Mohon tunggu...
Cintya Eka Sari
Cintya Eka Sari Mohon Tunggu... Mahasiswa

Mahasiswa Politeknik Pembangunan Pertanian Yogyakarta-Magelang

Selanjutnya

Tutup

Ekonomi

Regenerasi Petani dalam Mewujudkan Lumbung Pangan Dunia 2045

22 Mei 2019   17:10 Diperbarui: 22 Mei 2019   17:32 0 1 1 Mohon Tunggu...

Lumbung pangan dunia merupakan salah satu cita-cita bangsa Indonesia pada tahun 2045. Secara leksikal, lumbung pangan terdiri dari dua kata yaitu lumbung dan pangan. Lumbung merupakan tempat menyimpan hasil pertanian(umumnya padi) berbentuk rumah panggung dan berdinding anyaman bambu sedangkan pangan memiliki arti makanan.Indonesia sebagai lumbung pangan dunia dimaksudkan bahwa selain mampu memenuhi kebutuhan pangan bangsa sendiri juga digadang-gadang dapat memenuhi kebutuhan pangan di kancah dunia.

Berbagai upaya telah dilakukan pemerintah guna mewujudkan Indonesia menuju lumbung pangan dunia 2045. Pemerintah menargetkan swasembada padi, jagung, bawang merah, bawang putih, cabai, kedelai, daging sapi, gula konsumsi, dan gula industri. Hal ini ditunjukan melalui data produksi beberapa kebutuhan pangan secara nasional seperti padi dan jagung yang mengalami peningkatan dari tahun ke tahun, sebagai contoh angka produksi padi di Indonesia pada tahun 2014, 2015,2016, dan 2017 secara berturut-turut yaitu 70.846.465 ton, 75.397.841 ton, 79.354.767 ton, dan 81.148.594 ton.

Program pemerintah menuju lumbung pangan dunia 2045 tidak hanya menjadi tanggungjawab pemerintah melalui kementerian pertanian. Cita-cita yang besar ini menjadi tanggungjawab bersama baik masyarakat, swasta, maupun insitusi pemerintah yang lain.Keadaan Sumber Daya Alam (SDA) dan Sumber Daya Manusia (SDM) merupakan faktor penting dalam mewujudkan cita-cita bangsa Indonesia tersebut. Mengingat kekayaan SDA yang dimiliki Indonesia  sejalan dengan meningkatnya jumlah populasi manusia maka dibutuhkan kompetensi SDM yang dapat mengelola jumlah SDA yang terbatas.

Petani merupakan pelaku utama yang paling berperan dalam memproduksi berbagai bahan pangan untuk memenuhi hajat manusia. Berdasarkan data statistik dari BPS tahun 2017, di Indonesia penduduk berumur lima belas tahun ke atas yang menjadi pekerja lepas di pertanian Indonesia berjumlah 5.848.256 jiwa dari 121.022.423 jiwa atau 4,83 % dari seluruh jumlah keseluruhan. Fenomena ini memunculkan pandangan bahwa sektor pertanian bukanlah sektor yang menarik perhatian kaum muda. Profesi sebagai petani hingga saat ini masih dipandang tidak pestisius oleh millennials. 

Tantangan yang akan dihadapi petani adalah faktor usia petani yang akan semakin menua diiringi dengan minimnya regenerasi. Menurut prespektif psikologi, regenerasi merupakan kunci keberlanjutan (Rasmikayati, 2017). Regenerasi petani merupakan hal yang perlu diupayakanguna mengantisipasi dampak kekurangan tenaga kerja sektor pertanian di masa mendatang.Adapun salah satu upaya pemerintah melalui kementerian pertanian untuk memacu alih generasi muda di dunia pertanian berupa penggalakan penerapan mekanisasi pertanian yaitu penggunaan alat dan mesin pertanian dalam setiap rantai produksi.

Pertanian merupakan bidang yang memiliki peluang besar bagi generasi muda. Pertama, mengingat bahwabahwa kebutuhan akan produk pertanian akan terus meningkat. Kedua, tingkat pendidikan generasi muda yang lebih tinggi daripada generasi terdahulu memungkinkan lebih mudahnya tingkatadopsi informasi bidang pertanian. Dua alasan tersebut seharusnya bisa dijadikan referensi dasar bagi generasi muda untuk berbangga diri terjun dalam sektor pertanian.Kaum muda harus menyadari dan mengambil sikap nyata untuk menjadikan Indonesia sebagai lumbung pangan dunia pada tahun 2045 agar tidak hanyadelusi semata.