Christie Damayanti
Christie Damayanti karyawan swasta

Just a stroke survivor & cancer survivor, architect, 'urban and city planner', author, traveller, motivator, philatelist, also as Jesus's belonging. http://christiesuharto.com http://www.youtube.com/christievalentino http://charity.christiesuharto.com

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Denyut Kehidupan di Nishi Funabashi sebagai "Kota Transit"

11 Januari 2018   09:57 Diperbarui: 11 Januari 2018   10:33 885 1 0
Denyut Kehidupan di Nishi Funabashi sebagai "Kota Transit"
Nishi Funabashi, sebuah "kota transit", pertemuan 5 perlintasan kereta di Chiba. Dokumentasi pribadi

By Christie Damayanti

Sedikit pengamatanku di Nishi Funabashi, sepertinya kota ini menjadi semacam "kota transit", tempat pertemuan beberapa perlintasan kereta Chuo-Sobu Line, Musashino Line, Keiyo Line, Tokyo Metro Tozai dan Toyo Rapid Railway Line.Pertemuan ke-5 lintasan kereta ini menjadi Nishi Funabashi cukup padat sebagai kota transit di distrik Chiba.

Jadi, jika aku dan Michelle dari Funabashihoten mau ke Ryogoku sekolah Michelle di Tokyo, kereka akan berhenti dulu di Nishi Funabashi, pindah kerera dengan lintasan ke Ryogoku. Sehingga walau kota Nishi Funabashi kecil, stasiunnya cukup padat. Kelima lintasan kereta itu adalah dari pemukiman padat di daerah Chiba.

Sebagai kota transit, Nishi Funabashi punya berbagai fasilitas. Selain yang sudah aku jelaskan di artikelku sebelumnya, kota ini padat juga dengan hotel "kelas melati", resto, cafe dan pub. Dan karena Jepang umumnya dan Nishi Funabashi khususnya adalah daerah yang "kecil", maka fasilitas2 ini pun kecil2.

Dokumen pribadi
Dokumen pribadi
Stasiun Nishi Funabashi di sisi kota dan fasilitas serta di sisi pemukiman. Sumber: Dokumen pribadi
Stasiun Nishi Funabashi di sisi kota dan fasilitas serta di sisi pemukiman. Sumber: Dokumen pribadi
Bahkan di Tokyo saja sebagai ibukota negara, resto dan cafe di sisi jalan, sangat mungil, apalagi di Nishi Funabashi. Desain minimalis serta konsep idealis sebagai kota tang memuliakan manusia, merupakan konsep nasional. Dimana siapapun berhak untuk mendapatkan semua fasilitas2 yang diberikan oleh negara.

Kota Nisi Funabashi dan fasilitas2nya untuk sebuah kota transit dan tempat bermukim warga Jepang, yang sebagian tetap bekerja di Tokyo. Dokumen pribadi
Kota Nisi Funabashi dan fasilitas2nya untuk sebuah kota transit dan tempat bermukim warga Jepang, yang sebagian tetap bekerja di Tokyo. Dokumen pribadi
***

Tetapi ..... ya itu tadi. Dengan desain minimalis serta konsep idealis, kota Nishi Funabashi seakan membius siapapun yang datang. Kota ini punya jalan2 lingkungan mungil, tetapi penuh dengan tawa ria lewat kuliner. Hampir semua resto dan cafe menawarkan makanan Jepang seperti ramen, udon, ricebowl serta sushi dan sashimi. Tidak satupun aku melihat makanan2 asing. Ya ..... Jepang adalah salah satu negara yang sangat bangga dengan kemanpuannya sendiri!

Dokumen pribadi
Dokumen pribadi
Resto, caf dan bar serta pub, banyak sekali disana. Sebagai kota transit,pemerintah kota mampu menaungi semua orang (khususnya warga Jepang), untuk memenuhi berbaai fasilitas. Jika mereka butuh menunggu kereta dan masih lama, mereka bisa melakukan berbagai hal disini. Minimal makan atau hanya sekedar minum2.

***

Ahhh ..... ada 1 resto asing yaitu Mc Donald. Tapi sepertinya tidak banyak yang datang. Palingan, yang datang adalah anak2 muda Jepang atau anak2 muda asing yang tinggal atau belajar disini. Pun tidak banyak .....

Dokumen pribadi
Dokumen pribadi
Ada "Mc Donald" dengan tulisan latin. Bukan resto, tetapi hanya counter pesanan saja.Mereka biasanya justru membawa burger keluar dan makan sambil jalan.

***

Sepanjang jalan dengan lini "grid", resto, cafe dan pub silih berganti. Menu2 mereka terpampang di depan. Nama dan promosi2 nya di tempelkan di kaca pintu dan dindingnya. Seru. Heboh. Dan berwarna warni. Khas Jepang!

Tidak ada satupun tulisan latin, kecuali tulisan resto "Mc Donald". Semua huruf hiragana, katakana serta kanji. Yang membuat wisatawan agak "gerah" karena tidak bisa membaca, apalagi berbicara! Bisa keriting, aku .... Hihihi ......

Tiap resto, cafe ataupun pub, sangat mungil. Untuk sebuah kursi roda ajaibku, sangat tidak mampu menampungnya. Antar meja, hanya sekedar berjalanpun cukup sulit karena jaraknya hanya sekutar 40 cm atau 50 cm saja. Bagaimana kursi roda ajaibku yang lebarnya hampir 100 cm, mampu menerabasnya? Belum lagi, hampir semua meja (dan kadang2 dengan kursinya) di paten kan di atas lantai. Jadi tidak bisa digeser2. Kursinya banyak yang tinggi seperti kursi bar, sehingga aku semakin susah untuk duduk.

Dokumen pribadi
Dokumen pribadi
Meja dan kursi yang dipantenkan di atas lantai dan tidak bisa digeser. Jarak antara meja dan meja, hanya cukupuntuk orang berjalan saja, pun sangat sempit. Jadi, kursi rodaku tidak bisa di dalam resto.Dan ini hampir di semua resto disana.

***

Dan untuk bisa makan disana, kursi rodaku harus di tinggal di luar bangunan, karena sepertinya konsep bangunan2 itu adalah tanpa foyer dan tidak bisa menyimpan atau menitipkan kursi roda ajaibku disana. Bangunan2 khas minimal dan konsep fungsionalis, di negara kecil berteknologi ......

****

Bersebelahan dengan itu semua, stasiun Nishi Funabashi menjadi urat nadi perjalanan kehidupan kota ini. Juka di area resto, cafe dan pub adalah area orang2 yang mencari kesenangan dalam kota transit ini, beda dengan stasiunnya.

Jepang punya pusat nadi dan degub jantung adalah STASIUN KERETA. Karena semua kehidupan warga Jepang adalah kereta. Dengan mahalnya kendaraan lewat bensinnya, kereta menjadi satu2nya transportasi umum yang murah dan cepat. Dan stasiun kereka adalah sebagai 'induk'nya yang mengayomi semuanya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2