kementerian Koperasi dan UKM menyelenggarakan diskusi dengan tema "UKM Menangkap Peluang Asian Games 2018". Diskusi tersebut menghadirkan 3 pembicara, yakni Direktur Utama LLP-KUKM Emilia Suhaimi, Direktur Merchandise INASGOC Mochtar Sarman, dan Business Development and Sales Officer Du'Anyam Juan Firmansyah. Asian Games diyakini memberikan peluang bagi UKM dalam memasarkan produk kepada kurang lebih 15 ribu kontingen dari sekitar 45 negara.

(kiri ke kanan) Moderator, Direktur Merchandise INASGOC Mochtar Sarman, Direktur Utama LLP-KUKM Emilia Suhaimi, dan Business Development&Sales Officer Du'Anyam Juan Firmansyah. (foto dokumentasi pribadi)
(kiri ke kanan) Moderator, Direktur Merchandise INASGOC Mochtar Sarman, Direktur Utama LLP-KUKM Emilia Suhaimi, dan Business Development&Sales Officer Du'Anyam Juan Firmansyah. (foto dokumentasi pribadi)
Mochtar memaparkan, tercatat 23 perusahaan pemegang lisensi merchandise Asian Games. Tujuh di antaranya merupakan UKM. Varietas produk yang ditawarkan, antara lain pakaian, sepatu, pernak-pernik, boneka, hingga makanan dan minuman. 

Salah satu perusahaan tersebut adalah Du'Anyam yang menghadirkan suvenir anyaman yang unik dengan kualitas bagus dan harga terjangkau. "Kami melihat kualitas, desain, harga jual dan jaringan distribusi perusahaan pemasok merchandise. Banyak perusahaan besar tapi kualitas produknya kurang baik," ujar Mochtar.

Mochtar menilai kualitas produk harus mendapat perhatian. Pasalnya Asian Games merupakan kesempatan perusahaan lokal untuk showcase dan memasarkan produknya ke luar negeri. Banyak perusahaan yang mengajukan kerja sama menjadi pemegang lisensi merchandise Asian Games. 

Untuk itu INASGOC atau Indonesia Asian Games 2018 Organizing Committee sebagai panitia pelaksana melakukan kurasi secara selektif. "Kriteria UKM yang ingin menjadi partner Asian Games adalah kemauan belajar karena banyak sekali peraturan internasional yang harus diikuti," ujar Mochtar.

INASGOC memberikan banyak masukan kepada perusahaan pemegang lisensi, misalnya tren. Produk dipastikan cocok dengan milenial. Tak hanya itu, INASGOC memberikan usulan saat produk didesain. Dengan demikian merchandise Asian Games 2018 tidak kalah dengan merchandise host negara lainnya. 

Pasalnya Asian Games merupakan salah satu event terbesar kedua setelah Olimpiade. Selain itu menjadikan Indonesia lebih baik di event internasional lainnya. Apalagi pada 2022 mendatang Indonesia ditunjuk menjadi co-host pertandingan basket internasional bersama Tokyo dan Manila.

Merchandise Asian Games 2018 yang dikurasi secara selektif. (foto dokumentasi pribadi)
Merchandise Asian Games 2018 yang dikurasi secara selektif. (foto dokumentasi pribadi)
Mochtar memandang Asian Games merupakan kesempatan UKM untuk naik kelas. Standar lokal ditingkatkan mengikuti standar internasional. Selain perusahaan lokal, ada perusahaan dari luar Indonesia seperti Hongkong dan Malaysia. Pasalnya Asian Games adalah event internasional. Ada pula beberapa perusahaan lokal yang memproduksi barangnya di China karena tidak bisa diproduksi di dalam negeri.

Pembuatan merchandise Asian Games tidak menggunakan dana pemerintah. INASGOC hanya memberikan rights atau license kepada perusahaan yang memproduksi merchandise Asian Games. "Perusahaan tersebut mendanai sendiri produksinya. Kami menerapkan revenue sharing. Dari hasil penjualan, ada persentase yang harus dishare ke INASGOC," ujar Mochtar.

Perlu diketahui bahwa INASGOC mengikuti standar yang telah ditetapkan Olympic Council of Asia. Oleh karena itu INASGOC berhubungan dengan perusahaan yang siap dengan sistem tersebut. Sayangnya banyak perusahaan yang belum bisa mengikuti sistem tersebut. 

INASGOC melakukan kontrol melalui hologram di semua produk. Tujuannya mencatat volume produk yang terjual yang selanjutnya dicocokkan dengan laporan dari perusahaan pemegang lisensi. "Ada beberapa merchandise yang tidak memungkinkan untuk ditempel hologram, contohnya makanan apalagi volumenya jutaan. Kalau minuman kaleng masuk ke chiller, hologram itu akan lepas," ujar Mochtar.

Tim INASGOC melakukan persiapan sejak awal tahun lalu, seperti buku panduan desain dan sistem. Merchandise Asian Games sendiri telah dirilis pada countdown Asian Games 2018 pada 18 Agustus 2017. Ada 20 pop up store di hampir semua mal di Jakarta, bandara, hingga Stasiun Gambir. INASGOC juga bekerja sama dengan Alfamart, department store seperti Sarinah dan Sogo, serta instansi pemerintah seperti Smesco Indonesia. Tersedia jalur pembelian online di www.asiangames2018.id untuk mereka yang tinggal di daerah.

INASGOC berharap atlet, official, dan fans dapat membeli merchandise Asian Games termasuk turis lokal dan mancanegara. Jika mereka ingin membeli produk di luar merchandise Asian Games bisa datang ke Smesco Indonesia. 

Presiden Joko Widodo menginstruksikan merchandise dijual dengan harga terjangkau. Mochtar memberi gambaran harga merchandise yang berkisar Rp 15 ribu sampai Rp 5 juta. Harga tersebut terbilang terjangkau dibandingkan harga merchandise Asian Games di negara lain. Mochtar berterima kasih kepada para partner yang bersedia menekan harga. "Smesco Indonesia sendiri menghadirkan produk UKM yang lengkap dan berkualitas baik. Sudah sepantasnya kita menggiring kontingen melihat produk Indonesia," kata Mochtar.

Destinasi wisata belanja
Emilia mensyukuri usaha yang dilakukan Menteri Koperasi dan UKM Puspayoga yang menjadikan Smesco Indonesia sebagai salah satu destinasi wisata belanja selain Grand Indonesia (GI), Plaza Senayan (PS), dan Senayan City. Kekhususan Smesco Indonesia sebagai destinasi wisata belanja adalah kelengkapan dan keterwakilan produk unggulan dari seluruh wilayah Indonesia tanpa harus mengunjungi langsung provinsi masing-masing, kental dengan nuansa budaya Indonesia dalam display paviliun provinsi.

Smesco menawarkan produk lokal yang terkurasi dan berkualitas baik, serta memberdayakan dan mensejahterakan perajin. "Smesco Indonesia berpihak pada ekonomi rakyat. Harga produk pun sama dengan harga yang ditetapkan perajin, tidak ada profit sharing. Kami membantu UKM dalam pemasaran produk," ujar Emilia.

Smesco Indonesia telah berkoordinasi dengan Pemda DKI Jakarta, Dinas Pariwisata, dan Transjakarta. Transjakarta menyediakan 6 bus tingkat dan 4 bus reguler looping dengan rute Wisma Atlet-Smesco Indonesia-GI-PS-Senayan City-Monas-Wisma Atlet.

Semula kunjungan ke Smesco Indonesia hanya dilakukan selama 2 hari dengan 4 trip. Satu trip membawa 400 kontingen. Namun diubah menjadi 15 hari. Oleh karena itu Smesco Indonesia melakukan promosi dan publikasi melalui flyers, booklet, baliho, videotron, e-flyer, dan media sosial seperti Facebook dan Instagram.

Setiap bus dilengkapi tour guide yang berasal dari Abang None Jakarta dan liaison officer. Penyambutan dilakukan sejak tamu turun dari bus. Tamu akan didamping tour leader dan mendapat welcome drink berupa bir pletok. Kesempatan tersebut dimanfaatkan untuk memperkenalkan minuman asli Betawi. Selanjutnya tamu akan diperkenalkan dan dijelaskan mengenai produk unggulan dari setiap provinsi, seperti kopi Gayo dan tas bordir dari Aceh, ulos dari Sumatera Utara, rendang dari Sumatera Barat, hingga songket dari Palembang. 

Pihak Smesco Indonesia juga menyediakan ruang tunggu khusus untuk tamu yang menunggu penjemputan serta demo batik dan lukis payung. "Kami juga menyediakan photo booth dengan mengenakan aneka aksesoris khas daerah, misalnya udeng dari Bali, keris, atau pedang," kata Emilia.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2