Christie Damayanti
Christie Damayanti karyawan swasta

Just a stroke survivor & cancer survivor, architect, 'urban and city planner', author, traveller, motivator, philatelist, also as Jesus's belonging. http://christiesuharto.com http://www.youtube.com/christievalentino http://charity.christiesuharto.com

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

"Jalan Tikus" Ryogoku di Sisi Stasiun

14 Februari 2018   15:23 Diperbarui: 14 Februari 2018   15:30 232 0 0
"Jalan Tikus" Ryogoku di Sisi Stasiun
Dokumen pribadi

"Jalan tikus" di sisi stasiun, memanfaatkan kolong jembatan kereta di stasiun Ryogoku, toko2 kecil dan kuliner sebagai fasilitas pemukiman lingkungan stasiun

Dari sekolah Michelle di Meisei School, kami mau kembali ke stasiun Ryogoku lewat jalan belakang, untuk survey, apa yang menarik lewat jalan belakang, bukan hanya memoong waktu perjalanan saja. Da dari stasiun, barulah aku dan Michelle ingin berjalan2 keliling Ryogoku. Mau ke Edo Museum, mau ke prasastin para samurai Jepang dan mau ke Yokoamicho Park, mencari dedaunan orange, sisa2 musin gugur di Jepang.

Seperti diberbagai tempat, jalan belakang (karena belum tentu benar2 berjalan lewat belakang,, lho) bisa disebut "jalan tikus". Keluar dari stasiun Ryogoku, bukan keluar dari pintu utama stasiun tetapi keluar dari pintu samping stasiun. Lalu menyusuri jalan2 kecil lingkungan, yang dipenuhi oleh toko2 kecil, minimart dan kuliner, baik resto maupun caf dan "warung".

Hmmm ..... memang sangat menarik, termasuk juga untuk anak itu. Mereka bisa sambil beli makanan2 dan berjalan ke sekolahnya, dan benar2 memotong waktu perjalanan.

Menyusuri jalan kecil ini justru aku lebih membuka mata lebar2, untuk bisa menelisik apa yang terjadi. Toko2 murah 100 Yen, bertebaran. Biasanya menjual alat2 tulis dan peralatan rumah tangga, tetapi kualitas Jepang lho!. Anak2 teman2 Michelle sering berbelanja disana.

Dokumen pribadi
Dokumen pribadi

Dokumen pribadi
Dokumen pribadi

Walaupun "jalan tikus", pedestrian disana pun tetap mumpuni, sebagai standard universal desain, termasuk untuk kaum disabilitas. Dan walaupun tidak ada jalur kuning sebagai tanda disabilitas netra, mereka mampu berjalan tanpa jalur kuning itu, karena kenyamanan media nya.

***

Lalu ada resto, atau tepatnya "warung" Matsuya yang buka 24 jam, favorite anak2 dan sebagian besar warga Jepang, krena harganya yang murah dan enak. Belum lagi beberapa took entertainmanet games dan manga, favorite anak2 juga. Membuat jalan kecil ini selalu ramai dikunjungi warga local.

Warung2 dan resto2 makanan local yang buka 24 jam/Dokumen pribadi
Warung2 dan resto2 makanan local yang buka 24 jam/Dokumen pribadi

Ditambah lagi, fasilitas2 yang nyaman ini, memang merupakan bagian dari fasilitas untuk pemukiman warga local, berbagai bentuk. Apartemen mungkin, townhouse, dan rumah2 tungga atau cluster. Jika kita memasuki salah satu gang disana, yang diapit oleh ruko2, akan terlihat bangunan2 mungil sebagai tempat tinggal mereka.

Walau tempatnya sangat mungil, termasuk resto atau caf apalagi warung mereka, jangan Tanya harga sewa dan belinya! Kupikir mulanya, mengapa Michelle tidak di berikan apartemen di Ryogoku ini saja, sekalian bertempat tinggal dekat dengan sekolahnya. Ternyata yang terjadi adalah, agen dari Jakarta bilang bahwa apartemen mungil disana (mungkin hanya berdimensi 15 m2 saja) disewakan antara 15 juta sampai 20 juta per-bulan! Astaga .....

Puluhan bangunan apartemen mungil, yang harga sewanya sangat mahal, serta fasilitas2 lingkungan yang ditawarkan/Dokumen pribadi
Puluhan bangunan apartemen mungil, yang harga sewanya sangat mahal, serta fasilitas2 lingkungan yang ditawarkan/Dokumen pribadi

Jika apartemen di Funabashi Hoten tempat Michelle bermukim disewa dengan harga sekitar 7 juta per-bulan dengan dimenasi 1,5 kalinya dari yang di Ryogoku ini, pun sudah aku anggap mahal. Apalagi jika dibandingkan dengan apartemen Dennis di Binus Square tempat dia kuliah, dengan dimensi sekitar hamper 30 m2 yang disewa hanya 2,7 juta per-bulan. Jadi, memang Funabashi Hoten memang adalah tempat yang Tuhan berikan untuk Michelee, adalah yang terbaik .....

 ***

Lingkungan di "jalan tikus" itu semakin membuat aku menikmatinya. Apalagi ketika aku melewat sebaris panjang jalan di belakang bangunan besar. Hanya dinding tebal dan tinggi, tetapi dimanfaatkan menjadi tempat penyewaan parkir sepeda.

Dindingnya dilukis graffiti (graffiti juga merupakan detail street aritektur), dan dilator depankan sebagai parkir sepeda yang disewakan. Dan karena pedestrian itu tidak selebar di kota Ryogoku, pemerintah daerah pun tidak mau semata2 membolehkan sebagai parker sepeda. Karena jika full dipakan oleh parker sepeda, alamat pedestrian nya benar2 tidak berfungsi sebagai tempat pejalan kaki.

Dokumen pribadi
Dokumen pribadi

Dokumen pribadi
Dokumen pribadi

Dinding tebal dan tinggi dari sebuah pagar bangunan besar, dimanfaatkan dengan desain graffiti, yang melatarbelakangi penyewaan parker sepeda. Walaupun sebagian adalah untuk parker sepeda, tetapi tidak semata2 pejalan kaki menjadi "korban".

Lihat foto diatas, lebar pedestrian nya maih mampu menampung pejalan kaki, bahkan juga mampu menampung kaum disabilitas pemakai kursi roda, seperti aku .....

***

Lalu bagaimana akal mereka?

Akhirnya, mereka (entah ini parker sepeda dari pemerintah kota atau dari swasta) mendesain parker sepeda dengan cara "mendirikan" sepeda nya, sehingga hanya 1/3 bagian roda sepeda saja yang berdiri di atas pedestrian! Dan sepeda mereka harus dikunci, supaya tidak mundur/jatuh .....

Dokumen pribadi
Dokumen pribadi

Dibagian yang pedestrian yang kecil/sempit, sepeda2 itu diparkir dengan menanjak, membuat lebar pedestrian tetap nyaman untuk pejalan kaki. Grafiti menghiasi latar belakang parker sepeda/Dokumen pribadi
Dibagian yang pedestrian yang kecil/sempit, sepeda2 itu diparkir dengan menanjak, membuat lebar pedestrian tetap nyaman untuk pejalan kaki. Grafiti menghiasi latar belakang parker sepeda/Dokumen pribadi

***

Ya ..... mengapa harus ada parkir sepeda disini? Karena daerah ini dekat dengan stasiun. Dimana yang sudah aku sering tuliskan bahwa, stasiun di Japang merupakan pusat keramaian. Dan pemerintah Jepang memang mendesain insfrastruktur transportasi Jepang dengan sangat komprehensif! Bukan hanya kereta saja, tetapi selalu ada parker sepeda (itu yang terutama), parkir taxi bahkan stasiun bus, yang memang tidak benar2 bersebelahan dengan stasiun kereta, tetapi ada di 1 atau 2 blok dari stasiun kereta.

Pertama kali aku melihat konsep parker sepeda di Ryogoku ini, membuat aku terbengong2. Agak lucu dan aneh. Awalnya pun,mataku tidak "melihat" ini adalah sepeda, karena penampakannya, tetapi lama2 menjadi jelas bahwa ini adalah sepeda! 

Hihihi ..... otakku saja yang error, ya?

Posisi parkir sepeda ini, pas bersebelahan dengan kursi roda ajaibku, yang nyaman melaju diatas trotoar. Bahwa trotoar atau pedestrian ini, sama sekali tidak terganggu, ketika sebagian (kecil) dipakai sebagai tempat penyewaan sepeda. Dan dengan harga sewa yang relative murah antara 100 Yen sampai 150 Yen per-hari, pemilik sepeda tidak perlu pusing2 untuk memarkirkan sepedanya, walau siap sepedanya kebasahan jika hujan .....

Dokumen pribadi
Dokumen pribadi

Walaupun "jalan tikus", coba lihat kebersihan dan kenyamannya ...../Dokumen pribadi
Walaupun "jalan tikus", coba lihat kebersihan dan kenyamannya ...../Dokumen pribadi

Karena Meisei School adalah sekolah Bahasa Jepang, tentu murid2ya adalah anak2 dan remaja yang ingin belajar berbahasa Jepang, entah untuk tujuan apa. Sebagian besar adalah untuk sekolah lanjutan atau kuliah di Jepang, dan sebagian lagi mereka yang sudah lulus kuliah di Negara nya dan ingin beerja di Jepang.

Dan memang demikian itulah adanya. Mereka adalah anak2 remaja dan pemuda2 Asia, termasuk Indonesia, yang tidak berbahasa Jepang. Ada yang dari Indonesia, China, Bhutan, Malaysia, Brunei, Vietnam dan Filipina. Sehingga, di "jalan tikus" ini lah yang menajdi favorite mereka.

Mereka tertawa sambil berteriak2 jika selesai sekolah, menuju ke stasiun, untuk pulang ke apartemen mereka masing2, atau untuk bekerja. Dan keceriaan mereka sungguh menjadi sebuah 'fenomena' di lingkungan ini. Mereka selalu berbaris rapi, sambil ketawa ketiwi. Jika ada yang ingin membeli sesuatu, mereka menunggu di depan toko. Lalu berjala lagi, sampai ke stasiun, dan berpisah menuju kereta masing2 .....

Kebahagiaan apa yang tidak mereka rasakan dengan kehidupan seperti ini di Ryogoku?

Mereka adalah anak2 remaja dan pemuda harapan masing2 negara mereka. Dan aku sangat beruntung, Michelle adalah salah satunya, yang berada di dalamnya sebagai pemuda harapan Indonesia ......

By Christie Damayanti

Sebelumnya :

Menikmati Kehidupan di Ryogoku

"Ryogoku", Dunia Pesumo Sejati Jepang

Travelling di Jepang adalah 70% Kereta

Dari Kinshicho ke Funahabashi Hoten
Mencoba Berbagai Moda Transportasi Keliling Tokyo

Sendirian, Keliling Tokyo Hanya dengan Kursi Roda 'Ajaibku'

Funabashi, "Kota Belanja" untuk Turis yang Tidak Siap dengan Harga Mahal Jepang

Funabashi, Konsep Kota Ideal 

Beranjak ke Kota Funabashi

Bukan Sekedar Berkuda di Funabashi Hoten

"Aku Ingin Tinggal di Rumah Nobita, yang Ada Doraemon", dan [Hampir] Menjadi Kenyataan

"Negeri Impian" Funabashi Hoten 

Sekali Lagi, Mengapa Funabashi Hoten?

'Funabashi-Hoten', Kota Kecil Awal Sebuah Kemandirian

Denyut Kehidupan di Nishi Funabashi sebagai "Kota Transit"

Awal Perjuangan untuk Menaklukan Jepang di Nishi Funabashi

'Nishi Funabashi', Sebuah Kota Kecil Tempat Hatiku Berlabuh

Mengapa Chiba?

Sebuah Negara dari 'Antah Berantah' dengan Bahasa dan Tulisan Cacingnya, Duniaku yang Baru .....