Christie Damayanti
Christie Damayanti karyawan swasta

Just a stroke survivor & cancer survivor, architect, 'urban and city planner', author, traveller, motivator, philatelist, also as Jesus's belonging. http://christiesuharto.com http://www.youtube.com/christievalentino http://charity.christiesuharto.com

Selanjutnya

Tutup

Media Pilihan

'Taping' Talk Show bersama Jaya Suprana di Kompas TV

7 April 2014   19:49 Diperbarui: 23 Juni 2015   23:57 291 3 0

By Christie Damayanti 'Ruang Tamu' pak Jaya Suprana dengan Grand Piano hitam kesayangan beliau, yang selalu membuka talk show ini.

Semua mengalir seperti air .....

Mengalir, mengalir dan terus mengalir .....

Ketika semuanya sesuai dengan rencana NYA, dan kita tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi, berserah dan percayalah, bahwa yang terbaik akan diberikan oleh NYA, sesuai dengan rancangannya .....

*** 2 minggu lalu, 4 media massa menghubungiku untuk sekedar wawancara dan diskusi dengan aku. Aku tetap terpana, selalu saja terpana jika media2 itu terus meminta aku untuk bersaksi tentang apapun. Baik lewat inbox,  email, atau twitter apalagi langsung telpon padahal aku tidak pernah mempublikasikan nomor telponku, sejak 3 tahun lalu setelah aku aktif di dunia menulis di Kompasiana. Atau media2 itu ingin bertanya2 tentang apa yang ada di pikiranku tentang sebuah konsep.

Eh, memang siapa aku? Memang aku 'expert' tentang sesuatu? Memang aku orang terkenal, sampai2 mereka terus memburuku untuk wawancara, bahkan beberapa media lebih dari 1x mewawancaraiku? Siapa sih aku? Aku hanya seorang perempuan biasa, yang 'cacat' karena stroke - "I'm just ordinary disabled woman coz of stroke" - bukan?

4 media itu adalah Tabloid Wanita Indonesia, Koran Jawa Post yang berpusat di Surabaya, Majalah Rohani Bahana yang berpusat di Yogyakarta dan Kompas TV. Semuanya sudah 2x ini memintaku berdiskusi dan wawancara, bahkan Kompas TV sudah menghubungiku yang ke-4x nya. Aku pernah diminta bicara pada talkshow 'Kompas Pagi' di November dan Desember tahun 2013  lalu talkshow pada program 'Kata Kita' akhir tahun 2013 kemarin.

Misalnya, di Tabloid Wanita Indonesia :

Lembar pertama aku di Tabloid Wanita Indonesia tahun 2011 dan tahun 2014 ini.

Lihat tulisanku :

Kompas TV : Kompas Pagi dan Kata Kita yang Membawa Inspirasi Bagi Banyak Orang

Lihat di www.youtube.com/christievalentino

Sombong? Lebay? Entahlah. Aku sih sebodo amat, ketika banyak orang mengatakan aku sombong dan pamer, bahkan lebay. Memangnya dengan keaktifanku mengganggu orang banyak? Aku tidak mengganggu mereka, toh juga bukan aku yang mrminta mereka untuk 'mengorbitkan' aku, tetapi justru mereka lah yang memintaku untuk terus bersaksi!

Untukku sendiri, wawancara demi wawancara di banyak media cetak, radio bahkan televisi merupakan cara Tuhan untuk penyembuhanku ( healing ) dan kegiatan ini juga sebagai alat yang Tuhan berikan padaku untuk bersaksi di masyarakat. Aku tidak mencari, tidak meminta untuk diwawancarai, tettapi Tuhan mengirimkan mereka untuk aku terus bersaksi, bersaksi dan terus bersaksi .....

Seperti air yang terus mengalir, mengalir dan terus mengalir, sesuai jalan yang Tuhan berikan untuk terus mengalir ......

3 media adalah media cetak. Mereka datang ke kantoku untuk wawancara dan foto. Yang menarik adalah Kompas TV yang akan mengangkatku di sebuah takshow bersama pak Jaya Suprana. Seorang enterpreuner hebat, yang memegang konsep MURI sejak awal tahun 1990-an.

Bapak Jaya Suprana adalah salah satu favoriteku dalam bermain piano. Beberapa CD beliau sudah banyak terjual. Mengetengahkan konsep bermain piano secara melankoli, sesuai dengan tema bermain pianoku. Lagu2nya berkisah dalam lagu2 cinta dan tradisional Indonesia. Permainan pianonya sungguh dasyat, bisa membuat ( paling tidak ) aku terpana dan tersentuh mendengarkan alunan tangannya seperti melodi2 indah yang terus melayang di setiap hati yang mendengarkannya .....

Bahkan aku sempat membayangkan, seuatu hari nanti aku dapat bermain 'duet' lewat masing2 piano kesayangan untuk mengalunkan lagu2 melankoli yang bisa membius hati mereka yang mendengarkannya ......

Hari itu, Kompas TV menjemputku untuk aku dibawa ke studio rekaman milik pak Jaya Suprana, di salah satu mall terkenal di Kelapa Gading. Aku ditemani oleh Michelle, anakku sepulangnya sekolah. Program talk show dengan Jaya Suprana ini akan mengetengahkan aku, seorang insan pasca stroke ( IPS ) sebagai motivator, dan Habibie, seorang tuna daksa yang bukan hanya seorang motivator saja tetapi juga bisa berbuat banyak bagi teman2nya yang disabled untuk berbuat sepertinya sebagai 'internet marketing' yang menghasilkan ribuan dollar hanya dari jari2 tangannya .....

Lihat tulisanku :

Cacat? Disabilitas? Mimpi Kita Sama, koq!

'Mereka' pun Berbaur Bersama Masyarak Luas, Termasuk Pejabat Swasta dan Kementerian

Sekitar jam 15.00 sore itu, acara taping dimulai. Aku dengan Habibie dan ibunya ( Bu Endang Setyati ) duduk di 'ruang tamu' dengan Grand Piano hitam kesayangan pak Jaya Suprana. Beliau selalu membuka acara ini dengan alunan musik cantik lewat jari jemarinya di atau tuts2 pianonya.

Pembukaan diawali dengan wawancara pada Habibie dan aku setelah 15 menit kemudian. Diantar anakku dari bawah panggung, aku duduk di sebelah Ibu Endang. Dan pak Jaya Suprana terus mencecar kami dengan pertanyaan2 yang untukku 'lain dari pada yang lain'. Ya, wawancara dengan pak Jaya Suprana benar2 berbeda, tidak seperti wawancara di tempat yang lain.

Habibie dan ibunya yang luar biasa dan pak Jaya Suprana yang terus mencecar kami dengan pertanyaan2 yang lain dari yang lain .....

Jika wawancara di tempat lain, aku benar2 bersaksi sebagai insan pasca stroke yang sebenarnya di vonis dokter hanya bisa berbaring saja 4 tahun yang lalu, tetapi pak Jaya Suprana membelokannya dan ditilik dalam sudut pandang yang lain. Sehingga jika karena sudah 3 tahun sering bersaksi lewat banyak media, tetapi dengan pak Jaya Suprana, membuat aku tersadar dan berpikir dari sudut pandang yang lain.

Tetapi karena ini adalah benar2 kesaksianku, bukan rekasaya, membuat aku tetap lancar menjawab pertanyaan2 pak Jaya Suprana. Keterbukaanku membuat aku beanr2 berani menjawab semuanya, bahkan semua dari lubuk hatiku yang terdalam. Mengenai hubunganku dengan keluarga, teman2 dan lingkungan, bahkan sebuah hubungan yang hakiki, kesaksianku dengan Tuhan, tidak pernah ditanyakan oleh banyak orang.

Dan pak Jaya Suprana sangat jeli untuk membimbingku dalam pernyataan2 terbuka mengenai ke-luarbiasaan Tuhan yang sedang merenda hidupku ......

Lebih dari 1 jam kami berdiskusi dengan suasana yang nyaman dan kekeluargaan. Enak. Aku tidak tahu apakah diskusi ini akan ditayangkan keseluruhannya, tetapi 1,5 jam mungkin akan terlalu lama bagi penonton. Tetapi, sungguh pak Jaya Suprana mampu membuat ( paling tidak ) aku mempunyai referensi baru sebagai motivator untuk aku jiuga bisa melanjutkan referensi ini bagi masyarakat ......

Dari jam 15.00, kegiatan taping itu selesai sekitar jam 17.00 kurang. Setelah itu kami sedikit mengobrol, karena kadang2 baru terpikir untuk bertanya atau lebih detail untuk menjawab. Setelah itu, seperti biasa adalah saling berfoto, bertukar kartu nama dengan crew dari tim pak Jaya Suprana.

Mba Ayla, Direktur 'School of Performing Art' dan 'Museum Rekor Indonesia' milik Jaya Suprana, sangat ramah dan 'merangkul' kami dalam sebuah keluarga. Kami diberikan banyak buku yang ditulis sendiri oleh pak jaya Suprana serta banyak CD yang menampilkan performance beliau dalam permainan pianonya.

Dari kiri : Bu Endang Setyati, Habibie, pak Jaya Suprana, aku dan mba Ayla

Setelah itu, aku dan Michelle serta Habibie dan ibu nya dan timnya, makan bersama. Kami diantar lagi oleh Kompas TV, pulang ke rumah sekutar jam 19.00. Dan sungguh, sore itu merupakan pengalaman baru, ketika pak Jaya Suprana 'membawa' hati kami dalam sebuah talk show yang berbeda untuk sebuah hubungan yang hakiki pada Tuhan .....

Ini memang masing taping dan recording. Sekarang masih dalam tahap editing. Segera akan tayang dan semoga event kegiatan ini bisa menjadi berkat bagi banyak orang, khususya yang mengalami yang sama dalam kehodupan 'disabled' .....

Salamku .....

Profil | Tulisan Lainnya