Marlistya Citraningrum
Marlistya Citraningrum Pekerja Millennial

Biasa disapa Citra. Bekerja di bidang energi berkelanjutan dan keadilan iklim. Di waktu luangnya, Citra adalah Editor-in-Chief di Indonesia Mengglobal. Semua foto yang digunakan adalah koleksi pribadi, kecuali bila disebutkan sumbernya. Percayalah, Citra tak seserius tulisannya. Kontak: m.citraningrum@gmail.com.

Selanjutnya

Tutup

Wanita highlight headline

Menjadi Perempuan Pintar

13 Agustus 2017   15:53 Diperbarui: 15 Agustus 2017   07:36 2621 8 6
Menjadi Perempuan Pintar
Dokumentasi pribadi

Sembilan tahun lalu (hah baru berasa tuanya wkwkwk), ketika saya memutuskan untuk melanjutkan studi ke luar negeri dan mengejar gelar S3; ujaran dan "concern" (yang entah tulus atau tidak) mengenai kodrat dan peran perempuan hingga soal jodoh itu sudah ada. Bedanya saat itu dunia internet masih relatif normal, WhatsApp belum ada, sehingga memesoal perempuan kesulitan jodoh karena berpendidikan tinggi hingga debat soal perempuan yang sekolah tinggi dan akhi-akhi cupet serta balasan untuk tante "sukses" juga belum beredar.

Sejak perempuan mulai mendapatkan kesempatan untuk belajar lebih tinggi, lebih jauh, hingga mempunyai karir yang sebelumnya tak terbayangkan, perdebatan mengenai hal-hal yang berhubungan dengan gender sudah ada, dan akan selalu ada. Begitulah yang namanya perubahan, akan muncul banyak diskusi, diskursus mengenai apa perbedaan dulu dan sekarang, mana yang "harus" mana yang "baiknya". Dalam lingkup budaya kita, diskursus mengenai perempuan yang sekolah tinggi hampir selalu dibarengi dengan pembahasan budaya ketimuran, agama, sampai soal jodoh.

Apa pendapat saya?

Debat membuat kita melupakan satu hal yang esensial: cause

Lupakan soal "laki-laki nggak mau sama perempuan pintar yang (katanya) makin pintar makin susah diatur" dan "perempuan pintar nggak mau sama lelaki yang dikit-dikit insyekur". Perdebatan ini mengalihkan kita dari hal yang penting dan mendasar: apa tujuan para perempuan ini bersekolah hingga tinggi? Saya lihat banyak dari mereka yang memang percaya akan sesuatu, they believe in a cause and want to work on that cause.

Apa yang bahasa Indonesia yang tepat untuk cause? Sebut saja tujuan. Saya percaya jarang sekali para perempuan yang jika ditanya apa alasannya melanjutkan kuliah S2 dan S3, jawabannya adalah iseng (saya pernah menjawab begitu, mwihihihi). Mereka melakukannya karena mereka punya tujuan, dan tujuan itu yang menjadi motivasi mereka memulai perjalanan panjang belajar bahasa Inggris/bahasa negara tujuan, menulis esai, menulis laporan, melakukan penelitian. It is a long journey, and often, a painful one. Dan untuk apa mereka mau bersusah-susah? Because they believe in something.

Ada yang ingin mendidik generasi muda bangsa ini dengan menjadi dosen. Ada yang ingin berkontribusi lebih pada pembangunan bangsa dengan menjadi ahli di bidangnya. Ada pula yang ingin mendapatkan ilmu lebih luas untuk mendidik anak-anaknya. Yang sangat personal pun banyak: ingin merasakan sekolah tinggi karena berasal dari keluarga kurang mampu dan sekolah bagaikan mimpi, ingin selanjutnya berkarir dengan pendapatan lebih baik sehingga dapat menghidupi keluarga, ingin berguru pada seorang ahli dan maestro di bidangnya.

Mereka yang tak lelah belajar selalu mengagumkan di mata saya. Selain perlu komitmen dan konsistensi, mereka juga selalu punya cerita mengenai perjalanan terjal yang mereka ambil. Di mata saya, kontribusi yang diberikan oleh para perempuan bersekolah tinggi ini pada perkembangan dirinya, keluarganya, dan masyarakat di sekitarnya adalah fokus yang lebih menarik untuk dibahas. Lebih hangat di hati mendengarkan cerita tentang mereka yang berkarya dengan memmberikan dampak yang positif dan luas untuk orang-orang di sekitar mereka.

Rasanya tak ada orang yang bercita-cita menjadi sombong dan arogan

Benar atau benar? Hahaha. Saya pikir tak ada orang yang ingin menjadi orang yang kerjanya merendahkan orang lain. Bahwasanya kemudian ada anggapan bahwa perempuan yang bersekolah tinggi akan menjadi perempuan yang tidak mau diatur, sombong, dan arogan ini bagi saya perlu dipertanyakan kesahihan dan metode penelitiannya (halaaaaah). Anggapan adalah mengenai opticsatau "citra yang terlihat" (maaf saya agak henghong menerjemahkan ini), dan karenanya, bersifat subjektif sesuai dengan penerimaan siapa yang melihatnya.

Bahwa pendidikan akan mempengaruhi pola pikir, ya. Karena terpapar pada hal-hal baru, lebih luas, lebih mendalam, lebih banyak variasinya; pendidikan memang membukakan mata. Itu bagi mereka yang bisa meresapinya. Keberanian dan kepercayaan diri juga meningkat dengan lebih banyak pengetahuan yang kita miliki. Apakah dua hal ini yang kemudian diasosiasikan dengan sombong dan arogan? Mungkin. Apakah kebiasaan untuk mempertanyakan banyak hal yang sering menjadi basis pembelajaran dan penelitian yang kemudian diasosiasikan dengan "sulit diatur"? Bisa jadi.

(Tentu dalam kehidupan nyata memang ada mereka-mereka yang suka merendahkan orang lain yang dianggap tak sederajat tingkat pendidikannya ya).

Saya juga adalah tipe orang yang banyak bertanya, lebih karena ketidaktahuan atau ketidakyakinan akan sesuatu, bukan karena tak mau diatur atau ngetes orang (nggak kok, nggak sering wkwkwkwk). Kebiasaan ini muncul karena dalam model pendidikan tinggi (S1 ke atas), kita diharapkan (dan dibiasakan) untuk kritis. Kalau kata profesor pembimbing saya dulu, "melakukan penelitian nggak boleh baper, apa yang kamu kerjakan sekarang bisa saja dibuktikan berbeda di masa yang akan datang." Maka mempertanyakan sesuatu dalam kerangka kritis sangatlah penting. Buruknya, kebiasaan ini bisa menjadi opticsyang nggak enak: dianggap nggak mau diatur.

Lalu menurut saya anggapan "sombong dan arogan ini" juga sedikit banyak berhubungan dengan ketidakamanan alias insyekyuritas. Ketika kita merasa insyekyur, otak kita akan menerjemahkan perlakuan orang lain yang tak sesuai bayangan kita sebagai "ancaman". Atasan saya saat ini adalah seseorang yang tak hanya pintar dan cerdas, juga punya pengalaman panjang dan mumpuni di bidangnya. 

Setiap kali berdiskusi dengannya, saya harus belajar jauh-jauh hari untuk mengimbangi ujaran dan pendapatnya (insyekyur, cyin). Tentu nggak jarang beliau mementahkan pendapat saya atau menambahkan hal-hal yang terlupa, yang bisa jadi menyakitkan kalau tidak terbiasa dengan caranya. Tapi apakah saya menganggap beliau arogan? No.Karena faktanya beliau tahu lebih banyak daripada saya, mental yang saya bangun adalah mental ingin tahu dan ingin meningkatkan kemampuan.

Prove versus improve

Dalam dunia yang penuh hal-hal superfisial ini, bersekolah tinggi juga memiliki aspek pembuktian. Bagi perempuan yang banyak dikelilingi dengan anggapan ini itu mengenai bersekolah tinggi, keinginan untuk membuktikan sesuatu biasanya muncul. Ada yang ingin membuktikan bahwa perempuan juga bisa menjadi ahli di bidang-bidang maskulin seperti teknik dan sains, ada yang ingin membuktikan bahwa berasal dari desa tak serta merta membuat mereka kurang bisa bersaing dengan yang lahir di kota, ada pula yang ingin membuktikan bahwa mereka yang bersekolah tinggi bisa lho menjalani peran-peran yang beragam, baik di lingkup karir mau pun rumah tangga.

Bagi saya, prove seyogyanya disandingkan dengan improve. Kedua hal ini sifatnya personal, dengan prove kita bisa melihat seberapa jauh kita berjalan, dengan improve kita bisa merefleksikan makna perjalanan dan pembuktian itu. Apakah dengan bersekolah tinggi kita menjadi manusia yang lebih bijaksana? Apakah dengan bersekolah tinggi kita memiliki wawasan yang lebih terbuka? Apakah dengan bersekolah tinggi kita mampu memiliki kompetensi yang lebih baik dibanding beberapa tahun lalu? Pasangan prove dan improve inilah yang sepertinya dapat menjauhkan kita dari (secara tidak sadar menjadi) sombong dan arogan dan sifat-sifat kurang baik lainnya.

Setiap zaman dan orang memiliki standar "normal" yang berbeda

Tiga dekade lalu, lulus Sekolah Pendidikan Guru (SPG) sudah cukup bagi mereka yang ingin menjadi guru. SPG adalah sekolah setara SMA. Kini, menjadi guru memerlukan kompetensi lebih yang didapatkan dengan belajar lebih tinggi: S1 hingga S3. Ibu saya yang lulusan SPG pun kemudian kuliah lagi, menimba ilmu baru, meng-upgradeketerampilan menyesuaikan perkembangan zaman (dan dilakukannya tanpa membuat keluarga terbengkalai!). Maka kita tak bisa menutup mata bahwa tiap zaman memiliki tantangan dan standar "normal" yang berbeda. 

Bersekolah tinggi kini makin menjadi tren, seiring dengan kemudahan melihat dunia dan juga pertanda bahwa kepandaian kita bergerak maju, nggak jalan di tempat. Yang tetap menjadi pegangan dan tak berubah sejak dulu adalah soal mengupayakan diri menjadi pintar dan berwawasan (lepas dari pendidikan formal dan gender). Kini medianya menjadi beragam dan kesempatan pun banyak tersedia.

Secara personal, standar "normal" juga berbeda-beda untuk masing-masing orang. Ada yang punya jiwa pembelajar namun enggan bersekolah formal, lalu normal bagi mereka adalah banyak belajar mandiri dan mencari mentor. Ada pula yang "normalnya" adalah sekolah di luar negeri sampai tamat S3, karena begitulah budaya keluarga dan apa yang ingin dicapainya. Nggak ada yang salah. Mau berprestasi sampai sejauh apa juga itu wajar aja, siapa tahu memang itu standar ybs.

Apa yang saya tuliskan di sini sebenarnya genderless,berlaku untuk lelaki, perempuan, bahkan gender X. Kita sering melupakan hal-hal yang mendasar karena lebih asyik terjebak dalam perdebatan, apalagi dengan medium yang makin mendukung tanpa harus bertatap muka. Are we willing to see beyond the person and try to understand them from a different perspective?

Ternyata saya bisa membahas perempuan bersekolah tinggi tanpa menyinggung jodoh ya. Mwihihihi.


Salam hangat,

Citra